Musibah Beruntun Melanda Indonesia

Oleh: Bu De Heri (Aktivis Muslimah Bangka Belitung)

Indonesia saat ini dilanda musibah yang silih berganti, mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 128 rute Jakarta- Pontianak yang jatuh pada tanggal 9 Januari 2021. Pesawat ini membawa 50 penumpang dan 12 kru. Belum lagi selesai evakuasi korban penumpang dan serpihan pesawat, kita sudah dikejutkan dengan gempa yang terjadi di Sulawesi Barat yang berkekuatan 6,2 SR yang mana gempa ini menelan puluhan jiwa, terus di sambung lagi dengan tanah longsor yang terjadi di Sumedang, Jawa Barat yang disebabkan curah hujan beberapa hari. Tanah longsor di Sumedang ini menewaskan 25 orang dan 15 orang lainnya masih tertimbun. Belum lagi banjir yang terjadi di Jembrena Bali, banjir di Kalimantan Selatan, banjir di Jember, Jawa Timur, banyak rumah dan ternak yang hanyut, dibawa oleh banjir. Sementara pandemi Covid -19 bukannya berkurang tapi semakin bertambah setiap harinya. 

Kalau kita mau berpikir dan merenung ada apa di balik semua musibah ini, takut dan ngeri kita di buatnya. Akibat musibah yang terjadi membuat kita benci karena kehilangan tempat tinggal, harta, keluarga, hewan peliharaan dan sebagainya. Musibah menjadikan bukti bahwa kekuasaan itu hanya milik Allah SWT. Musibah yang terjadi harus kita jadikan teguran untuk mengintropeksi diri dengan menanyakan diri kita sudah sejauh mana kita menjalankan perintah Allah SWT serta menjauhi laranganNya. Cobalah kita mengingat maksiat apa yang telah kita lakukan, seharusnya kita bertanya dalam hati kita sejauh ini apa bekal yang akan kita bawa untuk hidup kita yang abadi nanti. Apa lagi kita hidup diakhir zaman di mana ilmu sudah mulai diangkat satu-persatu oleh Allah SWT dengan di wafatkanya para ulama – ulama. 

Marilah kita belajar selagi masih diberi Allah sisa usia dan Allah belum mengambil orang- orang pintar /para ulama di muka bumi ini. Marilah kita bertobat untuk mau menerapkan hukum Islam secara kaffah, yang berasal dari Al-Qur'an, As- Sunnah dan Ijma' Sahabat. Semua bencana harus di sikapi secara tepat oleh setiap muslim. Sejatinya semua itu bagian dari sunnatullah yang merupakan Qadha dari Allah SWT. Yang tidak mungkin ditolak maupun dicegah, bagaimana kita menyikapi yaitu dengan ridho dan sabar baik oleh korban maupun keluarga korban. Bagi kaum mukmin Qadho itu adalah ujian yang datang nya dari Allah, selain ujian bencana apa pun yang menimpa seorang mukmin bisa menjadi wasilah bagi penghapusan dosa-dosanya. Dosa bisa terhapus jika orang tersebut menyikapi dengan keridhoan dan kesabaran. Namun ada pula faktor yang menyebabkan terjadinya bencana bahkan bertubi-tubi, semua ini akibat dosa dan kemaksiatan  manusia akibat tidak mau menerapkan syariat Allah SWT. Misalnya banjir sebenarnya bisa dikendalikan oleh manusia. Dalam hal ini menyangkut kebijakan penguasa terkait pemanfaatan lahan, perencanaan pembangunan, yang dikaitkan dengan pengelolaan tata ruang kawasan.

 Namun penerapan sistem sekuler kapitalis yang dianut negeri ini, telah melegalkan penggunaan lahan dan infrastruktur atas nama mengenjot investasi dan pertumbuhan ekonomi. Penebangan hutan dan ahli fungsi lahan didataran tinggi menyebabkan tanah tidak mampu menahan erosi yang berujung longsor. Begitu pula dengan gempa seharusnya bisa diantisipasi dengan kontruksi bangunan tahan gempa. Dari berbagai riset geologi ada beberapa ahli kontruksi berpendapat kalau gempa 7 SR sekali pun seharusnya tidak mecelakakan. Namun  ini semua diabaikan oleh penguasa. Inilah  bentuk kelalaain pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab dalam pencegahan dan penanggulangan sesuatu yang berbahaya bagi masyarakat. Kelalaian ini merupakan suatu kemaksiatan, jadi tak heran kalau bencana selalu menghampiri negeri ini. Diceritakan pada zaman khalifah Umar r.a pernah juga terjadi gempa bumi. Khalifah Umar r.a langsung mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah SWT yang mana pada saat itu bumi sedang berguncang dengan hebat, sambil memukulkan cambuknya kebumi dan berkata " Tenanglah engkau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepada-Mu", Seketika itu pun bumi berhenti berguncang. Imam Al-Hawamain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi dikarena khalifah Umar r.a adalah Amirul Mukminin secara lahir dan bathin. Beliau adalah khalifah Allah bagi bumi dan penduduknya. Atas keadilan yang di lakukan oleh Umar ra sebagai khalifah Allah sanggup menjadikan bumi bersahabat dengan manusia. Sebaliknya kezaliman penguasa bisa menyebabkan bumi terus berguncang.

Saat menafsirkan surat Ar-Rum ayat 41 Ibnu Katshir mengutip pernyataan Al-Aliyah terkait kerusakan di bumi, katanya siapa saja yang bemaksiat kepada Allah dimuka bumi maka sungguh ia telah merusak bumi, sungguh kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan kepada Allah SWT. Itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri bencana ini tidak lain segera bertobat kepada Allah SWT, tobat harus dilakukan oleh semua rakyat Indonesia. Mereka semua harus bertobat dari dosa maksiat serta ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah disaat manusia tidak mau menerapkan hukum Allah SWT. Seperti fiman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 96, tobat harus dibuktikan dengan kesedian penguasa untuk mengamalkan dan menghalalkan syariah Allah SWT secara keseluruhan dalam semua aspek kehidupan seperti pemerintahan, pendidikan, sosial, perekonomian, kesehatan,  politik, hukum , dan sebagainya. Jika syariah Islam diterapkan secara kaffah, pasti keberkahan berlimpah ruah memenuhi bumi. Ini adalah wujud ketaqwaan kita.

Wallahu’alam bis showab


banner zoom