IBU BUNUH ANAK, PENYEBAB NEGARA ABAI

Oleh : Sukmawati Umar (Muslimah Makassar)

Seorang ibu di Brebes, Kanti Utami (35), tega menganiaya tiga anaknya. Satu meninggal dan dua lainnya dilarikan ke rumah sakit.
"Saat pintu dibuka, anak yang bernama ARK (7) sudah dalam kondisi meninggal dunia. Ada luka sayat di leher," kata Kapolsek Tonjong AKP M Yusuf, Minggu (20/3/2022).

Sementara dua korban lainnya, KSZ (10) dan E (5) mengalami luka parah. Tubuh dua bocah ini dipenuhi luka sayat.

Usai menjalani pemeriksaan, jenazah ARK dimakamkan di TPU Dukuh Sokawera, Desa Tonjong. Sementara dua saudaranya kini dirujuk di RSUD Margono untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

"Hasil pemeriksaan, korban meninggal terdapat luka sayat di leher kiri sepanjang 12 cm dan dalamnya 5 cm. Kalau yang dua lainnya, luka di leher, rahang dan dada," ungkap petugas Puskesmas Tonjong, Sajio.

Seorang ibu yang depresi bukan tanpa sebab, justru ibu rumah tangga lah yang rentan mengalami hal tersebut dikarenakan beberapa faktor yakni tidak terpenuhinya tiga hal: fisik, jiwa dan spritual.

Kaum ibu atau istri rata-rata stres karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang ditambah lagi pengertian suami yang kurang terhadap istrinya, terutama dalam hal komunikasi terkait uang belanja, biaya sekolah anak-anak dan kebutuhan pokok yang lainnya. Penghargaan dari suami akan peran istri juga tidak didapatkan oleh seorang istri yang akhirnya merasa bahwa dirinya tak pernah dianggap oleh sang suami, ini juga termasuk faktor yang dapat menimbulkan rasa kecewa bagi sang istri.

Istri sangat rentan stres dibanding suami, mengapa demikian? Karena yang mengurus rumah dan keperluan sehari-hari serta biaya sekolah anak-anak adalah istri bukan suami, sehingga istri lebih labil dalam mengatur emosi sedangkan suami hanya berfikir global, ketika suami telah memenuhi kewajibannya mencari nafkah, dengan cukup atau tidaknya bukan lagi urusannya. Akibatnya istri stres karena merasa sendiri dalam memikul beban keluarga, padahal urusan seperti ini adalah urusan bersama karena suami istri itu adalah sebuah team yang saling menguatkan satu sama lain.

Kebutuhan jiwa berupa adanya penghargaan atas peran istri, sehingga mewujudkan ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan. Dalam hal ini suami harus memberikan apresiasi kepada sang istri atas kinerjanya selama ini. Dengan pujian dan dukungan dari suami itu semua sudah cukup bagi seorang istri atas jasanya yang sungguh luar biasa.

Suami yang pengertian akan selalu membuat hati istrinya bahagia meski itu bukan materi tetapi kasih sayang, kepedulian, perhatian dan puji-pujian adalah sesuatu yang sangat sederhana tetapi mampu meningkatkan mood booster bagi sang istri. Bersosialisasi juga adalah salah satu yang mampu meningkatkan perasaan nyaman dalam hati istri karena komunikasi kepada orang lain dapat menjadikan seseorang tersenyum dan tertawa, mungkin ini sangat mudah didapat asalkan suami tidak membatasi istri untuk berinteraksi dengan sesama ibu-ibu. Istri juga butuh me time bahkan sambil momong anak bersama tetangga-tetangganya dari pada hanya tinggal didalam rumah membuat istri semakin stres dengan seabrek pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya.

Kebutuhan spritual adalah suatu yang sangat penting bagi seorang istri agar suasana keimanannya selalu  ada didalam hatinya. Hal ini sangat penting untuk menjaga kewarasan seorang istri, apalagi dalam sistem negara ini menganut sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, akibatnya merusak pemikiran istri untuk hidup mewah karena melihat kehidupan orang disekitarnya mungkin lebih layak sehingga muncul rasa kurang bersyukur. Hal ini sangat penting agar apapun yang dialami seorang istri dalam kehidupan yang serba sulit ini, tidak membuatnya berputus asa hingga melakukan hal-hal yang diluar nalar manusia.

Pentingnya belajar islam dan berkumpul dengan orang-orang shalihah agar kita mampu mengontrol fikiran dan tingkahlaku kita dalam menjalani kehidupan yang serba sulit ini. Berteman dengan orang shalihah mampu membuat hati kita semakin sabar atas ketetapan Allah SWT.  

Mental Health Ibu, Dimana Peran Negara?

Peran negara sangat dibutuhkan dalam meminimalisir kasus seperti ini karena penyebab terjadinya kasus ini merupakan tanggung jawab negara dalam hal perekonomian masyarakat, seharusnya penguasa mencegah dengan cara menyeterahkan rakyatnya sehingga perekonomian rakyat semakin layak dan ini mampu mengurangi kesenjangan terutama dalam hal sandang pangan dan pendidikan.

Dibutuhkan peran negara dalam hal menciptakan lapangan pekerjaan serta upah yang mampu menutupi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Tapi faktanya saat ini semua kebutuhan pokok semakin mahal dan tak terkendalikan sementara gaji tidak bertambah, bahkan terjadi pengurangan karyawan yang pada akhirnya istri harus turun tangan dalam membantu perekonomian keluarganya sehingga istri yang sudah lelah dengan bekerja diluar, harus melakukan pekerjaan rumah dan mengurus anak lagi.

Dari Saad bin Abi Waqosh RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu, suami juga wajib untuk mencukupi kebutuhan istri secara tidak bakhil. Artinya, suami dituntut untuk tidak pelit sebab hal ini akan berdampak kurang baik dalam keharmonisan keluarga. Untuk itu, suami dan istri hendaknya bersikap longgar satu sama lain untuk saling membantu.

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat  penyebab terjadinya kasus serupa setiap tahunnya.

Rakyat butuh perhatian pemerintah tetapi pemerintah abai karena pemerintah hanya memfokuskan perhatiannya pada pembangunan IKN dan lebih mementingkan mengurusi event moto GP yang menelan anggaran yang fantastik, padahal dengan dana sebesar itu dapat disalurkan ke yang lebih urgent seperti pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat. Dalam sistem pemerintahan islam seorang khalifah lebih mementingkan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyatnya ketimbang hal yang lain karena bagi khalifah menyeterahkan rakyatnya adalah hal yang lebih utama dan akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah azza wa jalla. 


Di dalam Al Qur’an telah dijelaskan bahwa kemakmuran dan keadilan akan diperoleh suatu bangsa apabila mereka beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT. Kemakmuran merupakan sebuah anugrah dan keberkahan dari Alloh SWT.
“Jikalau seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf (7):96)
Hikmah ayat ini dijelaskan Sayyid Quthb dalam Fi Zhilaali Al Qur’an, disitu beliau menguraikan panjang lebar . Seandainya penduduk suatu negeri benar-benar beriman untuk menggantikan sikap mendustakan ajaran-ajaran Alloh dan bertaqwa untuk menggantikan sikap fasik mereka, niscaya Alloh akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan bumi. Jadi, iman dan taqwa tidak terlepas dari realitas kehidupan manusia. Seberapa banyak dan berkah rezeki seseorang sangat tergantung pada keimanan dan ketaqwaan seseorang. Semakin baik keimanan seseorang dan ketaqwaannya semakin banyak dan berkah rezekinya. Ini janji Alloh SWT. Alloh tidak pernah mengingkari janjiNya.

Wallahu a'lam bishowwab
banner zoom