The Real Agent of Change, Adakah Saat Ini?

Oleh : Asyrani (Pemerhati Masalah Umat)

Pemuda adalah agen perubahan (agent of change). Tentu itu hanya akan menjadi slogan jika tak direalisasikan. Apalagi tanpa didukung dengan ruang penampung aspirasi. Hanya para penyumbang prestasi yang mendapat apresiasi. Nihil jika tidak berujung menjadi mimpi tak bertepi.

Seperti halnya yang terjadi belum lama ini, bertepatan dengan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-93, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi melepas empat delegasi Sultra dalam program pertukaran pemuda antarnegara (KendariInfo, 28/10/21). Seolah sudah menjadi acuan dalam paradigma berpikir. Jika perubahan yang dimaksud hanya seputar wawasan yang luas tentang dunia luar. Sehingga tercetak generasi-generasi yang mampu berdaya saing dan mengharumkan nama bangsa.

Bahkan output yang dihasilkan dalam sistem pendidikan bukan lagi berpusat kepada karakter pemuda bangsa yang sebenarnya. Mereka hanya dipersiapkan untuk bekerja dan meraup materi sebanyak-banyaknya. Tanpa bekal yang memadai tersebut, tak heran jika pemuda saat ini 'krisis karakter'. Sangat minim ditemukan jiwa-jiwa para pejuang dan agen perubahan. Apalagi membawa perubahan mendasar dalam masyarakat saat ini.

Belum lagi penyakit moral yang menjangkiti. Sebut saja, kekerasan, geng motor, tawuran, bully dan seks bebas masih terbilang mendominasi. Sementara itu, jika para pemuda beraksi dan terdengar suara sumbang 'kritik', aparat siap menciduk. Bahkan tak sedikit yang mendapat kekerasan fisik. Sehingga sudah sepatutnya menjadi perhatian bersama, sebab para pemuda-lah pemegang estafet perjuangan kelak. 

Menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama halnya merencanakan kehancuran bagi bangsa. Apalagi dengan kondisi sistem yang menggerus pemikiran untuk hidup hedonis-sekuler. Maka, pembinaan yang terorganisir akan menjadi solusi praktis dalam permasalahan pemuda hari ini. Sebab perubahan yang digagas secara individual tidak kompatibel dengan kerusakan yang mendasar dan sistematis. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., yang memulai perubahan dengan mengorganisir para pemuda yang beriman secara sistematis dari rumah Arqam bin Abu al-Arqam.

Selain itu, para pemuda haruslah melakukan sejumlah hal: Pertama, hujamkan keimanan bahwa Islam adalah agama yang paripurna; mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual.

Kedua, kaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Mereka wajib terikat dengan syariah Islam. Dengan terikat pada syariah Islam, pemuda Muslim akan menilai baik-buruk berdasarkan ajaran Islam. Mulai dari pergaulan dengan lawan jenis, adab kepada orangtua dan guru sampai memilih pemimpin akan dilandasi dengan nilai-nilai Islam. 

Ketiga, senantiasa memiliki sikap berpihak pada Islam, bukan netral, apalagi oportunis demi mencari keuntungan duniawi. Banyak remaja dan pemuda Muslim hari ini yang hidup bak pucuk pohon ditiup angin. Ke mana angin bertiup ke sanalah mereka terbawa. Pemuda Muslim harus memiliki keteguhan pada Islam hingga akhir hayat. 

Keempat, terlibat dalam dakwah Islam demi tegaknya syariah dan daulah Islam. Sungguh kemuliaan Islam hanya bisa tampak bila umat, khususnya kaum muda, senantiasa berdakwah untuk menegakkan Islam. Alquran telah merekam keteguhan iman dan kesungguhan perjuangan para pemuda Kahfi hingga mereka mendapat pertolongan dan perlindungan Allah SWT (Lihat: QS Kahfi [18]: 13-14).

WalLâhu alam bi ash-shawab.
banner zoom