AKIBAT PENDIDIKAN SEKULER, MENTAL GENERASI MUDAH LUMER

Oleh : Ade Rosanah

Akhir-akhir ini kasus bunuh diri yang menimpa pelajar mulai merebak. Salah satunya adalah kasus bunuh diri yang terjadi pada seorang pelajar di Semarang gara-gara gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kabar ini dibagikan oleh akun Twitter @utbksfess, sekaligus akun pengirim yang merupakan kakak pelaku bunuh diri. 

Pengirim menyatakan bahwa adiknya memiliki nazar jika adiknya lolos masuk PTN, maka adiknya akan memberi santunan kepada anak yatim. Akan tetapi, jika adiknya tidak diterima masuk PTN yang diidamkan, maka adiknya bernazar akan bunuh diri. Untuk itulah kakaknya membagikan kabar tersebut karena mencemaskan adiknya yang menghilang setelah mendapat kabar bahwa adiknya tidak lolos masuk PTN yang diidamkan.

Setelah beberapa jam kemudian, ada kabar dari yang mewakili kakak pelaku bunuh diri bahwa adik temannya itu sudah meninggal dengan cara bunuh diri. Pelaku mengakhiri hidupnya dengan cara meminum alkohol hingga over dosis dan minum obat-obatan dari psikiater. 

Namun ternyata, alasan bunuh diri mahasiswi tersebut bukan hanya sekedar disebabkan tidak lolosnya ia masuk ke Universitas. Namun, pelaku pun mendapat dorongan untuk melakukan bunuh diri dari sang pacar. Sebab, pacar almarhumah sering melakukan kekerasan verbal kepadanya hingga mendorong pelaku untuk mengakhiri hidupnya. Bukti itu terekam jelas dalam percakapan whatsapp antar almarhumah dengan pacarnya, (Hops.ID, 13/7/2022).

Sementara, kasus bunuh diri seorang siswa lain pun muncul. Kali ini menimpa seorang mahasiswa berinisial BH. Mahasiswa tersebut nekat bunuh diri dengan cara gantung diri. Menurut kakak angkat BH yang berinisial RD, pelaku pernah mengeluh skripsinya selalu ditolak dosen. Sehingga selama 7 Tahun Ia Kuliah tetapi belum Juga Lulus. Kemungkinan hal itu yang membuat pelaku stres dan akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya, (KOMPAS.com, 15/7/2022).

Sungguh pilu dan miris atas berita bunuh diri yang terjadi pada dua siswa tadi. Betapa gampang terpukulnya mereka ketika apa yang mereka inginkan tidak sesuai dengan harapan. Mereka tidak bisa menerima dan menghadapi persoalan yang terjadi. Padahal usia mereka masih muda dan berpendidikan. Masa depan yang akan mereka lalui sebenarnya masih panjang namun sayang cara berpikir mereka begitu pendek.

Betapa lemah dan rapuhnya mentalitas jiwa generasi saat ini, mudah terguncang, emosi yang meluap-luap tanpa berpikir sehat. Ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi yang belum stabil dalam jiwa pemuda membuat mereka rentan mengalami inferiority complex. Sehingga, tindakan bunuh diri menjadi jalan pintas ketika pemuda menghadapi inferiority complex dalam hidupnya. Mereka memilih melepaskan nyawa sekaligus meninggalkan masa depan ketimbang harus bangkit dan berjuang kembali untuk meraih apa yang dicita-citakan.

Namun selain dari faktor individual yang membuat generasi yang lemah, ternyata ada faktor utama yang menjadi pemicu seseorang gampang untuk bunuh diri. Faktor tersebut ialah sistem hidup yang diterapkan saat ini yakni kapitalisme-sekuler. Di mana penerapan sistem kapitalisme di sebuah negara akan secara otomatis memengaruhi sistem pendidikannya, sistem sekularisme ialah sebagai landasan sistem pendidikan saat ini.

Sistem pendidikan sekuler-kapitalislah yang menjadikan generasi saat ini jauh dari aturan agama. Peran agama tidak dilibatkan dalam membentuk karakter generasi. Akhirnya sistem pendidikan ini menghasilkan generasi yang matrealistik dan liberalis karena sesuai dengan tujuan pendidikan kapitalis yaitu memproduksi generasi menjadi bagian dari barisan pekerja yang dapat menghasilkan profit. Harta dan materi menjadi tolok ukur keberhasilan dari seorang siswa. 

Maka, standar pendidikan kapitalisme membuat siswa penuh dengan tekanan yang disebabkan syarat akan eksploitasi di dalamnya. Mental mereka menjadi rapuh dan lemah ketika mereka gagal secara akademis yang juga akan menghambat dalam pencapaian materi. Hidupnyapun menjadi gelisah dikarenakan sumber kebahagiaannya tidak bisa mereka raih.

Tekanan hidup dalam sistem kapitalisme sungguh menyulitkan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Mengikuti pola hidup kapitalis, cepat atau lambat akan membuat seseorang mudah depresi dan menyerah begitu saja ketika apa yang mereka mimpikan tidak menjadi kenyataan. Bahkan, mereka mudah mengalihkan ke berbagai hal negatif. Rela berbuat apapun tanpa mengindahkan dosa ataukah tidak dalam perbuatannya. Sebab, tidak adanya keterikatan dirinya dengan hukum syarak. 

Salah satunya sucide (bunuh diri) yang dilarang dalam agama. Bunuh diripun marak dilakukan baik dari kalangan pelajar ataukah selainnya. Dari sini kita dapat rasakan bahwa dengan maraknya kasus pelajar yang bunuh diri merupakan kegagalan sistem pendidikan kapitalis sekuler dalam mencetak generasi bermental dan berkepribadian kuat. 

Langkah-langkah revolusioner saat ini mestinya segera dilakukan guna mencegah meledaknya angka bunuh diri pada pelajar yang tidak lain dikarenakan mereka memiliki mental yang lemah. Mulai mengubah sistem pendidikan dan kurikulum yang digunakan. Sebab pendidikan sangat berkaitan erat dengan pembentukkan mental dan kepribadian generasi.

Perubahan menyeluruh dalam dunia pendidikan dapat dilakukan hanya dengan satu-satunya cara yaitu dengan Islam. Artinya, kembali kepada aturan Islam yang sudah diturunkan sang Ilahi kepada manusia guna mengatur dan menjadikan aturan tersebut sebagai pemecah problematika kehidupan manusia. 

Penerapan sistem pendidikan Islam akan memiliki keunggulan di segala sisi. Kurikulum pendidikannya akan bersandar pada dua hal yaitu, membangun kepribadian, mentalitas dan karakter Islam berasaskan akidah Islam. Mempersiapkan generasi menjadi pemimpin serta menghasilkan karya untuk kemaslahatan umat.

Pokok pembelajarannya bukan hanya sekadar transfer ilmu saja. Melainkan belajar ilmu untuk dipraktikan. Mesti ada perubahan perilaku peserta didik yaitu dengan mengimplementasikan ilmu-ilmunya melalui amal di kehidupan sehari-harinya. Menguasai tsaqofah Islam dan ilmu kehidupan (ilmu umum dan teknologi). Sehingga terbentuklah generasi berkarakter Islam. Bukan hanya unggul dalam urusan agama tetapi mumpuni juga di bidang lainnya. Generasi yang hatinya kukuh di atas kebenaran, percaya diri, teguh pada kewajiban-kewajiban dan membenci segala jenis kemaksiatan. Sumber kebahagaiannya terletak pada ridho Allah swt..

Generasi tangguh seperti itulah yang diharapkan para orang tua dan bangsa ini. Dengan mental dan karakter mereka yang kuat mampu menghadapi berbagai permasalahan hidup. Selain itu peran negara pun sangat dibutuhkan karena memiliki andil besar untuk pembentukan karakter generasi. Negara menyediakan fasilitas dan pelayanan pendidikan gratis yang berkualitas agar dapat memudahkan semua kalangan untuk mengaksesnya. Sebab pendidikan merupakan hajat pokok publik yang mesti ditunaikan negara.

Dalam kitab muqodimah ad-Dustur "Khilafah wajib menjamin pemenuhan semua kebutuhan pokok seluruh warga negara, orang perorang dengan pemenuhan yang sempurna,...". Maka, seperti itulah seharusnya tugas negara, memberikan jaminan berupa pendidikan, kesehatan, keamanan dan hajat publik lainnya secara gratis dengan sarana dan prasarana kualitas terbaik. Tidak secara asal-asalan dalam mengurusi rakyat. 

Namun hal yang demikian hanya dapat terwujud dalam negara yang menerapkan aturan Islam secara komprehensif di seluruh aspek kehidupan. Mengadopsi ideologi Islam yaitu institusi Khilafah Islamiyah. Sebab sejarah membuktikan bahwa pendidikan dalam naungan khilafah mampu mencetak generasi yang tangguh.

Wallahu'alam.
banner zoom