Drag Queen, Seni atau Penyimpangan?

Oleh : Silahs WD
(A Muslimah learner) 

Dalam banyak kebudayaan lokal, sebutan drag queen berbeda-beda seperti Arjen Weni di Bali, Ludruk dan Lengger di Jawa, atau Landai di Sumatera. Sedangkan di Jepang ada Kabuki, performer pria yang memakai kostum perempuan disebut Konagata. Drag sendiri adalah singkatan dressed resembling as girl, digunakan oleh William Shakespeare untuk menggambarkan para pria yang memakai kostum wanita di panggung teater. Dulu, saat perempuan tidak diperbolehkan tampil di panggung teater maka para pria diperkenankan memerankan karakter di atas panggung asalkan memakai kostum dan wig. Berdasarkan kamus Oxford, kata drag sudah ada sejak 1388, tapi baru pada abad ke-19 digunakan untuk mendefinisikan “berpakaian atau menjadi persona yang berbeda dari gender sendiri".

Awal mula berkembangnya aktivitas drag queen yaitu di Gay Pride Parades, festival perayaan komunitas lgbt di Amerika Serikat. Pelaku drag queen ini biasanya dilakukan oleh pekerja seni teater, waria atau pelaku lgbt dengan alasan mulai dari ekspresi diri, hingga profesi utama. Seiring berjalannya waktu aktivitas drag queen di ranah global semakin berkembang pesat. Contohnya di Amerika Serikat terkenal tokoh-tokoh drag queen seperti Madam Edna dan RuPaul’s Drag Race, sebuah kompetisi khusus para drag queen yang tayang di televisi dan bisa diakses streaming dengan RuPaul sendiri sebagai pembawa acaranya. Musim ke-9 Rupaul's Drag Race berhasil masuk daftar 10 episode televisi Amerika terbaik versi Time. Tahun 2018, Thailand bahkan mengadopsi acara tersebut. Disusul Inggris tahun berikutnya.

Sedangkan di Indonesia terkenal juga Raminten Cabaret Show di Yogyakarta, drag queens untuk impersonator karakter dari menari dan lip sync artis terkenal dibalut humor. Tak kalah anyar baru-baru ini dalam lansiran TribunJateng.com (25/03/22) Aming seorang artis dan komedian menyedot fokus netizen Indonesia lewat unggahan di Instagram pribadinya. Unggahan tersebut menampilkan Aming layaknya drag queen bahkan memiliki dada seperti perempuan. Reaksi netizen pun beragam ada yang kaget, memuji dan ada pula yang mencela. Selain itu, ada juga para suami pembuat konten komedi yang memakai daster, kerudung dan berbicara layaknya perempuan, tidak mau ketinggalan para pemuda pun ikut membuat tutorial make up dengan alasan seni.

Apakah benar drag queen ini seni? Laki-laki berpakaian dan berperan seperti perempuan tersebut merupakan karya keindahan yang patut dilestarikan?
Dalam ajaran Islam, tidak boleh seseorang meniru cara berpakaian atau penampilan seperti lawan jenisnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat para perempuan yang menyerupai laki-laki, dan para lelaki yang menyerupai perempuan.”

Dalam hadits lain disebutkan, “Allah melaknat perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki dan laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan.”
Larangan tersebut tak hanya berkaitan dengan persoalan busana, melainkan juga cara berjalan dan berbicara. Ini dosa besar, laknat Allah adalah ganjarannya.

Kita juga tidak bisa menampik fakta bahwa drag queen ini termasuk kampanye kaum pelangi untuk menyatakan kebebasan berekspresi dan jati diri. Mirisnya banyak dukungan tidak hanya dari kaum pelangi sendiri namun orang awam pun turut mendukungnya. Dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh drag queen yang bermunculan di Instagram, YouTube dengan views yang banyak, dan parahnya di-blow up acara tv sehingga penggemar serta komunitas drag queen makin menjamur. Pujian netizen pun  diraup oleh para konten kreator ala "drag queen" atas kemampuan bermake-up mereka dengan banyaknya like, coment serta views. Mereka tanpa sadar menganggap wajar dan mengikuti perilaku itu.  
Ketidaksadaran bahwa lelaki yang berpakaian, berperan dan berdandan layaknya perempuan atau sebaliknya ini mendapat laknat Allah.

Yups, jadi dapat kita simpulkan bahwa drag queen ini adalah penyimpangan bukan seni. Sayangnya, Indonesia yang menganut sistem demokerasi sekuler yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan serta berasaskan kebebasan ini menjadikan generasi kebablasan dalam berekspresi. Drag queen ini misalnya di samping menghasilkan uang juga menjadi ajang eksistensi. Mereka tidak paham bahwa mereka telah kehilangan jati diri, fitrahnya rusak, sehingga dapat menurunkan kehormatan manusia serta merusak tatanan kehidupan. Di jaman sekarang pencapaian tertinggi adalah terkenal di jagat maya, uang sebagai tolok ukur kesuksesan. Astaghfirullah.

Ditambah lagi negara tidak peduli bahwa akidah rakyatnya rusak karena agama yang dipinggirkan. Indonesia, negara mayoritas muslim terbesar di dunia menerima bentuk penyimpangan ini, menyebutnya sebagai bagian dari seni bahkan dijadikan profesi. Nauzubillah.

Ini adalah persoalan sistemik yang harus diselesaikan dengan sistem pula. Apa saja solusi yang dibutuhkan? Setiap individu harus belajar mengkaji Islam sehingga paham esensi jati diri mereka di dunia yaitu beribadah kepada Allah Swt. Lalu speak up kepada masyarakat bahwa drag queen ini perbuatan yang dilaknat Allah dan menyadarkan masyarakat bahaya ide-ide barat yang merusak generasi muslim.

Selain itu, negara pun mesti turut andil menciptakan banyak lapangan pekerjaan sehingga tidak ada lagi alasan ekonomi untuk melakoni drag queen ini.
Sebab negara memahami kewajibannya mengambil peran melindungi rakyatnya.  Para pemimpin negeri-negeri muslim juga harus bersatu dan terikat dalam sebuah negara adidaya yaitu Khilafah. Dengan menerapkan syariat Islam, maka akan mampu menutup celah setiap penyimpangan yang ada termasuk persoalan penyimpangan drag queen ini.
banner zoom