MASUKNYA CACAR MONYET DI INDONESIA : PEMERINTAH KURANG TANGGAP

Oleh : Susi Ummu Musa
(Aktivis dakwah Sumut) 

Belum hilang diingatan kita saat pandemi covid-19 melanda dunia selama hampir dua tahun, jutaan manusia telah lenyap karena ganasnya covid-19 serta dampak yang terjadi sungguh luar biasa.

Ekonomi dunia mengalami goncangan sehingga menambah sulitnya kehidupan masyarakat hingga kini masih menyisakan kekhawatiran bagi banyak orang akibat dampak yang terjadi.

Dan baru baru ini terjadi lagi adanya virus cacar monyet yang cukup banyak terjadi dibeberapa negara dan sudah masuk di wilayah Indonesia. Masuknya cacar monyet ini baru diumumkan akhir Agustus lalu padahal Cacar monyet berstatus darurat kesehatan global sejak Sabtu (23/7/2022) lalu oleh World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia.

Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, cacar monyet memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai keadaan darurat lantaran sudah terjadi di lebih dari 70 negara.

"Kami memiliki wabah yang telah menyebar ke seluruh dunia dengan cepat melalui mode penularan baru yang kami pahami terlalu sedikit dan yang memenuhi kriteria dalam peraturan kesehatan internasional," kata Tedros dikutip dari Associated Press (AP).

Meskipun cacar monyet tidak terlalu berbahaya seperti covid-19 dan jika ada yang terjangkit virus cacar monyet karna bersentuhan, tidur bersama, berpelukan atau dengan benda benda yang terkontaminasi virus seperti selimut, handuk dan lain lain maka jangan panik segera diobati dan sebenarnya virus cacar Monyet ini bisa sembuh sendiri atau self limiting disease dalam masa inkubasinya yang 21 sampai 28 hari. 

SEJARAH VIRUS CACAR MONYET ATAU MONKEY POKS

Kasus pertama pada manusia teridentifikasi tahun 1970 di Zaire, yang sekarang adalah Republik Demokratik Kongo. Yakni ditemukan pada anak laki-laki berusia 9 tahun.
Cacar monyet menjadi endemik di wilayah Afrika Tengah dan Barat, 11 negara melaporkan menemukan kasus itu. Virus itu ditularkan lewat kontak dekat dengan hewan terinfeksi yang kebanyakan pengerat atau berasal dari manusia.

Saat itu penyakit cacar monyet ditemukan di luar Afrika yaitu Amerika Serikat (AS). Diyakini berasal dari hewan pengerat yang diimpor ke negara itu dari Ghana, menginfeksi anjing padang rumput.

Kala itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS melaporkan 87 kasus. Namun tidak ditemukan kasus meninggal akibat penyakit ini.

Apapun itu terkait virus yang berbahaya atau tidak disini dibutuhkan peran negara yang harus gerak cepat untuk memastikan setiap penduduk negri ini jangan sampai tertular.

Namun sangat disayangkan kita sebagai rakyat tidak mendapatkan itu, padahal cacar monyet berstatus darurat kesehatan global sejak Sabtu (23/7/2022) lalu oleh World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia. 

Ketidaksigapan para pemimpin negeri
yang hari ini diberi amanah tidak menjalankan fungsi mereka dengan baik alhasil rakyatlah yang menjadi korban lambatnya kerja pemerintah.

BAGAIMANA DILIHAT DARI KACAMATA ISLAM

Tentu setiap peristiwa yang pernah ada dibelahan bumi ini akan berulang, begitu juga dengan sebuah keadaan terkait penyakit yang menimpa manusia baik itu virus ataupun yang lainnya Allah SWT pasti memberikan obatnya .
Seperti disebutkan dalam hadits:

"Ma’anzalallahu daa an, illa anzala lahu syifaan," (HR. Bukhori), artinya "Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya".

Tapi disini yang menjadi perhatian bagaimana cara Islam mengatasinya jika terjadi suatu penyakit menular sehingga tidak tersebar luas, yang jelas peran negara Sepatutnya memberi perlindungan melalui treatmen terhadap pelaku perjalanan dari LN, edukasi yang utuh tentang penyakit ini dan memberikan perawatan memadai untuk penderita sesuai ketentuan syariat.

Sebagaimana dahulu masa Rasulullah SAW pernah menghadapi suatu wabah penyakit kusta.
Dalam mengindari wabah kusta yang terjadi, Rasulullah memberikan solusi untuk menghindari wilayah yang terkena wabah dan tetap berada di wilayah tempat kita tinggal. 
Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari, 
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.

Tindakan dan reaksi cepat yang diperlukan dalam menangani penyakit tentu tidak terlepas dari tanggap nya seorang pemimpin yang cerdas dan penuh tanggung jawab. Dan ini yang dibutuhkan oleh umat saat ini.
Semoga kita segera bertemu dengan pemimpin yang selama ini kita rindukan yaitu pemimpin yang menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bissawab
banner zoom