Ayah Kasar : Buah Cipta Sistem Buatan Kaum Kuffar

Oleh : Syifa Islamiati

Seorang ayah sejatinya adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia seharusnya menjadi panutan yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Senantiasa menyayangi istri dan anak-anaknya. Melindungi mereka di manapun berada. Serta selalu berusaha hadir di setiap kondisi suka maupun duka.

Tetapi hari ini tidak lagi nampak peran ayah seperti pernyataan di atas. Ayah yang sering kita temukan hari ini kebanyakan adalah sosok ayah yang tempramental, kasar, jauh dari rasa kasih sayang terhadap istri dan anak-anaknya. Dan lebih dari itu, bahkan sampai tega menyakiti hingga menghilangkan nyawa darah dagingnya sendiri. Naudzubillah.

Seperti kasus beberapa waktu lalu yang terjadi di Sulawesi Utara. Seorang ayah tega menendang kepala putrinya yang berusia 4 tahun karena kesal sering dimarahi istrinya jika pulang dalam keadaan mabuk. Berawal dari pertengkaran kedua orang tuanya, hingga anak perempuan mereka menjadi korbannya. (detik.com, 22/1/2022)

Selanjutnya kasus sang ayah yang tega memperkosa anak kandungnya yang sedang sakit. Awalnya kedua orang tuanya bercerai dan ia ikut tinggal bersama ibunya. Lalu sang anak main ke kost ayahnya. Karena ayahnya kecanduan menonton film-film porno, akhirnya anaknya sendiri menjadi korban nafsu birahinya. Dan itu terjadi berkali-kali hingga sang anak tewas. (detiknews.com, 27/4/2022)

Ada lagi kasus yang baru-baru ini terjadi di Sumatra Utara. Seorang ayah yang tidak punya hati tega membanting anaknya yang baru berusia 2,8 tahun karena merasa terganggu saat sedang tidur. Berawal dari sang anak yang sedang tidur bersama ayahnya lalu tiba-tiba terbangun dan muntah-muntah. Dengan tega sang ayah membantingnya ke lantai hingga meninggal. (detiknews.com, 1/5/2022). Dan sederet kasus pilu lainnya yang tidak kalah sadisnya.

Mengapa nyawa manusia hari ini sangatlah tidak berharga? Hanya karena hal sepele seorang ayah tega-teganya menganiaya bahkan menghilangkan nyawa darah dagingnya sendiri. Sungguh sangat menyayat hati. Anak yang seharusnya dilindungi, dijaga, dirawat, dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang malah disia-siakan, diabaikan, dikasari, dan dianiaya.

Tidak heran memang jika banyak kaum ayah hari ini yang menyerupai monster bagi anak-anaknya. Serta akan terus tercipta sosok ayah seperti yang telah disebutkan di atas, selama sistem yang dianut oleh suatu negara adalah sistem buatan kaum kuffar. Yaitu sistem yang berlandaskan atas pemisahan agama dari kehidupan hingga membuat seorang ayah tercerabut fitrahnya.

Bukan hanya itu, akibat dilegalkannya miras, pornografi, dan sebagainya juga membuat para ayah diperbudak oleh nafsu. Mereka tidak memahami tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Sebagai qowwam yang seharusnya melindungi anak-anaknya. Mereka berpikir bahwa hidup itu hanya untuk memuaskan nafsu belaka. Sekedar mencari kesenangan duniawi, sehingga mereka tidak paham tujuan menikah, menjadi suami lalu menjadi ayah.

Sistem saat ini jelas tidak dapat melindungi keamanan dan menjaga ketenangan jiwa generasi mendatang. Sistem ini juga yang menjadikan negara abai membiarkan generasi hidup dalam kondisi yang tidak mau terikat dengan hukum syara. Negara pun tidak benar-benar hadir menjadikan sistem pendidikan itu sistem yang membuat generasi memahami tanggung jawab yang harus dipikulnya nanti ketika ia menjadi suami dan seorang ayah.

Sanksi yang diberikan oleh negara kepada para pelaku kekerasan juga tidak sekalipun memberikan efek jera. Maka dari itu selalu bermunculan predator-predator anak, yang tidak hanya datang dari lingkungan masyarakat saja, tetapi dari lingkungan keluargapun banyak yang menjadi pelakunya. Karena mereka tidak memahami bahwa semua itu nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya di sisi Allah Swt. 

Sistem ini juga yang membuat kehidupan semakin sempit, semua serba sulit, pengangguran semakin hari semakin banyak, harga bahan pokok terus melambung naik, hingga para ayah juga dibebani dengan hidup yang luar biasa. Akhirnya membuat mereka mudah stres, mudah marah, mudah tersulut emosinya, sampai tega menyakiti buah hatinya.

Sudah saatnya kembali kepada sistem Islam. Yakni satu-satunya sistem yang bersumber dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sistem yang tidak hanya dapat melindungi anak-anak dari kekerasan, tetapi juga dapat menjadikan para ayah sebagaimana mestinya. Yaitu ayah yang melindungi anak-anaknya, ayah yang memberikan nafkah yang halal dan baik untuk anak-anaknya. Negara sudah tentu berperan penuh dalam menjaga ketenangan dan ketentraman jiwa rakyatnya. 

Di dalam sistem Islam, seluruh rakyat harus diikatkan dengan hukum syara dan memahami hukum syara. Masyarakat senantiasa beramar makruf nahi munkar. Ketika ada seorang ayah yang melakukan kesalahan terhadap anaknya, maka akan ditegur, dinasehati oleh lingkungan sekitar. Dan jika masih ada pelanggaran maka negara akan memberikan sanksi tegas. Sehingga tindak kekerasan terhadap anak, khususnya yang dilakukan oleh para ayah dapat di minimalisir. 

Dengan Islam, generasi dapat tumbuh dengan baik, dengan penuh cinta dan kasih sayang, penuh perhatian. Sehingga tercipta generasi cemerlang yang senantiasa mencintai Rabb dan Rasul-Nya. Allahu akbar! 
banner zoom