Anak Muda Masih Terlena "Nyanyian" Demokrasi?

Oleh : Dwi Nesa Maulani (Komunitas Pena Cendikia)

Anggapan bahwa anak muda kurang minat dan pengetahuan terhadap politik dan kebijakan publik, skeptis akan kehidupan bernegara, bahkan mereka dianggap tidak melek politik tidaklah benar. Justru temuan terbaru lembaga survei Indikator Partai Politik menunjukkan kebalikannya. Kesimpulan dari survei Indikator adalah anak muda usia 17-21 tahun secara umum mengerti dan dapat memberikan suaranya terhadap isu-isu sosial politik bangsa. Ketika ditanya tentang berbagai hal penting dalam ranah publik, anak muda yang menjadi responden survei menunjukkan sikapnya dengan jelas. (indikator.co.id, 21/3/2021)

Temuan Indikator tersebut tentu menjadi kelegaan tersendiri karena telah menampik kekhawatiran akan abainya anak muda dalam hal politik dan bernegara. Bahkan mereka sudah terlibat politik secara daring dengan mengakses berita politik, berkomentar, sampai membagikan berita politik tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemuda adalah harapan bangsa. Pemuda memiliki potensi untuk dikembangkan dan menjadi tumpuan akan masa depan yang lebih baik. Semangat anak muda dan keterlibatan mereka dalam masalah politik dan kehidupan bernegara adalah modal besar. 

Dalam survei tersebut juga ditemukan bahwa anak muda masih mengimani demokrasi sebagai sistem pemerintahan terbaik. Mayoritas, 52.8%, merasa sangat atau cukup puas terhadap pelaksanaan atau praktik demokrasi di negara kita sejauh ini.

Sikap anak muda terkait masalah lain dalam survei tersebut, yang juga perlu mendapat perhatian yaitu, anak muda menganggap kondisi ekonomi saat ini buruk, dan pandemi covid yang mendesak untuk diselesaikan. Selain itu anak muda memiliki pandangan negatif terhadap radikalisme. Namun cukup banyak yang menganggap pemerintah tidak adil terhadap umat Islam karena umat Islam lah yang selalu dianggap radikal dan intoleran. Juga perlunya revisi UU ITE untuk menjamin kebebasan berpendapat. Kepercayaan terhadap parpol dan politisi juga rendah.

Bila kita cermati hasil survei tersebut, akan terlihat bahwa anak muda menganggap kondisi negara kita tidak sedang baik-baik saja. Mereka bisa mengindera berbagai permasalahan bangsa seperti yang dijelaskan sebelumnya. Namun mereka masih menggantungkan asa pada demokrasi. Itu artinya anak muda menganggap sumber dari berbagai penyakit di negeri ini adalah kesalahan penerapan demokrasi.

Apakah benar demikian? Salah atau benar jika disandarkan pada akal manusia akan kita dapati jawaban yang berbeda-beda tiap orang. Bagi pecinta demokrasi apapun nyanyiannya akan terasa indah. "Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat". " Kedaulatan ada di tangan rakyat". " Demokrasi menjunjung kebebasan". Itu yang sering kita dengar. Membius dan melenakan. Tapi sayang kata-kata indah itu hanya utopis tak pernah terwujud.

Sejak Indonesia memakai demokrasi tak pernah rakyat menikmati buah manisnya. Menjelang pemilu rakyat dielu-elu, selesai pemilu rakyat dibuat pilu. Kedaulatan juga tidak pernah ada di tangan rakyat. Pernahkah seluruh rakyat dilibatkan dalam pembuatan undang-undang? Tidak pernah. Karena mustahil itu terjadi. Berarti omong kosong kedaulatan ada di tangan rakyat. Yang ada malah kedaulatan ada di tangan pembuat undang-undang dan pemilik modal yang memodali penguasa ketika pemilu. Akibatnya peraturan yang dibuat tak heran condong ke pemilik modal. Demokrasi hanya dijadikan sebagai kendaraan bagi siapapun penguasa dan pengusaha untuk mencapai tujuan.

Kebebasan dalam demokrasi juga pilih kasih. Nyatanya orang yang cinta syariat Islam dianggap radikal. Tak mau dipimpin pemimpin kafir dicap tidak toleran.padahal memang begitu perintah Allah SWT. Dimana letak kebebasannya? Sedangkan orang yang tidak menutup aurat dibiarkan dengan alasan kebebasan. Padahal melanggar hukum Allah SWT, mencemari penglihatan orang lain, merusak akal, dan menimbulkan mudharat lain. Jelas kebebasan yang tebang pilih bukan?

Semua itu karena demokrasi lahir dari akal manusia bukan Sang Pencipta. Artinya demokrasi pasti tidak sempurna. Jargon-jargon indah itu hanya khayalan tak pernah ada bukti konkrit. Segala permasalahan yang ada, bukan lagi kesalahan penerapan demokrasi. Tapi karena demokrasi diterapkan, akhirnya timbul berbagai permasalahan. Anak muda sadarilah, demokrasi tak layak pakai. Tak akan mampu membuat negeri ini berubah menjadi semakin baik.

Kembali ke pertanyaan apakah semua permasalahan negeri ini akibat kesalahan penerapan demokrasi? Maka untuk menjawabnya harus kita sandarkan kepada Dzat Yang Maha Benar. Allah SWT tak pernah menurunkan demokrasi sebagai sistem pemerintahan untuk diterapkan. Yang diperintahkan Allah SWT untuk dilaksanakan adalah syariat Islam. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al Baqarah:208)

Islam agama yang sempurna. Segala aspek kehidupan diatur dalam Islam termasuk urusan politik dan kenegaraan. Berbeda dengan Demokrasi, paradigma politik Islam menempatkan kekuasaan sepenuhnya untuk mengurus rakyat dengan aturan dari Allah SWT. Tidak perlu mahar politik, penguasa akan dipilih secara sukarela oleh rakyatnya melalui bai’at. Rakyat juga berhak meminta penguasa mundur dari jabatannya jika dianggap tidak layak mengurusi mereka.

Politik Islam memposisikan penguasa sebagai pelayan bagi rakyat bukan bagi pengusaha. Semua pengaturan rakyat dalam politik Islam dijalankan di atas ketakwaan kepada Allah SWT. Berstandar halal haram.

Maka dari adanya perbedaan tersebut seharusnya sudah bisa ditebak sistem mana yang bisa membawa perubahan hakiki. Anak muda melek politik, bagus. Anak muda paham Islam, jempol.
banner zoom