Gunung Semeru Mengharubiru

Oleh : Yaurinda

Indonesia kembali berduka, kali  ini datang dari Jawa Timur Lumajang tepatnya. Sabtu, 04 Desember 2021 gunung Semeru memuntahkan lafa panas yang meluluhlantakkan pemukiman disekitar gunung Semeru. Sejumlah penambang pasir didusun Renteng desa Sumber Wuluh terkena dampak erupsi gunung yang menyebabkan mereka tak sempat menyelamatkan diri.

Dikutip pada laman kompas.com hingga hari Minggu data yang dihimpun badan nasional penanggulangan bencana ( BMKG ). Ada 13 korban meninggal dan puluhan warga terkena luka bakar. Desa Curah Bobokan kecamatan Candipura Lumajang adalah kawasan paling terdampak erupsi gunung Semeru karena jarak yang hanya 2 KM dari gunung Semeru.

Ini adalah bukti bahwa pemerintah tidak siap dalam mengantisipasi bencana alam. Dan ternya bnyaknya korban yang timbul disebabkan karena ternyata tidak ada early warning system ( EWS ) di desa Curah Bobogan padahal alat ini sangat penting untuk mendeteksi peringatan dini bencana.

Minimnya edukasi terhadap masyarakat juga menjadi faktor utama yang menyebabkan masyarakat terlambat menyelamatkan diri. Yang mana masyarakat tidak tahu cara penyelamatan juga tanda bahaya sehingga masyarakat malah menyaksikan fenomena erupsi di wilayah pertambangan, padahal jaraknya sangat dekat.

Terjadinya bencana alam adalah menunjukan kemahakuasaan ALLAH SWT dan kita bisa sadar bahwa manusia itu lemah. Namun sebagai manusia kita bisa berupaya sebisa mungkin untuk meminimalisasi bencana dengan memiliki badan mitigasi bencana. Ada lima jenis mitigasi bencana yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan yang diakibatkan oleh berbagai bencana alam.

1. Perencanaan dan peraturan lokal

2. Proyek struktural

3. Perlindungan sistem alami

4. Program pendidikan

5. Tindakan kesiapsiagaan dan respons

Semua ini memerlukan SDA , SDM, juga biaya yang tentu tidak murah, ini sangat susah terwujud karena sistem yang dipakai sekarang adalah sistem Kapitalisme yang mana pendapatan negara yang minim menyebabkan negara tergantung terhadap asing, sehingga hal tersebut negara tidak bisa mengalokasikan dana untuk kebutuhan mitigasi bencana karena beban utang yang begitu besar.

Ini sangat jauh berbeda penyikapannya dalam sistem pemerintahan Islam yang disebut khilafah yang mana pemerintah adalah pengayom, pelayan umat yang siap bekerja demi kemaslahatan umat. Terkait badan mitigasi bencana pemerintah akan mengalokasikan dana khusus untuk persiapan alat - alatnya, membiayai penelitian, juga edukasi pada masyarakat lewat media yang bisa digunakan saat ini. 

Dengan hal tersebut yang dilakukan pemerintah akan bisa menekan timbulnya banyak korban juga kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam itu sendiri. Selain itu pemerintah akan sigap dalam membantu korban bencana dengan menyediakan kebutuhan bagi mereka dengan cepat. Sehingga tidak ada kesedihan yang mendalam pada para pengungsi. Dan ini hanya akan terwujud jika sistem  Islam diterapkan secara menyeluruh.

wallahu'alam bissowab.
banner zoom