Aroma Intoleransi di Kota Duta Toleransi

Oleh : Sari Chanifatun

Dua orang berinisial S alias B (31) dan MAQ (24) ditangkap polisi karena menadah motor hasil curian di Bekasi. 
Terungkap S dan MAQ juga buron Densus 88 Antiteror, karena keduanya ada dugaan terlibat jaringan terorisme. 

Kapolsek Tarumajaya AKP Edy Supriyanto
menjelaskan keduanya ditangkap setelah sebelumnya menangkap 2 anak pelaku pencurian motor Honda Scoopy bernopol B-4017-FOO milik Abdul Rosad dan 2 unit lagi milik warga Tarumajaya yang bernama Masidah.
Kedua anak tersebut berinisial A (13) dan B (14) di Bekasi Utara, Kota Bekasi. Mereka mengaku menjual motor hasil curiannya kepada penadah berinisial S dan MAQ. Kemudian S dan MAQ ditangkap di pasar Setu, Bekasi pada tanggal 28 Januari 2022.
S dan MAQ mengaku bahwa 1 unit motor Honda Scoopy masih ada di rumahnya, sedangkan 1 unit motor lainnya dijual kepada Ad di Lampung. 

Edy mengatakan,  dirumahnya ditemukan banyak buku yang berkaitan dengan jihad. Pihaknya baru mengetahui keduanya dicari Densus 88 Antiteror (detikNews, 05/02/2022)

Menurut keterangan Kabag Banops Densus 88, MAQ adalah seorang mantan napi terorisme (napiter) yang pernah menjalani hukuman selama 4 tahun penjara dan S kawannya MAQ (detikNews, 06/02/2022)

Tampaknya aroma intoleransi mulai tercium begitu isu ini merebak ke permukaan, framing si pelaku teroris ternyata juga seorang pelaku kriminal tengah disuguhkan. Islam kembali berada di sudut pesakitan, jika itu tentang terorisme maka semua mata akan menyudut pada Islam. Konteks terduga teroris seolah menjadi label halal seperti yang diinginkan pelaku.  

Meski Bekasi dilabeli sebagai Kota Duta Toleransi di tahun 2020 agaknya masih menjadi PR besar untuk merealisasikan toleransi secara nyata. Hadirnya pemerintah ditengah masyarakat sebagai pengayom dan menjadi perekat antar umat tak lagi berpihak menaungi umat Islam. Seorang pemimpin harus bisa memberikan sebuah harapan dan kepastian, seperti yang dikutip Wali Kota Bekasi, Dr Rahmat Effendi saat menerima penghargaan nyatanya tak mampu dirasakan umat Islam saat kontekstualisasi menyudutkan umat Islam. 

Hal ini pula yang dirasakan umat muslim di seluruh dunia, sebab tidak adanya penjagaan di tengah-tengah dunia Islam. Pemimpin tunggal untuk seluruh masyarakat Islam.
“Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu (Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya.“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Imam Al Nawawi mengatakan, Al Imam, dia bagaikan pelindung, dia akan mencegah musuh-musuh menyerang, dan menjaga manusia yang satu tidak akan menghancurkan manusia yang lain, serta kemurnian Islam akan dijaga.

Sungguh umat membutuhkan perisai, sebagaimana Nabi memerintahkan agar dengan perisai itu akan mampu melindungi umat ini. Maka para ulama telah sepakat untuk menegakkan Al Imam atau Khalifah. Dimana Al Imam inilah yang akan menerapkan syariah Allah dan dengan syariah-Nya inilah kebaikan-kebaikan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia karena Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Keadilan akan tegak dan kedzaliman akan disingkirkan.

Waallahu A'lam Bish Showwab

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!




banner zoom