Penghargaan API Award, Akankah Mensejahterakan Daerah

Oleh : Sulastri (Pegiat Literasi)

Sebanyak enam daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) masuk dalam 10 besar nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2022 dari berbagai macam kategori. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh panitia penyelenggara, Ayo Jalan Jalan Indonesia secara virtual pada Senin (9/5/2022).

Chairman of Anugerah Pesona Indonesia, Hiro Kristianto mengatakan, pada penyelenggaraan tahun ini, pihaknya menerima banyak masukan dari 34 provinsi dan 135 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, kemudian dilakukan kurasi oleh pihak penyelenggara hingga menyisakan 10 daerah dari setiap kategori.

“Pemilihannya melalui proses seleksi, awalnya oleh panitia dilakukan kurasi, kemudian baru ditentukan sebagai nominasi pada rapat komite seleksi,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk menentukan pemenang API Award 2022, pihaknya akan membuka voting mulai dari 1 Juni hingga 31 Oktober 2022 mendatang dengan menggunakan saluran seperti short message service (SMS), video YouTube API Award, feed Instagram, serta Facebook (Kendariinfo.com 13 Mei 2022).

Dengan masuknya 6 daerah di Sultra dalam nominasi Award ini mungkin masyarakatnya bisa sedikit berbangga. Namun disisi lain, apalah artinya sebuah penghargaan jika kondisi masyarakat secara umum belum bisa dikatakan sejahtera, karena masih banyak persoalan umat yang belum terselesaikan, bahkan cenderung bertambah parah.

Maraknya begal, tindak kriminalitas semisal teror busur yang masih menjadi PR untuk daerah Sultra. Belum lagi banyaknya jalanan rusak yang masih menjadi pemandangan buruk di daerah ini, masalah stunting yang tak kunjung usai, kurangnya sarana dan prasarana di beberapa sekolah dan masih banyak lagi persoalan lainnya yang tak sempat terekspos  media.

Penghargaan  API ini, digadang-gadang menjadi ajang bergengsi untuk meningkatkan dan memajukan, serta menjadi suatu tolak ukur kesejahteraan suatu daerah. Namun, kenyataannya penghargaan tersebut tidak membawa dampak yang signifikan terhadap kemajuan suatu daerah.

Di pihak lain target capaian tersebut dibangun dengan paradigma kapitalistik, berasas manfaat, sehingga secara nyata membela kepentingan para pemodal. Akibatnya daerah daerah yang nantinya menjadi pemenang hanya akan dieksploitasi untuk kepentingan mereka, dan hak warganya pun hanya tinggal janji.

Slogan "Daerah Pemenang Award"pun tidak membuat warganya menjadi sejahtera dan terpenuhi kebutuhan dasarnya, karena hanya menjadi alat untuk mencapai target para kapitalis, yakni menyiapkan daerah tersebut menjadi “mesin produksi” untuk memenuhi kebutuhan perputaran dan pertumbuhan ekonomi yang menjadi nyawa kapitalisme.

Selain itu, adanya berbagai program-program global yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu negara dalam hubungan internasional adalah wajah kapitalisme yang lain.

 Bisa jadi program-program tersebut “mengikat” suatu negara untuk mengikuti langkah-langkah yang sudah disusun lembaga global. Padahal, langkah tersebut belum tentu sesuai dengan kondisi tiap negara, bahkan bisa jadi bertentangan dengan pandangan hidup suatu bangsa.

Harusnya yang menjadi fokus perhatian pemerintah saat ini adalah, bagaimana mensejahterakan rakyat. Dengan tidak mempersulit urusan rakyat, dan terpenuhinya hajat hidup masyarakat dengan mudah dan terjangkau.

Menurut Islam, sebuah kemajuan suatu daerah  tidak bisa terukur hanya dengan disematkannya sebuah penghargaan. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana sebuah daerah mampu mensejahterakan masyarakatnya serta mampu menjadikan peradaban manusia yang berkarakter baik, cerdas, dan berkepribadian mulia.

Maju dan mundurnya peradaban sebuah negara sejatinya bisa kita lihat dari ideologi apa yang mereka anut. Jika menganut ideologi kapitalisme sekuler maka bisa dipastikan kemajuannya hanyalah semu karena gagal membangun peradaban yang menghasilkan masyarakat yang berbudi luhur dan bermoral tinggi.

Jika ingin menjadi negara maju dan berperadaban mulia, maka negeri ini haruslah hanya berharap kepada Islam. Karena Islam lah satu-satunya ideologi yang mampu mengakomodasi setiap kebutuhan dan harapan bagi umat manusia, yaitu mewujudkan nilai keadilan, kesejahteraan, keharmonisan, kecerdasan, dan ketinggian moral. Belum pernah ada peradaban manapun yang menyamai kegemilangan dan kesuksesan Islam sebagai peradaban yang berkuasa selama 13 abad lamanya.

wallahu'alambishawab.
banner zoom