Anxiety, Bikin aku gak karuan

Oleh: Nora Putri Yanti (Aktivis dakwah kampus)

Rasa cemas wajar saja ada pada diri manusia, ketika mau tampil didepan umum, bepergian jauh, melihat sesuatu yang tidak disukai dll yang bisa hilang ketika kita telah melewati momen tersebut. Namun ternyata ada lho gangguan psikis dimana seseorang mengalami kecemasan secara terus menerus bahkan dapat semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Kalo orang-orang nyebutnya sih anxiety disorder. Anxiety disorder itu dimana seseorang mengalami rasa cemas atau takut yang berlebihan meski dalam kondisi normal. Kok bisa gitu ya?

Seakan rasa takut itu tidak bisa dikendalikan lagi, penyakit gangguan mental merebak di zaman yang sudah serba canggih ini, berdasarkan survei global health data exchange tahun 2017 yang dilansir dari kompas.com, bahwasanya ada 27, 3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan dan berhasil meraih gelar pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia tenggara, salah satu Kategori pengidap tertingginya adalah kecemasan yang berlebihan ini dengan jumlah lebih dari 8,5 juta orang. Lalu bagaimana dengan masa Pandemi saat sekarang ini ya, yang seakan belum tampak ujung penyelesaian dari pemerintah. Gak bertambah berlipat-lipat tingkat gangguan Kejiwaan ny tuh.

Sebenarnya kita akan bersikap sesuai dengan persepsi bagaimana kita memandang kehidupan dunia, sayangnya kita telah mencampakkan dan tidak melihat dari kaca mata Islamnya, yang menguasai kita sekarang malah orang yang membunuh ibu kita di tahun 1924, semenjak saat itu kita telah memisahkan agama kita dari kehidupan yang bahasa kerennya sih seluler kapitalisme. Yang dari asas yang rusak ini melahirkan liberalisme, pluralisme, demokrasi dkk.

Dengan bermodalkan HAM saja kita difasilitasi kebebasan (liberalisme) baik dalam beragama dan tidak beragama. Di titik inilah atheisme dan komunisme akan sejalan dengan demokrasi. Dilengkapi dengan kebebasan berbicara termasuk kebebasan menyatakan penolakan terhadap penerapan. Serta kebebasan berperilaku, termasuk persetujuan undang-undang terhadap penyimpangan seksual, tambah komplit dengan ada kebebasan kepemilikan termasuk penguasaan kepemilikan umum dan harta haram selama dilegalisasi oleh undang-undang hasil proses demokrasi bernama kapital.

Gambaran hidup ala kapitalisme sekuler ini bisa kita temui dimana-mana, aturan dibuat sesuka manusia dimana ia merasa puas sampai gak segan membelakangi aturan sang pencipta, yang memiliki modal melimpah, suaranya akan didengar dalam bernegara sedangkan bagi rakyat kecil biasanya mereka menutup telinga, standarnya yang mereka pakai semakin banyaknya materi yang diperoleh maka semakin makmur juga kehidupannya di sistem ini. Akhirnya melahirkan generasi lemah yang galaunya luar biasa, jika stres larinya ke narkoba, ujungnya ujung nya jika gak menemukan juga ketenangan ya menghabisi nyawa, ngeri ya Akhwatifillah. Itulah kehidupan kita jika tidak dipimpin Islam akhwatifillah, kalau belum menemui fakta didekat kita yuk buka mata melirik disekeliling kita banyak saudara seaqidah mengalaminya. Akankah kita diam saja?

Yuk merangkul mereka dengan menarik nya ke Islam kaffah dan beralih haluan ke Islam dalam memandang dunia, yang kehidupannya tidak dipisahkan dengan agama, setiap amal perbuatan kita ada Allah sebagai pencipta dan diikat dengan hukum Syara', sehingga perbuatan manusia tidak akan lari-lari ke dalam jurang dosa.

Nantinya dengan Islam akan tercipta generasi bermental baja, ketika akan melakukan kegiatan dia akan berfikir terlebih dahulu, jika perbuatan itu di dalam kuasanya yg disana ada pilihan maka akan ada pertanggungjawaban kepada pencipta, melakukan sesuai syariah akan berpahala, namun jika pilihannya membangkang maka ganjarannya dosa.

Akan berbeda halnya ketika keadaannya diluar kuasa kita yg memang Allah tidak memberikan kita pilihan disana maka sikap seorang hamba hanya sabar dan menerima. Contohnya kita bersyukur terlahir pendek sehingga masih muda walaupun umur sudah kepala dua, atau kita menerima bahwa kita terlahir perempuan dan tidak menentang fitrah ingin berpakaian seperti pria. Sikap kita dalam menerima qadha iniah yang akan bernilai pahala.

Indahnya hidup kita ya, jika kita dipimpin oleh aturan Islam, tidakkah kita rindu hidup seperti masa sahabat di dalam daulah,  yang mana rahmatan Lil alamin itu nyata adanya, memang kita tidak bisa memilih gak hidup dizaman sekuler kapitalisme ini karena itu diluar kuasa manusia, namun aktivitas kita ingin memperbaiki dan berjuang kembali ke Islam kaffah agar terterapkan seluruh hukum Allah tetap diminta ya Akhwatifillah.

Maka kenalilah islammu dan bangga berislam kaffah dengan bersama-sama kita mengkajinya.

banner zoom