Haid Boleh Berpuasa, Kok Bisa Dalil Dari Mana?

Oleh: Tri S, S.Si

Akun Instagram Indonesia feminis's mengunggah ulang pembahasan dari akun Instagram mubadalah.id soal 'alasan perempuan haid boleh berpuasa'. Dilihat detikcom pada Minggu (2/5/2021), unggahan itu menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa.

Hal tersebut di tangkis oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan perempuan dilarang melaksanakan puasa Ramadhan saat datang bulan atau haid. Ketentuan itu sudah dijelaskan dalam hadis Nabi dan ijma atau konsensus ulama seluruh dunia.
"Kalau perempuan haid nggak boleh puasa. Ada hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Siti Aisyah bahwa 'kan kami pernah datang bulan atau haid itu kami tidak mengkada salat, tapi harus mengkada puasa' artinya Siti Aisyah tidak berpuasa pada saat datang bulan," kata Ketua PBNU, Masduki Baidlowi, kepada wartawan, Minggu(news.detik.com, 2/5/2021)

Ada-ada saja unggahan instagram nyeleneh bin sesat . Jelas saja hal tersebut menimbulkan kontroversi di masyarakat. Orang awam pun mengerti wanita haid tidak boleh puasa ramadan. Tapi diwajibkan menggantinya, karena sudah menjadi ketentuan ijma ulama. Jaman sekarang memang semakin rusak dengan penerapan kapitalisme demokrasi, sehingga berpendapat tanpa ilmu. Oleh karenanya wajibnya menuntut Ilmu agama, sebagaimana hadits Rasulullah SAW:

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."

Sistem kapitalisme menyibukkan umat dengan urusan duniawi, sehingga umat tak sempat untuk menuntut ilmu. Padahal menuntut ilmu adalah wajib. Setara dengan jihad.

Sebagaimana Allah berfirman:
"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan(ilmu) agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. "(Surat At-Taubah, Ayat 122)

Ayat ini turun perkenaan Perang tabuk yang mana kaum muslimin berbondong-bondong untuk turut berjihad, namun Allah menegur mereka agar sebagian mereka tetap tinggal untuk menuntut ilmu Agama. Dan yang menuntut ilmu kemudian bisa mengajarkan kembali kepada yang berjihad. Karena dengan menuntut ilmu umat Islam tidak akan mudah dibodohi oleh musuh-musuh Islam.

Selain kurang ilmu karena tidak menuntut ilmu, bisa juga muslim yang pandai agama dan munafik, namun memperjualkan belikan agama demi harta dan jabatan. Nauzubillahin dzalik.

Sebagaimana firman Allah SWT:

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

Artinya: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.” (QS at-Taubah [9]: 9

Pernyataan-pernyataan nyeleneh dan menyimpang bisa terjadi ketika Sistem Islam tak diterapkan. Karena memang kenyataannya sistem kapitalisme masih bercokol sampai detik ini. Karena di saat ini orang bebas berekspresi, menurut pendapatnya sendiri. Tanpa didasari oleh akidah yang sempurna. Sudah sejatinya sistem Islam lah yang akan menjaga umat dari pandangan-pandangan yang menyimpang dan nyeleneh. Negara Islamlah akan berperan penting menjadi junnah atau perisai agar tidak ada orang yang sembarangan membuat unggahan tanpa didasari ilmu yang bersumber dari Allah SWT.
banner zoom