Kegagalan Peserta Didik Ulah dari Sekularisme Pendidikan

Oleh : Erna Nuri Widiastuti S.Pd

Menumpuknya masalah kehidupan dan beban-beban kebutuhan menjadi salah satu sebab terjadinya berbagai tindak kekerasan. Masalah ini tidak hanya berdampak pada orang tua yang sibuk untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya seperti makan, tempat tinggal, kesehatan juga termasuk pendidikan dan lain-lain.

Namun hal ini juga berdampak pada anak usia sekolah yang bahkan dampaknya sampai berujung pada kematian. Gagalnya pendidikan menciptakan alih-alih generasi tangguh malah menciptakan generasi hedonis yang termakan oleh tren-tren yang tidak berfaedah dan malah menjauhkannya dari memahami eksistensi keberadaan dirinya.

Sungguh miris sebagaimana hal yang menimpa peserta didik kita dinegeri ini, dikabarkan oleh Hops.ID (13/7/22) bahwa "Jadi gini, adik gue kemarin ngide, Jika dia keterima di UGM, dia bernazar akan memberikan bantuan santunan kepada anak yatim, sedagkan jika tidak diterima, ia akan suicide (bunuh diri)."

Hal serupa juga terjadi oleh anak yang berinisial BH, dikutip dari Kompas.com bahwa “Dia diajak ngomong baru nyambung. Katanya kuliah 7 tahun enggak lulus-lulus. Ngajukan skripsi ditolak terus sama dosennya. Sehingga dia diduga stres akhirnya bunuh diri,” tutur Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi.

Dari kutipan ini telah memberikan kita gambaran karakteristik peserta didik yang lemah ilmu dan juga lemah mental dalam menghadapi situasi yang dihadapinya, inilah cetakan generasi dari pendidikan sekuler kapitalistik yang mengejar nilai-nilai tertentu seperti manfaat dan untuk belaka tanpa memandang apa tujuan dari pendidikan yang sesungguhnya.

Hal ini diperparah dengan banyaknya gambaran kehidupan hedonis yang ditawarkan oleh media serta gaya hidup yang liberal, menjadikan generasi kehilangan identitas atas dirinya dan hanya fokus mengejar eksistensi keberadaan dirinya tanpa memandang bahwa jalan yang ditempuhnya itu telah tepat ataukah belum. Maka disinilah kita membutuhkan dasar yang kuat sebagai pegangan apalagi sebagai generasi pelanjut ditengah-tengah masayarakat dimana pundak mereka tertanam harapan besar sebagai generasi yang akan mampu melakukan perubahan atas kesempitan hidup yang dialami masyarakat untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.
Inilah potret kehidupan generasi yang tidak tertanam keimanan yang kuat dalam hidupnya serta terpukaunya kita dengan budaya barat yang merusak generasi. Sehingga masalah yang harusnya memiliki jalan keluar malah berakhir dengan keputusan yang riskan. 

Masalah ini bukan lah masalah yang bisa dibiarkan begitu saja karena hal ini akan berpengaruh dengan kualitas dari para peserta didik sehingga perlu diperhatikan dan harus segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut dengan pembiaran atas masalah tersebut.

Akan jauh berbeda ketika hal ini ditangani dengan cara islam dalam menyelesaikan persoalan pendidikan, karena sejatinya islam dalam mendidik garasi diupayakan padanya tertanam aqidah yang kuat dan tercipta kepribadian islami yang akan dipegangnya sampai akhir hidupnya dengan harapan generasi akan mampu menyandarkan segala sesuatunya dengan standar islam yang semata-mata mereka melakukan perbuatan itu karena tuhannya bukan karena materi atau keuntungan belaka. Sehingga tidak akan timbul kekecewaan yang sampai membuatnya depresi, stres sampai bunuh diri karena tidak sesuai dengan harapannya.

Inilah salah satu peran negara dalam memfasilitasi pendidikan dinegeri ini dengan asas yang benar bukan sekedar labeling dan hanya menciptakan robot pekerja dari pendidikan. Sehingga tercipta generasi yang paham akan keberadaan dirinya sebagai makhluk yang diciptakan serta paham tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukannya.

Seperti itulah cara islam menyelesaikan masalah sehingga tak berlarut dan malah berkembang tahap yang lebih buruk lagi sehingga jelas penjagaan dan pengurusannya atas generasi yang tidak hanya cukup hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga mendidik mereka agar mampu menjadi pribadi-pribadi yang mulia dengan tujuan karena Allah Swt. 
Hal ini tidak bisa kita rasakan pada saat ini karena aturan dan pola kehidupan yang kita jalankan dinegeri ini yang merujuk pada budaya barat yang liberal.

Kebebasan berperilaku menjadi salah satu asas kebebasan yang dipegang dan HAM sebagai payung hukum untuk membenarkan perilaku yang merusak tadi terus berlanjut. 

Maka dari itu sebagai kaum muslim kita harus bersatu demi mewujudkan kembalinya islam sebagai pengatur kehidupan sebagai solusi tuntas dari permasalahan yang kita hadapi saat ini. 

Wallahua'lam bissawab.
banner zoom