Bencana Mengepung, Rakyat Butuh Solusi

Oleh: Candra Windiantika

Pandemi virus Corona belum juga reda, tapi bencana datang silih berganti. Mulai dari gempa hingga banjirpun datang melanda. Padahal kita masih berduka dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya dan meninggalnya para ulama.

Seperti diketahui, Jumat (15/1) pukul 1.28 dini hari gempa bumi mengguncang wilayah Majene, Mamuju dan sekitarnya. Gempa bumi dengan Magnitudo 6,2 dengan kedalaman 10 Km yang berpusat di timur laut Majene, Sulbar, terasa hingga Palu, Sulawesi Tengah, dan wilayah Sulawesi Selatan. Informasi terakhir dari BNPB menyebutkan, di Majene terdapat 8 warga meninggal dunia, sekitar 637 orang mengalami luka-luka dan 15.000 lainnya mengungsi. (m.jpnn.com, 15/01/2021)

Selain itu banjir juga melanda sejumlah daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Setidaknya 1.500 rumah warga di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalsel kebanjiran. Ketinggian air mencapai 2-3 meter. Dua daerah terparah yang terkena banjir yaitu Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut.

Hujan deras yang merata selama beberapa hari terakhir diduga menjadi penyebab. Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja juga membenarkan hal tersebut. Kendati demikian, masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini.  Menurutnya bencana semacam ini terjadi akibat akumulasi dari bukaan lahan tersebut. Karena banjir tahun ini lebih parah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Dari data yang dimilikinya, pembukaan lahan terutama untuk perkebunan sawit terjadi secara terus menerus. Dari tahun ke tahun luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar. (Kompas.com, 15/1/2021)

Memang bencana atau musibah yang melanda adalah ketetapan Allah yang harus diterima dengan sabar dan ikhlas. Namun Allah juga memperingatkan jika bencana yang terjadi juga melibatkan tangan manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

Seperti musibah banjir yang terjadi kali ini. Bukan hanya soal curah hujan yang tinggi, namun banyaknya tambang batu bara dan perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab banjir. Pasalnya banjir tidak akan terjadi jika hutan yang fungsinya menyerap air tidak tergusur dengan tambang dan perkebunan.

Begitulah keadaan ketika mengadopsi sistem kapitalisme di dalam sebuah negara. Karena keuntungan secara materi menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan. Standar yang digunakan adalah asas manfaat. Tanpa mempedulikan dampak yang akan terjadi kedepannya. Hutan dan lahan bebas dimiliki dan dimanfaatkan siapa saja meskipun kedepannya bisa berdampak buruk bagi jutaan orang.

Berlainan dengan kapitalisme, Islam mengatur kepemilikan, lahan-lahan yang mempunyai pengaruh terhadap kemaslahatan rakyat banyak tidak boleh dimiliki oleh swasta, tapi harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat banyak, bukan hanya pemilik modal. 

Semua bencana ini baru sebagian dari peringatan Allah Swt. Akibat dari kemaksiatan dan kedzaliman yang terjadi di tengah umat manusia. Tujuannya agar manusia segera sadar dan kembali pada syariah-Nya. Allah SWT berfirman:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah SWT) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Karena itu, tidak ada cara lain untuk mengakhiri segala musibah kecuali dengan mencampakkan akar penyebabnya, yakni ideologi dan sistem kapitalisme yang jelas jelas buatan tangan manusia. Untuk kemudian menggantinya dengan Ideologi dan sistem dari Allah swt yaitu sistem Islam dan menerapkannya secara menyeluruh di dalam sebuah negara. Termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Wallahu a'lam bishshawab.

banner zoom