Dunia Gawat Darurat


Oleh: Nahida Ilma (Mahasiswa)

Hampir 2 tahun dunia ini diselimuti oleh pandemi COVID-19. Pandemi yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China yang kemudian menyebar luas ke hampir seluruh negara. Seketika dunia terporak-porandakan. Negara yang terkategorikan maju pun turut kewalahan menghadapi pandemi ini. Virus yang terus bermutasi, mobilitas yang tidak bisa terus dibatasi, tenaga kesehatan yang bekerja tanpa henti. Seluruh sektor kehidupan terguncang, seakan-akan diambang kehancuran jika tidak segera diselamatkan.

Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai negara guna menuntaskan pandemi di negaranya. Mulai dari pembatasan mobilitas, kebijakan work from home termasuk dalam pelaksanaan pembelajaran, dan berbagai upaya promosi kesehatan guna mengingatkan pentingnya menjaga protokol kesehatan. Di Indonesia sendiri, berbagai bentuk program pembatasan mobilitas telah diterapkan silih berganti. Mulai dari PSBB, PPKM Mikro, PPKM Makro dan yang terbaru adalah PPKM Darurat yang kemudian dilanjutkan dengan PPKM berlevel yang masih terus diperpanjang hingga saat ini. 

Dengan kabar terkini, lebih dari 1.000 orang meninggal dunia setiap harinya akibat Covid-19, meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah diterapkan selama sebulan dan akan diperpanjang hingga 9 Agustus di daerah-daerah tertentu. (BBC.com, 3 Agustus 2021)

Beberapa hari ini memang dikabarkan bahwa penambahan kasus positif mulai menurun, namun itu justru berbanding terbalik dengan angka kematian yang jutru terus meningkat. Bahkan dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan angka kematian tertinggi (Kompas.com, 3 Agustus 2021). 

Kabar petugas pemakaman pun tak jauh lebih baik dengan para tenaga kesehatan. Mereka sama-sama kelelahan, kerja overload dengan jeda istirahat yang sangat singkat atau bahkan tidak ada. Sarana prasarana pun seringkali tak mendukung. Diberitakan, terdapat beberapa petugas pemakaman harus menggunakan APD bekas dikarenakan stok APD yang habis (Okezone.com, 2 Agustus 2021). 

Barangkali ini bisa digunakan sebagai daya tarik untuk lebih membuka mata. Bahwa faktanya kondisi faskes di negeri tercinta ini memang sedang tidak baik-baik saja. Nakes kewalahan berjuang maksimal sebaik mungkin bertahan,  masyarakat kritis sakit keluarga nya panik menghadapi kelangkaan oksigen. Ibarat di ujung tanduk, tapi fakta sebalik nya menimpa masyarakat lainnya yang masih sibuk berdebat dan berdalih berprasangka buruk pada tenaga kesehatan.

Beralih ke manca negara. Ternyata negara terlihat lebih maju, juga kewalahan menghadapi pandemi. Meskipun dalam beberapa waktu merasa telah berhasil menekan persebaran kasus, nyatanya beberapa waktu kemudian kasus positif kembali merebak. Infeksi virus yang terus bermutasi masih saja menghantui. 

Pejabat Wuhan mengumumkan pada Senin 2 Agustus bahwa tujuh infeksi lokal ditemukan di antara pekerja migran di kota itu - memecahkan rekor selama setahun tanpa kasus domestik setelah lockdown berhasil menekan wabah awal pada 2020. (Liputan6.com, 3 Agustus 2021) 

Ditengah kegembiraan olimpiade Tokyo, terdapat nakes yang terus berjuang mempertaruhkan nyawa. Kasus konfirmasi positif di Jepang kembali meningkat. Rumah sakit  yang juga dalam kondisi krisis, akhirnya hanya dapat menerima pasien dengan status sakit yang parah (Tempo.co, 3 Agustus 2021) 

Kasus corona (Covid-19) di Amerika Serikat kembali naik di 50 negara bagian dan District of Columbia (DC). AS melaporkan rata-rata 43.700 kasus baru per hari selama seminggu terakhir. (CNBCIndonesia.com, 24 Juli 2021) 

Kegawat daruratan tidak hanya terjadi di sektor kesehatan. Pada sektor kehidupan yang lain pun saling susul menyusul. Ekonom Core Indonesia Akhmad Akbar Susamto memprediksi tingkat pengangguran di Indonesia pada bulan  Agustus 2021 ini di rentang 7,15 persen - 7,35 persen. Angka pengangguran tentunya akan berdampak pada angka kemiskinan. Menurut perhitungannya pada September 2021 tingkat kemiskinan bisa mencapai 10,25-10,45, lebih tinggi dibanding September tahun 2020 atau tingkat kemiskinan pada Maret tahun 2021. (Kompas.com, 27 Juli 2021) 

Di Amerika Serikat, dikabarkan pula angka pengangguran terus meningkat. Jumlah klaim pengangguran warga Amerika Serikat (AS) meningkat pada level tertinggi dalam dua bulan terakhir. (Kontan.co.id, 23 Juli 2021) 

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyatakan 22 juta pekerjaan di negara-negara kaya di dunia hilang akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak 2020 lalu. (CNBCIndonesia.com, 9 Juli 2021) 

Pandemi memang memberikan guncangan yang hebat bagi sistem di dunia ini. Bukan pandemi yang menyebabkan berbagai sektor kehidupan menjadi krisis, namun pandemi ini menguak berbagai kebobrokan yang disembunyikan. Sejak lama sistem yang berlaku memang sudah terbukti tidak mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Dapat dilihat dari berbagai laman berita yang tak henti-hentinya mengabarkan terkait kemiskinan, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, tindak kriminal, sulitnya mencari kerja dan masih banyak lagi. Pandemi ini benar-benar menjadi pukulan telak, bukti bahwa sistem yang berlaku tak mampu mengatasi. 

Pandemi yang tak kunjung mereda, ketakutan akan keberlangsungan hidup yang terus menghantui, bukankah menjadikan indikasi bahwa masalah ini butuh solusi yang tuntas? Solusi yang terbukti solutif dan mensejahterakan. 

Wallahua'alam bish Showab

banner zoom