KALEIDOSKOP PENDERITAAN ANAK DI TENGAH PANDEMI

Oleh : Sumiati

Hampir dua tahun sudah pandemi Covid-19 melanda negeri ini,  yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali anak-anak.
Dalam sebuah tulisan yang dikutip dari Kompas.com, .dr. Tan Shot Yen, M Hum, tepat di hari anak nasional menyatakan, bahwa di hari anak nasional yang semestinya anak-anak merasakan kegembiraan, keriaan khas anak-anak bersama ayah, ibu dan teman-temannya, tetapi fakta berkata lain. Banyak berita duka menyayat hati, mulai dari anak-anak di bawah umur yang terpaksa kehilangan kedua orangtuanya sekaligus -sebagai korban penularan covid-19 yang tak pilih-pilih, kehilangan kesempatan belajar optimal, bahkan putus sekolah, juga kehilangan asupan gizi, akibat kemiskinan ekonomi sekaligus literasi. Ada juga  bayi-bayi yang kehilangan kesempatan emas mendapatkan ASI, akibat ibu melahirkan tak terduga terkena infeksi covid.

Dalam tulisan lain juga disampaikan bahwa kadang ada anak  yang sudah matang secara emosi, namun saat pandemi justru rewel, gampang marah dan sebagainya, akibat dampak peningkatan penggunaan gawai pada anak-anak semasa Pandemi. Yang tidak kalah menyedihkannya adalah tinggi nya tindak kekerasan terhadap anak. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, merasa miris melihat kasus kekerasan terhadap anak yang tetap tinggi dimasa pandemi, saat dimana mereka justru terus dekat bersama keluarga. Berdasarkan  catatannya, ada 2.726 kasus kekerasan terhadap anak sejak Maret 2020 hingga Juli 2021 ini, dan lebih dari setengahnya merupakan kasus kejahatan seksual. (REPUBLIK.CO.ID)

Sebelum Pandemi terjadi, negeri ini sudah dihadapkan pada permasalahan anak-anak yang belum terselesaikan, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kualitas generasi negeri ini ke depannya. Ditambah lagi kondisi masa Pandemi, yang semakin memperparah permasalahan anak-anak ini. Hal ini tentu tidak terlepas dari kurang tepat dan cepatnya pencegahan dan  penanganan dalam menghadapi pandemi ini.  Sejak awal wabah Corona muncul di China, negeri ini tidak ada upaya preventif yang dilakukan, agar tidak tertular wabah. Bahkan ketika akhirnya Corona masuk ke Indonesia pun, penguasa membuat kebijakan menghadapi pandemi dengan lebih mengedepankan faktor ekonomi, sehingga mengabaikan keselamatan rakyat dan dampak yang ditimbulkannya, termasuk kepada anak-anak. Kebijakan-kebijakan yang bersifat kapitalistik (lebih memikirkan keuntungan secara ekonomi) dimasa pandemi begitu dominan. Kita ingat bagaimana penguasa justru  mengundang wisatawan asing ke Indonesia di awal-awal wabah terjadi di China, dengan memakai jasa para influencer yang menghabiskan dana cukup besar. Juga berbondong-bondongnya TKA China masuk ke wilayah Indonesia, dan kebijakan lainnya, hingga akhirnya Indonesia pernah termasuk negara tertinggi yang  penduduknya terinfeksi virus covid-19. Hal Ini membuktikan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini, hingga sekarang. 

Sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, sudah selayaknya untuk menjadikan Islam sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah kehidupan, termasuk dalam penanganan wabah penyakit.  Bagaimana kah Islam dalam menangani wabah di suatu negeri? Berikut tiga cara Rasulullah saw dalam menghadapi wabah yang pernah terjadi di masa Beliau saw yang cukup mematikan pada zamannya, yaitu :

1. Berdiam diri di rumah.
Dalam sebuah hadits yang berasal dari Aisyah ra. salah satu cara yang dilakukan ketika wabah melanda adalah dengan menahan diri di rumah dengan sabar seraya mengharap ridho- Nya. 

2. Tidak mendatangi tempat terjadinya wabah dan tidah meninggalkan tempat terjadinya wabah. Apabila terjadi wabah di suatu tempat, maka dianjurkan untuk tidak memasuki tempat tersebut. Namun, apabila wabah terjadi di tempat dimana kita tinggal, maka dilarang untuk meninggalkan tempat tinggal. Dari Usamah bin Zaid ra. dari Nabi saw, beliau bersabda: "Apabila kalian mendengar wabah tha'un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu." (HR. Muttafaq 'alaih).

3. Mencari pengobatan dan mengharap Ridho- Nya.
Allah SWT menurunkan suatu penyakit lengkap dengan obatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah ra. "Diceritakan Abu Hurairah, Rasulullah saw mengatakan, "Tidak ada penyakit yang Allah SWT ciptakan, kecuali Allah SWT telah menciptakan obatnya." (HR Bukhari).

Dengan cara seperti itu maka wabah itu tidak akan menyebar ke negeri yang lain,  karena sudah dituntaskan dengan cepat, sehingga kesehatan dan keselamatan rakyat pun terjaga, selain dapat mencegah munculnya permasalahan baru. Anak-anak sebagai pelanjut generasi pun terjaga pemenuhan kebutuhannya, baik kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, dan papan, maupun kebutuhan mendasar mereka, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Inilah yang akan menghantarkan mereka sebagai pemimpin masa depan, pengisi peradaban Islam yang mulia, melalui penerapan politik Islam yang melayani rakyat secara ikhlas dan benar berdasarkan syariat, dalam institusi khilafah. Tidak ada keuntungan ekonomi yang ingin diraih untuk kepentingan segelintir orang, seperti dalam sistem kapitalisme saat ini. Syariat Islam diterapkan untuk menjaga keberlangsungan manusia, diantaranya adalah menjaga agama, aqal, dan nyawa, apalagi di masa Pandemi. Dalam salah satu hadits dari al- Barra' bin Azib Radhiyallahu 'anhu, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Hilangnya dunia,lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al- Albani).


Wallahu'alam bishshowab.

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!



banner zoom