Jagal itu, Imam Keluarga

Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Dengan sadar, seorang pria di Surabaya membunuh istrinya yang tengah hamil dan di hadapan anaknya yang masih berusia 3 tahun. Alasannya karena cekcok rumah tangga. 

Dengan dingin pula, jasad istrinya ia gulung dengan kasur dibungkus karung plastik dan dibuang di sebuah lahan kosong di Pagesangan, Jambangan, Surabaya (merdeka.com, 22/4/2021)

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Oki Ahadian membenarkan peristiwa ini. Dan pelakunya sudah ditangkap, tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. 

Nasi sudah menjadi bubur, jikapun datang penyesalan istrinya tak akan hidup kembali. Karena kalap, dalam sekejap ia menjadi pembunuh dua nyawa sekaligus dan memaksa anaknya yang lain kehilangan sosok ibu secara paksa. Secara motif mungkin harus ditelusuri lebih mendalam lagi oleh pihak kepolisian. 

Namun secara fakta , peristiwa ini terbilang miris. Seberapa membelotnya istri tentu ada alasan sekaligus cara menyelesaikannya. Allah sendiri telah melebihkan amanah dipundak pria sebagai qowaman atau pemimpin. Rahmat Allah mendahului azabnya sehingga amanah itu datang beserta penjelasan teknis secara rinci. 

Dan salah satu yang dilarang untuk dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya memiliki sifat benci terhadap istri. Rasulullah telah mengingatkan akan hal ini melalui hadis berikut :
“Janganlah seorang suami yang beriman membenci isterinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya,” (HR. Muslim).

Allah mensifati orang beriman pada suami istri yang saling menampakkan akhlak yang baik. Dan memang rumah tangga bukan sekadar pertemuan dua manusia yang berbeda jenis, namun ada pendidikan sepanjang hidup. Bagaimana menjadi pasangan yang saling melengkapi, menjadi orangtua yang sigap mengantar putra putri buah pernikahan menjadi manusia tangguh dan bertakwa. Dan sekaligus suami istri adalah anggota masyarakat yang memiliki kewajiban amar makruf nahi mungkar. 

Dengan sistem hari ini memang sangatlah sulit, kapitalisme hanyalah berkonsentrasi pada manfaat, hidup hanya untuk bertahan hidup, jangankan saling mengingatkan, halal haram saja tak lagi dijadikan standar. Akibatnya bak di hutan, siapa kuat dia menang, dia lemah otomatis terpental. Dan dalam kapitalis, pihak pemenang hanyalah satu, yaitu mereka yang memiliki modal besar kemudian menguasai link-link strategis guna mempertahankan usahanya, salah satunya adalah negara. 

Padahal, jika melihat fakta hari ini keluargalah institusi paling lemah. Diserang dari sisi manapun, sebuah keluarga memang akan rentan mengalami goncangan. Para suami sulit mendapatkan pekerjaan, menjadi korban PHK atau work from home dengan konsekwensi gaji tidak terima utuh sebagaimana sebelumnya. 

Dari sisi pendidikan keluarga Indonesia menghadapi kenyataan pendidikan berbasis sekular, di masa pandemi menjadi berat sebab pembelajaran dilakukan secara daring dan bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya mampu mensubsidi pulsa, selain nominalnya kecil, kebijakan ini juga tak mungkin dilakukan secara normal di beberapa wilayah pinggiran. 

Belum dengan kebutuhan lain, yang sebetulnya wajib dipenuhi negara. Saat seharusnya Indonesia menjadi mandiri pangan, pemerintah justru impor, sehingga merusak harga produk berikut biaya produksi para petani. 

Manfaat, manfaat dan manfaat itulah yang menjadi nafas para kapitalis, muncullah sikap apatis, yang hanya peduli dengan diri sendiri, asal dia aman apapun dilakukan. Penggambaran bahwa Islam solusi telah kabur, sebab Islam hanya dianggap sebagai agama yang mengatur akidah saja, padahal jelas, dari apa yang dicontohkan Rasulullah Saw, Islam adalah akidah dan syariat. 

Keluarga tak seharusnya menjadi tempat jagal, karena tidak hanya satu kasus dan juga tak hanya suami bunuh istri, sebaliknya istri bunuh suami, anak bunuh orangtua dan sebaliknya. Menjadikan urgensitas kembali kepada syari'at tak boleh ditunda lagi. 

Wallahu a' lam bish showab.

banner zoom