Ibu Yang Dipenjara Karena Laporan Anaknya Untuk Mencari Keadilan Katanya

Penamabda.com - Anak mana yang tega penjarakan ibu kandungnya sendiri? Jawabnya anak yang tidak memiliki nilai Islam didalamnya dan memiliki berbagai masalah kehidupan lainnya di sistem demokrasi kapitalisme. 

Tak jarang kita temukan kasus pelaporan yang dilakukan seorang anak pada ibu kandungnya. Atau yang saat ini masih hangat menjadi buah bibir di tengah masyarakat, berita seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 

Mahasiswi berinisial A (19) mengungkapkan alasannya melaporkan ibu kandungnya sendiri ke polisi. Alasan ingin mencari keadilan, mahasiswa ini ngotot melanjutkan laporannya. Meski sudah didamaikan. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota. (detiknews, 9/121)

S mengatakan bahwa rumah tangganya sudah bermasalah sebelum perceraian dengan sang suami. Namun suatu ketika, ia terlibat pertengkaran dengan anak sulungnya itu. Polisi sendiri sebenarnya berupaya melakukan mediasi konflik antara ibu dan anak ini. Sang ibu pun sebenarnya sudah berusaha meminta maaf kepada sang anak. Anehnya, komunikasi itu selalu gagal dan masalah ini selalu menemukan jalan buntu. Karena itulah, mau tak mau polisi harus melanjutkan proses penyidikan.

Hal yang sama juga terjadi sebelumnya pada seorang anak yang berinisial M (40), warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB)  datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor. 

Namun, laporan M malah ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono. (tribunnews.com, 29/6/20)

Mengapa kedua kasus di atas terjadi di tengah-tengah kehidupan kita? Manusia seolah tak lagi memiliki akal sehat dan hati nurani anak pada ibu yang melahirkannya jadi mati. Penerapan sistem salah menjadi penyebab utama semua ini bisa terjadi. 

Publik akan terus bertanya-tanya, kenapa bisa seorang anak tega melaporkan bahkan ingin penjarakan ibu kandungnya sendiri? Namun, inilah sistem demokrasi, tindakan seperti ini mudah terjadi dalam sistem ini, karena menuhankan aturan manusia. Padahal aturan Sang Pencipta, Allah SWT yang paling benar dan mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.

Banyak kasus diluar sana yang menjadi penyebab anak melaporkan ibu kandungnya. Ada karena masalah harta warisan, utang piutang, penganiayaan, salah paham dan lainnya. 

Secara etika, seorang anak harus tetap berbakti dan bersikap baik kepada ibunya seburuk-buruk apapun perlakuan sang ibu kepada sang anak. Namun hal ini tidak terjadi di Demak, Jawa Tengah. Di sana, seorang ibu ditahan di kantor polisi karena dilaporkan oleh anak kandungnya sendiri.

Potret buram remaja sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman dan prilaku remaja. Untuk itu diperlukan peran dari berbagai unsur : sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada remaja, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa. Semuanya harus bersinergis untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.

Komunikasi keluarga yang terbangun antara ayah, ibu, dan anak merupakan sumber utama pendidikan karakter keluarga. Dalam Islam, ayah diposisikan sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap produk pendidikan dalam keluarga. Maka seorang ayah, selain berkewajiban mencukupi nafkah keluarga, dia harus menanamkan akhlaq yang mulia kepada istri dan anak-anaknya. Sedangkan ibu berkewajiban mendidik anak-anaknya (hadlanah) sejak di kandungan hingga dewasa tanpa dibebani kewajiban bekerja.

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Alllah SWT.

Maka kualitas orang tua sangat berpengaruh pada kualitas anak-anak tersebut. Mereka yang hidup dengan berburu, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana hidup di hutan, mencari hewan buruan, menjebak atau menjinakkannya. Mereka yang hidup dengan bertani, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana bercocok tanam, menemukan tanah yang sesuai tanamannya, kapan saat yang tepat untuk memupuk, menyingkirkan gulma hingga memanen. Dan mereka yang hidup dengan berdagang, pasti sejak dini mengajak anak-anaknya mengenal bisnis.

Sistem Islam berbeda dengan sistem Kapitalisme. Khilafah Islam adalah sebuah konsep pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara diatur dengan syariat Islam. Penerapan Islam oleh negara mewujudkan tidak hanya kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya.

Dalam Islam, sekalipun negara tidak mencampuri urusan privacy sebuah keluarga, akan tetapi negara memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga mampu melahirkan generasi berkualitas. Negara memastikannya melalui serangkaian mekanisme kebijakan yang lahir dari hukum syariat. 

Negara Khilafah berkewajiban memastikan setiap individu, keluarga, dan masyarakat bisa memenuhi tanggung jawabnya memenuhi kesejahteraan. Wallahu a’lam bishshawwab.

Oleh : Khoirotiz Zahro Verdana, S.E. (Muslimah Surabaya)

banner zoom