Ujian dan Peringatan di Balik Covid-19

Oleh: Ummu Najmah Laila (Relawan Opini, Kec. Lainea, Sulawesi Tenggara)

Wabah Covid-19 ini sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun. Namun jumlah kasus terinfeksi ataupun jumlah kematian, akibat  wabah ini terus meningkat  tidak terkecuali  negeri yang kita cintai ini. Indonesia telah melampaui India sebagai episentrum pandemi di Asia. Sebagaimana dilansir Worldometers, kasus  baru yang dilaporkan Indonesia per 13 Juli 2021 adalah 47.899 kasus. Jumlah itu tidak hanya tertinggi di Asia tapi juga di dunia.

Meningkatnya jumlah kasus ini, sungguh mengiris hati. Hampir setiap hari kita mendapati kabar duka,  belum lagi konflik horizontal antar masyarakat juga nakes bikin mengelus dada. Salah satu pemicunya  karena Ternyata selama ini banyak  masyarakat kurang paham. Mereka salah menerimah informasi atau bahkan tidak mendapatkan informasi yang benar, sehingga banyak tindakan yang terjadi diluar nalar. Kondisi ini bisa saja terjadi karena masyarakat  merasa tertekan. Ketakutan akan stigma “Covid menyebabkan meninggal” menghantui benak mereka. Sebagian besar masyarakat akhirnya beranggapan orang yang terkena Covid bagaikan aib yang harus dibuang jauh-jauh.

Padahal sejatinya, Covid-19 merupakan salah satu ujian yang Allah SWT turunkan kepada manusia  yang harusnya ikhlas diterima. Sebab bisa jadi Covid-19 ini ada untuk mengingatkan bahwa manusia  sungguh lemah dan terbatas sehingga Virus kecil bernama Corona ini tidak mudah bisa dimusnahkan sekalipun manusia itu punya kuasa, juga bisa jadi  Covid -19 ini merupakan salah satu cara Allah SWT menguji keimanan manusia terhadap Qadha-Nya (ketetapan diluar kekuasaan manusia), apakah manusia itu ridho atau tidak dengan Qadha tersebut.  

Sehingga langkah yang harus ditempuh mestinya kita kembali mencontoh kepada jalan atau cara yang pernah ditempuh oleh orang-orang  yang telah berhasil menempuh ujian yang sama. Mereka pasrah, ridho, tawakal dan terus berdoa kepada Sang maha Kuasa Allah SWT sembari dengan berusaha sungguh-sungguh agar bisa selamat dari ujian-Nya. Hingga meraih kasih sayang Allah SWT (terbebas dari wabah). 

Karena itu sangat disayangkan  kebijakan yang selama ini ditempuh tidak memberikan lampu merah bagi virus untuk berhenti menularkan pada manusia. Adanya gonta ganti peraturan malah membuat virus tambah berkeliaran, sehingga menimbulkan banyak korban. Bahkan banyak yang kalah dalam melawan covid -19. Minimnya  anggaran menjadi alasan utama pemegang kebijakan tidak melakukan karantina wilayah karena  mereka lebih memilih  menghidupkan ekonomi  dari pada melindungi kesehatan dan jiwa rakyatnya.

Bagaikan simalakama, kebijakan yang diambil ternyata banyak menuai kontra dan akibat yang berbahaya. Akhirnya herd immunity jadi plihan, bagi mereka yang kuat, bisa tetap bertahan. namun tdak sedikit yang akhirnya harus tumbang ditengah perjuangan melawan sakit. Inilah hasil yang harus dituai dengan kebijakan yang berganti–ganti. Sehingga patut jika rakyat menyangsikan segala kebijakan dan memilih bertindak sesuai pemikirannya sendiri. Demikianlah hasil sistem buatan manusia yang justru banyak menyengsarakan manusia karena pada dasarnya menyalahi  kodrat dan fitrah manusia.

Berbeda jauh dengan sistem Islam, yang memahami bahwa nyawa seorang muslim jauh lebih berharga  dari pada dunia dan pemimpin itu ibarat perisai. Ia yang akan melindungi rakyatnya dari serangan badai apapun. Seperti yang dilakukan sahabat Amr bin Ash disaat menjadi Gubernur Mesir, pada saat penyakit thaun melanda Syam, Karena banyak para pemimpin yang wafat akibat wabah, akhirnya beliaulah yang mengambil  alih dan turun tangan bersama rakyat mengahadapai ujian tersebut. Mereka berusaha sekuat tenaga, mulai dari pengobatan dan kebijakan karantina sampai pada pengurusan kebutuhan.

Salah satu cara yang mereka tempuh, mereka pergi kegunung-gunung, memisahkan diri satu dengan yang lain, sembari  mendekatkan diri kepada Illahi sang maha pencipta. agar memperoleh  perlindungan da ketenangan, disisi lain kebutuhan sehari-hari mereka  negara yang memenuhinya. Tidak berselang lama kebijakan ini diterapkan wabah thaun akhirnya hilang. Tentunya keberhasilan ini bukanlah semata-mata  karena kualitas beliau  tetapi karena pemahaman Islam yang dimiliki. Sistem Islam membentuk  para pemimpin kuat imannya, taat pribadinya hingga mereka mampu menundukan hawa nafsuh dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.

Islam Sebagai sistem hidup yang kompleks, memberikan petunjuk hingga manusia memiliki kesadaran  akan kelemahan  dan kekurangan hingga akan menghantarkankan, pada ketundukan dan ketaatan pada aturan Allah SWT. Salah satu bentuk ketaan itu adalah mengambil aturan-Nya (sistem Islam) untuk diterapkan dalam kehidupan, dan hanya dengan inilah manusia bisa selamat, dan bisa menjalani hidup sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.  

Wallahu‘alam  bishawab

banner zoom