Covid-19 Belum Reda, Anggaran Baju Tetap Ada


Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd (Lingkar Studi Muslimah Bali)


Bagaimana kira-kira respon masyarakat jika mengetahui wakil rakyatnya berencana menganggarkan APBD untuk pengadaan baju dinas dimasa penanganan Covid-19? Terkejut, syok, atau justru biasa saja?


Tak habis pikir dengan rencana pengadaan baju dinas disaat kondisi pandemi seperti saat ini. Terlebih lagi pengadaan tersebut justru memakai dana rakyat yang diambil dari kas APBD. Kabar ini datang dari DPRD Bali yang terungkap melalui laman lpse.baliprov.go.id dengan kode tender 9715033. Website tersebut adalah sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang dikelola langsung oleh pihak Pemprov Bali. (6/2/2021, radarbali.jawapos.com)


Lebih mengejutkan lagi bahwa tercatat anggaran yang akan digunakan untuk pengadaan baju dinas beserta atributnya mencapai Rp 883.160.000,00. Sungguh nilai yang sangat fantastis. Pengadaan baju dinas ini pun sudah dibenarkan oleh panitia pengadaan baju seragam DPRD Bali, Ketut Marga, seijin Sekwan DPRD, Bali Gede Suralaga. 


Padahal di sisi lain, di masa pandemi Covid-19 saat ini, justru masyarakat sangatlah kebingungan dalam faktor ekonomi, mencari pekerjaan kesana kemari demi sesuap nasi pengganjal lapar. Namun sepertinya para wakil rakyat lebih mementingkan seragam dinasnya. Ironi yang tak segera terselesaikan.


Kondisi ini sangatlah berbeda dengan masa para sahabat sepeninggal Rasulullah. Di masa Umar bin Khattab misalnya. Siapa yang tak tahu sosok Umar bin Khattab? Seseorang yang tangguh, tegas dan keras. Bahkan ia sampai ditakuti oleh syaitan. Namun saat Ia memeluk Islam, sosoknya menjadi penolong Islam.


Lebih daripada itu, Umar adalah seorang Khalifah yang menggantikan posisi Abu Bakar memimpin Negara Islam. Pada masanya, Ia mampu menaklukkan wilayah Mesopotamia, sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, dan Armenia ke dalam kekuasaan Islam. Sungguh Umar adalah sosok yang memiliki power yang super.


Di balik kekuatannya, sosok Umar tetaplah pribadi yang biasa dan sederhana. Bahkan saat putranya meminta baju baru, Ia tak mampu membelikannya. Putra Umar, yakni Abdullah bin Umar bin Khattab suatu ketika menangis di hadapan ayahnya. Berulang kali putranya selalu pulang dalam keadaan menangis. Namun putranya belum mau jujur atas hal yang menimpannya.


Melihat putranya yang terus menerus menangis, rasa iba sang Khalifah muncul. Ditanyakan kepada putranya, “Wahai anakku, ada apa denganmu?”. Barulah si putra Amirul Mukminin bercerita kepada ayahnya.


Diceritakanlah bahwa ia selama di sekolah selalu diejek oleh teman-temannya, dan diolok-olok tentang baju yang ia pakai. Pasalnya baju sang anak Khalifah ini dipenuhi dengan tambalan dimana-mana. Setelah mendengar curhatan putranya, Umar pun ikut bersedih.


Putra sang Khalifah lalu memintanya untuk membelikan baju baru agar tak lagi diejek atau diolok-olok oleh teman-temannya. Namun sang Khalifah bingung, karena ia tak memiliki cukup uang untuk membelikannya. Lantas ia pun berpikir untuk meminjam uang ke baitulmal Negara.


Umar pun mengirim surat kepada kepala baitul mal dengan maksud meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju baru anaknya. Adapun isi suratnya kurang lebih seperti ini:


"Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek. Untuk pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan. Semoga Allah merahmati kita semua."


Mendapati surat dari sang Khalifah Umar, kepala baitul mal tak lantas mengabulkannya. Justru ia memberikan surat balasan yang bunyinya, kurang lebih seperti ini: 


"Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari gaji Engkau sebagai khalifah setiap bulan. Tetapi, sebelum pengajuan itu kami penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana Engkau yakin bahwa besok engkau masih hidup?"


Menerima balasan dari kepala baitul mal seperti itu, badan Umar terasa lemas karena ia tak yakin akan bisa hidup sampai hari esok ataukah sebulan seperti yang kabarkan di surat permohonan.


Umar tersungkur memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang sempat ia lakukan. Kemudian ia menemui putranya dan menasihatinya agar jangan merasa rendah di hadapan manusia hanya sebatas dari pakaian saja. Sesungguhnya bagusnya seseorang dilihat dari akhlaknya, bukan dari pakaiannya.


Diyakinkan seperti itu, putra Umar pun merasa bersalah juga dan tak akan meminta hal-hal yang sekiranya memberatkan pikiran ayahnya. Dan ia pun bersyukur memiliki ayah yang hanya takut kepada Rabbnya saja, bukan perkataan manusia.


Sayangnya ketundukkan dan ketakutan kepada Tuhan semesta alam tak lagi dihiraukan oleh para pemimpin umat saat ini. Bahkan istilahnya adalah aji mumpung. Mumpung menjadi penguasa, maka bisa melakukan apa saja demi kepentingannya ataupun golongannya. Tanpa memperhatikan kepentingan umat lagi.


Atau dengan kata lain, mumpung ada dana, maka alokasikan untuk keperluan pribadi atau golongannya saja. Kemumpungan-kemumpungan inilah yang menjadikan segala problematika manusia tidak segera terselesaikan dengan sempurna. Hanya tambal sulam saja. Gali lubang tutup lubang.


Sungguh perbedaan yang sangat nyata dan kepemimpinan di dalam Negara Islam tak mungkin bisa tertandingi oleh kepemimpinan dengan asas materialistik seperti ini. Maka untuk mengembalikan Islam dalam posisi terunggulnya, umat Islam wajib mengembalikan kehidupannya beserta seluruh pengaturan Islam hanya kepada Negara Islam saja. Karena hanya dengan pengaturan Islam di dalam Negara Islamlah yang mampu menuntaskan segala problematika umat manusia saat ini.


Wallahu a’lam bish showab.

banner zoom