Demi Materi, Hilang Harga Diri

Oleh : Ismawati (Ibu Peduli Generasi) 

RE Koswara ( 85 ) kakek asal Kecamatan Cinambo kota Bandung yang digugat anaknya dengan meminta ganti rugi Rp 3 milyar lebih merupakan pengelola bioskop mawar yang legendaris di Bandung. Dari peristiwa ini, maka tak ada satu orang tua pun yang membayangkan akan digugat oleh anak kandungnya sendiri. Anak yang dibesarkan, diberikan pendidikan dan berbagai kebutuhan hidup. Namun inilah realita memilukan yang dialami oleh tiga orang tua di Indonesia. Kisah memilukan serupa terjadi dalam sepekan. Kasus anak yang mengugat orang tua kandungnya (Tribunnews.com, 22/01/21).


Inilah sepenggal kisah yang memilukan yang di alami para orang tua hari ini. Terlebih lagi di masa pandemi yang tampaknya belum akan berakhir. Bukannya memperhatikan kesehatan atau suplai gizi yang di konsumsi, justru mereka malah menuntut harta warisan yang belum waktunya dibagi, sebab yang empunya harta belum meninggal. Dulu para Ayah senang sekali melihat anak-anaknya saat masih kecil, lucu dan imut. Dulu para Bunda sangat senang melayani si anak yang masih lugu. Kini seorang Ayah atau Bunda disibukkan dengan urusan pembagian harta warisan. Betapa banyak kebaikan orang tua yang dibalas dengan akhlak yang tidak terpuji. 


Dialah orang tua yang selalu mendoakan anak-anaknya secara sembunyi maupun terang-terangan. Namun ketika orang tua membutuhkan peran anak dikala ia sudah tua renta, justru dijadikan barang yang tidak berharga. Inilah produk sistem sekuler yang sudah meracuni setiap pemikiran manusia, yang dengan sistem ini mereka mencoba menggeser nilai-nilai hakiki yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. Sistem pemisahan agama dari kehidupan membuat kedangkalan berpikir seseorang. Asas manfaat yang mereka kedepankan melahirkan harta sebagai tujuan, maka sudah pasti terkoyaklah nilai-nilai empati. Tak ada lagi belas kasihan dibenak mereka, justru tuntutan demi tuntutan yang mereka kedepankan. 


Bukankah Allah Swt dengan tegas memerintahkan seorang anak harus berbuat baik terhadap orang tuanya (birrul walidain), sebagaimana firman Allah Swt, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kedua nya perkataan "ah". Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (TQS. Al-Isra: 23).


Kemudian ada beberapa Hadits dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, ia bercerita "Suatu hari ada seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, sesungguhnya aku memiliki harta akan tetapi bapakku ingin mengambil harta itu dariku. Rasulullah menjawab "Kamu dan hartamu milik bapakmu." (H.R Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud). 


Hikmah yang terkandung dalam ayat dan hadist di atas bahwasanya perintah birrul walidain adalah dengan memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Karena semua harta kita adalah milik orang tua seperti firman Allah Swt, "Mereka berkata kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada Ibu Bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu peruntukan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (TQS. Al-baqarah: 215).


Maka dari itu, apabila seorang anak sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkan yang pertama adalah orang tuanya karena keduanya memiliki hak tersebut.


Imam Adz-dzahabi pernah berkata, "Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup, dengan suara yang paling keras". 


Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa diukur dengan materi walaupun seandainya harta yang kita miliki berlimpah tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa orang tua.

Wallahu'alam. 

banner zoom