Kelamnya Dunia Tanpa Khilafah

Oleh: Vivi Vinuwi (ibu rumah tangga)

28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M) , adalah sebuah peristiwa sejarah besar yang acap kali ditutupi. Hari itu umat Islam merasakan pahitnya hidup tanpa kepemimpinan untuk pertama kali. Institusi itu diruntuhkan oleh seorang penghianat keturunan yahudi, Mustafa Kemal Atatürk. Dan kini satu abad sudah, perisai itu belum kembali. Sejak runtuhnya Khilafah terakhir itu, kaum muslimin merasakan penderitaan demi penderitaan tiada henti. Cobaanpun datang silih berganti. 

Realitas pahit yang dirasakan kaum muslim hari ini dapat dirasakan mulai dari bagaimana negeri-negeri kaum muslim hidup dibawah aturan sistem kufur. Lahirnya ideologi kapitalisme yang melahirkan anak kandung berupa nasionalisme ini berhasil memecah negeri kaum muslim menjadi banyak negara kecil. Dengan terpecahnya menjadi negara-negara kecil kaum muslim menjadi kaum yang lemah. Sekat-sekat yang ada menjadikan kaum muslim  di suatu negeri merasa tidak bersaudara dengan kaum muslim di negara lainnya. Mereka tak lagi peduli, cenderung acuh terhadap penderitaan yang dirasakan saudaranya. Sebutlah penindasan saudara kita di Kashmir, penyiksaan saudara kita di Uighur, penderitaan saudara kita di Suriah dan sebagainya. Tak ada lagi istilah kaum muslim dengan muslim yang lainnya diibaratkan seperti satu tubuh, jikalau satu tubuh itu merasakan sakit maka bagian tubuh yang lainnya juga akan merasakan sakit. Tak banyak hal yang bisa dilakukan ketika kaum muslim terpecah-belah, kita menjadi kaum yang lemah tak berdaya yang dengan mudah dijajah.

Tak cukup sampai disitu, kekayaan alam negeri-negeri kaum muslim  terus dieksploitasi habis-habisan. Kita tidak bisa merasakan anugerah yang diberikan Allah berupa kekayaan alam yang membentang itu karena adanya campur tangan asing. Banyak masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan padahal berada di tempat yang memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa. Sebutlah di Indonesia misalnya, negara menyerahkan pengelolaan sumber daya alamnya kepada asing. Yang terjadi para kapitalis itu hanya mengeruk alamnya, sedangkan kondisi masyarakat sendiri tidak terjamin secara ekonomi dan pendidikan. Belum lagi di negeri-negeri lain, kita telah menjadi korban kapitalisme yang rakus, yang tak ada habis-habisnya menggerus kekayaan alam. Alih-alih dapat menikmatinya, masyarakat justru mendapatkan dampak buruknya, kemiskinan, kerusakan alam, susahnya mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang memadai. 

Belum lagi adanya gaya hidup serba bebas hasil turunan dari ideologi kapitalisme mengakibatkan generasi muda banyak yang terjerumus pada pergaulan bebas. LGBT, narkoba, miras, pornografi, pornoaksi merajalela tak bertepi. Banyak pemuda muslim yang terombang-ambing tak tahu jati diri. Hasil adopsi budaya barat inipun mengantarkan Indonesia sebagai negeri muslim terbesar yang juga banyak terjadi kasus aborsi, sungguh ironi. 

Tidak berhenti sampai disitu, kita bisa menyaksikan bagaimana kelamnya dunia tanpa khilafah hari ini. Bagaimana kita saksikan Rasulullah dihina, ajaran Islam dinista, tak ada khalifah yang bisa menindak dengan tegas, bahkan pelakunya bisa bebas melanglang buana sesuka hatinya. Ironisnya, umat Islam sendiri banyak yang terjangkiti islamopobhia. Mereka takut terhadap ajaran agamanya sendiri. Bahkan ada pula yang berada pada tahapan memusuhi. 

Sudah saatnya kini kita bangkit dan menyadari propaganda yang dilakukan barat untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri. Sudah saatnya kita bangun dari istirahat panjang kita, sudah saatnya kita mengambil kembali gelar ummat terbaik itu. Sudah saatnya kita berjuang bersama untuk melanjutkan lagi kehidupan Islam dalam naungan Khilafah.  Agar kita kembali mempunyai perisai, dan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb


banner zoom