Kurikulum Bebas 2022, Kemana Arah pendidikan Kita?

Oleh : Nabilah Imani Yusrina, STP
(Aktivis Dakwah)

Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2022 ini akan menambah jangkauan penerapan kurikulum yang diklaim sebagai kurikulum paradigma baru.  Selanjutnya akan dijuluki Kurikulum Prototipe. 

Kurikulum ini sudah diterapkan secara terbatas pada kelas tertentu di sekitar 2.500 satuan pendidikan (sekolah penggerak) mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA, serta sekolah menengah kejuruan pusat keunggulan (SMK-PK), (mediaindonesia.com).

Kurikulum Prototipe ditawarkan sebagai alternatif  bagi satuan pendidikan yang berminat. Dalam pelaksanaannya, sekolah bebas memilih menerapkan kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan Kurikulum Prototipe ini.

Bapak Nadiem pernah mengatakan dalam dialog Merdeka Belajar Episode Tujuh, “Target kita, tahun ini, karena pertama kali 2.500 targetnya, tahun kedua 10.000, tahun ketiga 20.000, dan tahun keempat 40.000, di tahun-tahun berikutnya mayoritas sampai 100 persen akan menjadi sekolah penggerak"  (kemdikbud.go.id).

Ini artinya semua sekolah akan ditargetkan mengubah kurikulumnya dengan Kurikulum Prototipe ini. 

Sungguh bukanlah hal yang aneh, dalam penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalis, kurikulum senantiasa berubah mengikuti selera pasar dan arus global. Saat ini dunia digital sedang berkembang pesat, maka arah kurikulum baru pun menekankan aspek digitalisasi.

Lalu akankah kurikulum baru ini mampu menjawab permasalahan pendidikan saat ini?

Sebenarnya Kurikulum Prototipe yang diusung dalam rangka mendukung pemulihan pembelajaran akibat pandemi ini memiliki beberapa karakteristik utama, yakni:

Pertama, pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, takwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas).

Kedua, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Sekilas nampak Kurikulum Prototipe ini memberikan harapan baru bagi dunia pendidikan, tapi pada hakikatnya kurikulum ini adalah produk yang lahir dari rahim yang sama dengan kurikulum sebelumnya.

Sebagaimana perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi sebelumnya di negeri ini, Kurikulum Protipe ini tetap bernuansa sekuler kapitalisme dan hanya berubah secara teknis. 

Apalagi perumusan Kurikulum Prototipe ini pun mendapat kritikan dari pemerhati pendidikan, karena terkesan instan. Praktisi pendidikan Indra Charismiadji mengaku belum pernah melihat naskah akademik dari kurikulum baru itu sehingga dia menilai belum ada kajian akademis dari pembentukan kurikulum baru itu, baik dari dasar filosofis, akademis, maupun pertimbangan lainnya. (republika.co.id). 

Dikarenakan sekolah bebas memilih dalam kurikulum nya, maka pembelajaran berorientasi murid ini juga rawan menghasilkan kesenjangan.
Karena ia memberikan kebebasan kepada murid dan guru sesuai kondisi lapang. Bagi murid yang ingin maju, mereka bisa lebih cepat meraih target. Namun, bagi yang lemah, tentu menjadi pekerjaan berat bagi guru untuk terus mengawal dan meng-upgrade muridnya. 

Jadi sangat tergantung pada kapasitas guru dan sekolah. Hal ini membutuhkan kreativitas dan kemampuan guru. Padahal faktanya jumlah guru kita itu terbatas. Belum lagi, tak sedikit guru yang disibukkan dengan berbagai tugas sekolah, bahkan pekerjaan sampingan. Misal karena problem sosial ekonomi yang terus menghimpit.

Belum lagi, masalah sarana prasarana sekolah belum juga tuntas diurusi. Maka dengan kondisi sekarang, kesenjangan mutu pendidikan akan semakin terbuka lebar. Alias gagal menjamin pemerataan mutu pendidikan.

Secara paradigma mendasar, kurikulum prototipe ini berlandaskan pada paradigma sekuler. Pendidikan sekuler, tujuannya sekadar membentuk output yang berpaham materialistik dalam pencapaian tujuan hidup, hedonistik dalam budaya masyarakatnya, individualistik dalam interaksi sosialnya, serta sinkretistik dalam agamanya.

Sekalipun disebutkan kurikulum ini akan berfokus pada pembentukan karakter dan kompetensi, tapi karakter yang dimaksud adalah karakter yang sekuler. Apalagi jika kita kaitkan dengan peta jalan pendidikan yang telah dicanangkan, yang tidak lagi mencantumkan frase agama.

Padahal tugas negara untuk menjamin pendidikan generasi dengan segala kebutuhannya agar bisa terwujud. Termasuk rancangan kurikulm terbaik demi pencapaian tujuan pendidikan tsb. 

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebagai negri muslim terbesar layak jika kita coba menengok bagaimana pendidikan dalam Islam. Agar jangan sekedar trial and error berkali mengganti kurikulum.

Pendidikan persfektif Islam adalah upaya mengubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan kerangka ideologi Islam. 

Sebagai gambaran umum, negara (Khilafah) yang menyelenggarakan sistem pendidikan Islam berdasar akidah Islamlah yang memiliki kurikulum yang unggul. Karena dengan kurikulum yang dibangun berlandaskan akidah Islam.  Pendidikan ditujukan untuk mewujudkan manusia berkepribadian Islam di samping membekali manusia dengan ilmu dan pengetahuan berkaitan dengan kehidupan. 

Sehingga output generasi yang dihasilkan dari kurikulum Islam ini adalah generasi yang unggul, yakni generasi yang tangguh dalam mengarungi kehidupan dunia sekaligus mantap dalam mempersiapkan kehidupan akhiratnya.

Tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan SDM yang berkepribadian Islami, yaitu cara berpikirnya berdasarkan pada nilai-nilai Islam serta prilakunya sesuai dengan ruh dan nafas Islam. Metode pendidikan dan pengajaran dalam Islam akan dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tercapainya tujuan tersebut tentu akan dihindarkan. Jadi, pendidikan Islam bukan semata-mata melakukan transfer of knowledge, tetapi memperhatikan apakah ilmu pengetahuan yang diberikan itu dapat mengubah sikap atau perilaku.

Sedangkan Kurikulum dibangun di atas landasan akidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqafah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu.

Outputnya adalah SDM yang mumpuni dalam bidang ilmunya sekaligus memahami nilai-nilai Islam serta berkeperibadian Islam yang utuh.  Bukan sekadar menguasai cabang ilmu secara sempit untuk menjadi tenaga buruh industri.

Sungguh masyarakat harus dicerdaskan tentang sistem pendidikan yang sahih ini. Kaum muslimin tidak boleh terjebak dan jatuh dalam harapan semu perubahan kurikulum. Selama paradigma kurikulum masih sekuler kapitalisme, maka tidak ada harapan untuk menyelesaikan problematika umat termasuk di bidang pendidikan.  Perubahan signifikan dalam pendidikan hanya akan diraih  dengan syariat Islam kafah bukan dengan sekular-kapitalis. 

Wallahuٝ'alam

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!

banner zoom