Kriminalitas Meningkat, Ada Apa Dengan Anak Muda Zaman Now?

Oleh: Dhiniaty Amandha (Praktisi Pendidikan)

"Anak muda zaman now" tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Namun apa sebenarnya karakter yang dibangun dari prespektif istilah tersebut? Banyak sekali cuitan di media sosial meramaikan komentar dengan istilah ini. Zaman now artinya zaman sekarang, sehingga bisa diartikan anak muda zaman sekarang. 

Fakta di masa pandemi Covid-19 yang menimpa dunia, kasus kriminalisasi yang dilakukan anak muda justru meningkat. Di Kabupaten Madiun kasus anak muda hamil duluan naik signifikan, lebih dari 100 % dibandingkan kasus serupa pada tahun sebelumnya. Konsumsi disertai pesta menggunakan miras oplosan dan narkoba oleh anak muda juga meningkat. Aksi pembegalan oleh anak muda juga marak. Termasuk meningkatnya anak muda yang terlibat dalam jaringan prostitusi online (www.liputan6.com, 27/11/2020). Tentu yang terlibat adalah anak muda yang berada pada masa produktifitasnya. Masih banyak fakta lain yang mengungkap bahwa kasus kriminalitas anak muda saat ini sangat memprihatinkan. Bahkan terjadi di lingkungan sekitar kita. 

Sebenarnya apa yang menjadi pangkal sebab anak muda kian hari terperosok dan jauh dari harapan kebangkitan?  Apakah teknologi yang canggih masih belum memadai untuk menjadi sarana bagi anak bangsa dalam mencapai keemasannya? Fakta yang terjadi justru kecanggihan teknologi menjadi ‘pembawa’ arus kerusakan anak muda. Anak menjadi lalai akan segala hal baik dan produktif yang harus dilakukannya. Bahkan tidak sedikit orangtua yang menyalahkan teknologi atas kerusakan pada anaknya. Menyalahkan teknologi, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Karena teknologi hanya sarana. Bagaimanapun teknologi mempunyai dampak positif yang banyak bagi kehidupan manusia. Lalu apa yang harus kita benahi?

Informasi. Secara tidak sadar pola pikir manusia tergantung atas informasi yang ia terima. Pola pikir itu membentuk menjadi sebuah persepsi. Dari persepsi inilah yang nantinya akan menentukan tindakan dan berakhirlah menjadi sebuah kebiasaan jika dilakukan terus menerus. Jika informasi yang disaring adalah informasi yang positif maka akan terbentuklah kebiasaan yang membawa anak pada hal yang positif, dan sebaliknya. Jika informasi yang diterima terus menerus adalah tentang musik, maka anak akan berfikir bahwa musik itu menyenangkan. Sehingga dalam tindakannya ia gemar bermain alat musik dan terbiasa memainkannya. 

Jika menginginkan anak yang cerdas, taat kepada Allah, dan hal-hal baik lainnya maka gantilah informasi pada anak tersebut. Tentunya tidak semua anak muda pada zaman ini yang terlena akan buaian dunia. Masih ada anak muda yang sangat perduli akan peradaban dunia. 

Mengapa anak muda harus peduli dengan peradaban? Karena anak mudalah yang nantinya akan meneruskan apa-apa yang ada pada peradaban saat ini. Jika saat ini anak muda tidak mengambil peran maka di masa yang akan datang, merekalah yang akan mengemban kesengsaraannya. Tentu jika informasi yang diterima saat ini hanyalah kesenangan dunia semata, maka apa yang akan menjadi pencapaian? tidak lain dan tidak bukan hanyalah materi dan kepuasan akan nafsu dunia. 

Mari kita sedikit mengulik sejarah anak muda pada masanya. Mungkin cerita ini sudah sangatlah lampau. Ya, jika dibahas dari sisi teknologi tentulah tidak akan sama dengan apa yang ada di depan mata anak muda saat ini. Tapi ada hikmah dan pelajaran yang agung atas sejarah ini.

Muhammad al-Fatih salah satu dari banyaknya pejuang Islam. Beliau dijuluki seorang penakluk. Sejarah mencatat dalam usianya yang masih terbilang sangat muda yaitu 12 tahun, Beliau sudah diangkat menjadi Sultan Turki Ustmani (30 Maret 1432 - 3 Mei 1481). Pada usia ke 21 tahun, Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan konstantinopel. Ibukota dari negara super power yang memiliki benteng legendaris yang tidak pernah tertembus musuh sebelumnya. Kota tersebut jatuh ke tangan Islam. 

Muhammad al-Fatih juga mempunyai penguasaan dalam bidang ketentaraan, sains dan matematika. Bahkan mampu menguasai 6 bahasa. Berkat karakter kepemimpinan yang ditanamkan sejak kecil, Muhammad al-Fatih membuat banyak kawan dan lawan kagum atas kepemimpinannya. Serta kecerdasan taktik dan strateginya dalam berperang.  Tentunya semua itu adalah hasil dari motivasi dan didikan dari orangtua dan guru yang sangat luar biasa. 

Masih banyak lagi inspirasi yang dapat diambil dari kisah Muhammad al-Fatih. Akan sangat panjang jika harus menguraikannya pada tulisan ini. Namun dengan sepenggal cerita di atas, muncul sebuah pertanyaan, "apa yang membuat Muhammad al-Fatih begitu bersemangat dalam menggapai keinginannya?". Tentu bukan harta ataupun tahta, apalagi wanita. Akan tetapi ketaqwaan lah yang menjadi jawaban dari bisyarah Rasulullah yang tertera pada hadistnya. “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanval Al Musnad).

Muhammad al-Fatih sangat yakin bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah berbohong, dan Muhammad al-Fatih ingin memenuhi perkataan Rasulullah tersebut atas cintanya kepada Rasulullah dan agama yang dibawakannya. 

Kembali kepada point informasi, tentu informasi yang diterima oleh Muhammad al-Fatih dari sejak kecil bukanlah informasi yang membawanya akan kesenangan dunia. Karena beliau tahu bahwasanya ketika kita berjuang untuk akhirat, maka dunia dan seisinya akan di tangan. 

Anak muda seharusnya tidak buta akan sejarah kebangkitan. Bagaimanapun Islam pernah berada pada masa keemasannya. Tidakkah kita ingin membangun peradaban ini dengan belajar dari sejarah kebangkitannya? Mari rubah informasi!

banner zoom