Solusi Efektif Hentikan Media Negatif

Oleh: Ratna Juwita

Hampir dua tahun pandemi melanda negeri ini. Tidak hanya bidang ekonomi yang berubah, akan tetapi penggunaan media juga telah terjadi perubahan besar. Mulai dari pembelajaran jarak jauh dan pekerjaan pun dilakukan di rumah  (WFH). Perubahan yang terjadi ini, nyatanya menimbulkan dampak negatif bagi siswa maupun orang tua. Keseharian masyarakat yang menatap layar datar/gadget dan bermigrasinya aktivitas ke media komunikasi daring selama pandemi meningkatkan paparan konten negatif ke pengguna internet.

Menurut Menkominfo, salah satu penyebab banyak warganet yang terpapar konten negatif yang menyesatkan adalah karena masifnya penggunaan teknologi komunikasi digital sebagai dampak dari pandemi Covid-19.(liputan6.com)

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, menjelaskan pemerintah punya tiga pendekatan untuk meredam sebaran konten negatif di internet yaitu di tingkat hulu, menengah, dan hilir. Untuk hulu contohnya, Kominfo telah menggandeng 108 komunitas, akademisi, lembaga pemerintah, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memberikan literasi digital ke masyarakat.

Dia melanjutkan untuk pendekatan di tingkat menengah,  diambil langkah preventif dengan menghapus akses konten negatif yang diunggah ke situs web atau platform digital. Menurutnya, langkah ini diterapkan jika menemui akun yang mendistribusikan kabar bohong terkait Covid-19 seperti vaksinasi.

Kemudian, di tingkat hilir, dilakukan tindakan demi mencegah penyebaran informasi yang salah dan menyesatkan di ruang digital. Upaya ini dengan melakukan pendekatan yang melibatkan instansi pemerintah, komunitas akar rumput, media konvensional dan sosial, hingga akademisi.(viva.co.id)

Sayangnya, antisipasi yang dilakukan pemerintah guna meredam konten negatif, bisa dikatakan tidak sesuai harapan. Sebab, jika ditelaah, faktanya konten negatif masih bisa diakses dan terus diproduksi karena :

Pertama, edukasi tidak bersandar pada aspek mendasar yakni ketakwaan.

Keimanan menjadi pondasi penting untuk ditanamkan kepada setiap manusia agar dia bisa mengontrol dirinya dan sikap takwa yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi Larangan-Nya akan menjadi rem dikala seseorang berniat mengakses konten negatif atau tidak sengaja melihat konten senonoh akan cepat sadar bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Sang Pencipta.

Kedua, antisipasi  tidak diiringi regulasi yang melarang sektor lain menyebar aktifitas negatif. Selama asas bernegara kita ini masih demokrasi kapitalisme, maka yang dijunjung tinggi adalah liberalisme. Banyak pihak yang masih toleran terhadap pornografi karena menganggap itu adalah urusan pribadi dan sektor ekonominya pun bisa dibilang menggiurkan. 

Ketiga, tidak ada definisi yang baku terhadap makna konten negatif.

Denifisi konten negatif masih ambigu, contohnya media sosial  yang bisa diakses anak di bawah umur masih bisa berkeliaran konten berbau pornografi dan kekerasan. Sementara, konten dakwah yang menebar manfaat tidak jarang dihapus, malah masuk kategori konten negatif.

Selain itu, media berperan strategis dalam perubahan sosial dan kultural. Masifnya perkembangan teknologi mau tidak mau memunculkan banyaknya kreator konten dan para influencer.

Untuk itu, perlu ada solusi yang menyeluruh untuk menghentikan arus dalam media atau konten negatif. Solusinya ada pada sistem Islam.

 Langkah yang diambil dalam pemerintahan Islam adalah mengajarkan etika dalam penggunaan internet. 

Pertama, isi konten hendaknya mengandung nilai pendidikan yang baik dan mendorong setiap manusia hidup sesuai ajaran Islam.

Kedua, konten yang bersih dari penipuan dan kebohongan. 

Ketiga, berisi peringatan agar setiap orang tidak melanggar hukum syariat. 

Keempat, tidak melakukan fitnah, baik secara tulisan atau gambar yang merugikan kehormatan orang lain.

Kelima, dilarang membuka aib orang lain kecuali mengungkapkan kezaliman. 

Keenam, dilarang mengadu domba seseorang atau sekelompok orang yang dapat menimbulkan perpecahan di tengah umat

Ketujuh, tidak menyebarkan konten yang berisi pornografi, pornoaksi, ataupun pelecehan seksual—termasuk pula yang mengandung unsur elgebete—karena semua itu diharamkan dalam Islam.

Maka, pengaruh media tidak hanya terkait pilihan gaya hidup seseorang, melainkan juga pembentukan opini publik dan cara pandang setiap individu terhadap realitas. Begitu penting bagi negara melarang setiap konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam lewat aturan yang jelas dan tegas. 

Oleh karena itu, jika ingin menghentikan penyebaran konten negatif, tak ada cara lain selain mengganti sistem negatif yang masih eksis dalam kehidupan kaum muslimin saat ini. Terapkan sistem Islam dengan tegaknya Khilafah. Sehingga, hidup umat akan aman, nyaman, dan tenang di dalamnya. 

Wallahu a'lam

banner zoom