-->

Memilih Beragama Ala Moderasi, Bolehkah ?

Oleh : Mauli Azzura

Memahami arti istilah moderat adalah menjadi kelompok tengah. Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan moderat adalah selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrim. 

Direktur Eksekutif Centre of Intelligence Strategic Studies Ngasiman Djoyonegoro mengusulkan adanya audit forensik terhadap pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) yang diduga tidak sejalan dengan ideologi Pancasila. Hal ini penting dilakukan untuk menutup celah potensi masuknya kelompok intoleran , radikal, dan terorisme ke dalam kementerian dan lembaga negara. (Sindo.news.com  17/12/2021).

Usul, himbauan, ajakan moderat serasa tak henti untuk merasuki masyarakat. Kalimat manis yang disampaikan kian membius umat dengan dalih toleransi, kasih sayang, serta menjadi pertengahan. 

Moderasi beragama yang digencarkan penguasa menjadi wajah elok tanpa cacat, namun menyembunyikan racun didalamnya, terus menerus luncurkan umpatan basmi radikalisme, ekstrimisme, serta terorisme. Padahal sejauh ini masyarakat harusnya sudah sadar, bahwa apa saja yang merugikan negara dan rakyat adalah masalah terbesar, yakni koruptor yang bersemayam sebagai wajah dari wakil rakyat.

Lantas bolehkah kita memilih moderasi beragama dengan dalih taat pada penguasa?.
Kalau yang di moderasi itu cara berIslam dalam artian tidak sesuai dengan apa yang di contohkan Baginda Nabi Saw itu bagus, akan tetapi jika moderasi dalam artian sesuai dengan konstitusi kebangsaan itu sebuah kesalahan besar, terlebih memakai demokrasi sebagai semboyan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Nyatanya tidak demikian, karena peraturan dan hukum apapun yang berdasarkan buatan manusia, maka tidak akan menemukan keadilan dan solusi yang jelas.

Islam sama sekali tidak mengajarkan konteks kebangsaan seperti orang-orang barat dalam mengemban ideologi sekuler, namun dalam islam telah disatukan oleh ikatan akidah Islamiyah. Islam tidak  mengenal nasionalisme , yang sejatinya nasionalisme adalah alat pemecah belah umat.

Begitupun tentang moderasi beragama, alat sekulerisme untuk membungkam dan mengebiri kebangkitan Islam yang sesungguhnya. Islam telah paripurna , Islam telah melengkapi dari ajaran yang pernah ada sebelumnya dan Islam adalah aturan (Nidzham) penutup dari segala aturan yang pernah ada di alam semesta ini.

Jargon-jargon sekulerisme kafir barat nampaknya terus berevolusi untuk menjerat umat agar percaya dengan opini mereka yang seolah itu sebuah kebaikan. Moderasi beragama adalah sebuah frame kafir barat untuk menjual kekafiran, umat islam dipaksa menelan mentah-mentah mengatasnamakan kebangsaan dan konstitusi yang menjadi sebuah kesepakatan bersama dalam membangun kerukunan umat.

Jelas hal tersebut sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Islam adalah agama yang damai ,pemeluknya sangat toleransi dan tidak menafikan keberagaman, Islam hidup rukun dalam segala perbedaan , terlebih telah ber abad lamanya Daulah Islam telah merealisasikan kehidupan yang khas dengan penuh keberagaman. Jika moderasi beragama yang dimaksudkan demi menjaga keberagaman ,itu  jargon recehan yang buta akan sejarah peradaban islam yang mulia.

Sekali lagi di tegaskan bahwa moderasi beragama adalah konspirasi kafir barat untuk memerangi umat Islam agar kebangkitan ideologi Islam tidak terjadi. Namun demikian kalau kita perhatikan, orang-orang kafir hanya akan gigit jari ,terbukti dari War or Terorism_Deislamisasi Khilafah_Moderasi Beragama, ketiganya justru menjadikan kebangkitan umat Islam semakin besar dan menjadikan orang-orang kafir ketakutan akan tegaknya kembali Khilafah 'Ala minhanjn Nubuwwah.

Kaum kafir ketakutan bila Islam bangkit, maka mereka menyerang dari dalam, menjajah pemikiran umat dari dalam dengan menjadikan pemerintah sebagai alat agar Islam tidak bangkit. Tapi umat Islam haruslah percaya bahwa janji Allah  untuk kemenangan umat Islam akan segera datang dengan berdirinya kembali Daulah Islam.

Wa'llahu a'lam Bishowab