Ikhtilat Merajalela, Kapitalisme Biang Keladinya

Oleh : Syifa Islamiati

Sob, pastinya pernah melihat kan laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom kumpul-kumpul? Di jalanan atau di suatu tempat nongkrong, gitu? Sering atau sering banget? Fenomena ini bukan sesuatu yang aneh di zaman now. Justru katanya jika tidak kumpul-kumpul dibilang kampungan, tidak mengikuti trend, sok alim dan sebagainya.

Setuju tidak, sob, dengan pernyataan di atas? Sebelumnya, yuk kita kupas dulu apa sih ikhtilat itu? Nah, ikhtilat artinya berbaur/bercampur, yakni berkumpulnya laki-laki dan perempuan (yang bukan mahrom) pada suatu tempat secara campur baur, dan terjadi interaksi di antara mereka.

Bahaya tidak sih perbuatan ikhtilat tersebut? Sudah tentu bahaya, dong. Justru lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Bahkan Islam pun melarang keras terjadinya perbuatan ikhtilat, karena sudah tentu masuk ke dalam perbuatan maksiat. Eits, perbuatan maksiat itu banyak jenisnya ya, sob. Tidak hanya ikhtilat saja. Di antaranya saling bertatap mata, pegang-pegangan tangan, saling melempar canda yang jelas-jelas bukan kepada pasangan halalnya. 

Nah, kembali ke pembahasan di atas. Bahwa pada sistem rusak saat ini, kita sudah terlalu sering bahkan setiap saat disajikan dengan pandangan perbuatan ikhtilat tersebut. Di mana-mana terjadi ikhtilat sampai berakhir pada perzinahan. Mirisnya tidak hanya terjadi pada kalangan dewasa saja, remaja bahkan anak-anakpun biasa melakukannya.

Hal tersebut dianggap lumrah karena tidak adanya junnah bagi rakyat untuk mengontrol setiap perbuatan mereka. Lalu akan seperti apa generasi bangsa ini jika terus didiamkan melakukan hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat? Di sinilah peran kita sesungguhnya sebagai pengemban dakwah, yakni mendakwahkan kepada masyarakat tentang bahayanya perbuatan ikhtilat.

Karena jika tidak dihentikan, maka hal tersebut akan tumbuh subur di kalangan masyarakat. Terlebih masyarakat dan generasi yang awam terhadap ajaran-ajaran Islam. Tidak bisa dipungkiri, sering kita saksikan bahwa mereka seolah sengaja dijauhkan dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Mereka digiring mengikuti trend ala barat yang modern dan fashionable.

Iiih ... ngeri ya sob, bukan hanya penampilan yang mereka rubah, tapi juga pemahaman tentang Islam dirubah menjadi pemahaman yang diadopsi dari Barat. Dan mirisnya negara mendukung ide-ide Barat masuk ke tengah-tengah masyarakat hari ini. Yang mana sebagian besar generasi bangsa ini adalah umat Islam. Tidak ada tindakan apapun yang dilakukan negara untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa yang semakin hari semakin rusak.

Tata aturan yang diterapkan dalam sistem kapitalisme jelas berbeda dengan yang diajarkan dalam Islam. Jika dalam kapitalisme pergaulan dibiarkan bebas sebebas-bebasnya, maka tidak heran jika banyak pemberitaan tentang kasus pelecehan seksual hingga praktik aborsi terjadi. Nah, dalam Islam justru pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur secara sempurna agar manusia menjadi bermartabat dan terhormat. InsyaaAllah kecil kemungkinan akan terjadi pelecehan terhadap perempuan. Kalau pun ada, sanksinya tegas.

Maka dari itu, sudah seharusnya negara hanya menerapkan satu-satunya sistem yang bersumber dari Allah Swt. yaitu sistem Islam. Karena Islam sungguh bukan hanya sebagai agama ritual semata tetapi juga sebagai sistem yang dapat mengatur kehidupan masyarakat. Dengan Islam, tidak akan ada yang melakukan perbuatan ikhtilat dan masyarakat akan selamat dunia dan akhirat. Allahu Akbar.
banner zoom