Arah Pendidikan Semakin Sekuler dan Berorientasi Materi?

Oleh: Firda Umayah, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) meminta agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim segera diganti. Dia melihat,  saat ini krisis atau darurat pendidikan yang terjadi sepanjang pandemi Covid-19 belum bisa tertangani dengan baik dan belum ada terobosan yang dilakukan Nadiem sebagai solusi dalam mengatasi darurat pendidikan nasional (okezone.com/16/01/2021).

Program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021 yang baru saja diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka juga menuai kontroversi. Program ini dirasa akan menggadaikan potensi generasi unggul hanya untuk mengejar karir dimasa depan bersama para korporasi. 

Padahal, tujuan pendidikan yang utama adalah pembentukan karakter yang mandiri, berilmu dan bermoral. Artinya, pendidikan tak melulu membahas terkait bagaimana cara mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan penghidupan yang layak. 

Bahkan krisis moral yang saat ini terjadi dikalangan pelajar dengan banyaknya kasus kekerasan seperti tawuran dan perundungan (bullying), sex bebas, narkoba, dan lain sebagainya merupakan permasalahan serius yang harus segera diselesaikan. Sebab, bagaimana bisa bangsa ini bangkit jika generasinya tidak bermoral? Bagaimana pula jika generasi hanya mementingkan materi seperti program-program yang sarat akan kepentingan korporasi? 

Tak heran, ketika sistem sekularisme menjadi dasar atas aturan dalam kehidupan, maka akan melahirkan masyarakat yang haus akan pemenuhan materi belaka. Termasuk generasi justru diarahkan menjadi para pekerja di perusahaan yang dimiliki para kapitalis dan korporasi. Walhasil, arah pendidikan pun sangat erat dengan orientasi materi. Jika hal ini terus dibiarkan maka potensi generasi unggul tidak akan mampu memajukan bangsa sendiri lantaran segala potensi telah tercurahkan untuk para korporasi.

Hal ini sangat berbeda didalam sistem pendidikan Islam. Pendidikan dalam Islam ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam, menjadi pengemban dakwah dan pribadi yang unggul dalam ilmu sains dan teknologi demi kemajuan umat manusia. Dalam pendidikan dasar, sistem pendidikan Islam berorientasi kepada penanaman dan penguatan ada aqidah Islam. Selanjutnya, semua pelajar dipahamkan akan hukum-hukum syariat Islam dan keterampilan yang dibutuhkan didalam menjalani kehidupan. 

Barulah ditingkat lanjut, para pelajar diberi pilihan untuk memfokuskan dirinya dalam mempelajari sains dan teknologi demi kemajuan kehidupan manusia. Namun, meskipun sudah tingkat lanjut, dasar dari sistem pendidikan tetaplah aqidah Islam. Artinya, jika segala ilmu yang dipelajari tidak boleh bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam. 

Sistem pendidikan Islam yang telah diterapkan pada masa kepemimpinan negara Islam yakni Khilafah telah melahirkan generasi unggul yang beriman, bertakwa dan berwawasan luas. Banyaknya ilmuwan muslim yang telah memberikan sumbangsih besar kepada peradaban umat manusia di dunia merupakan bukti atas kegemilangan sistem pendidikan Islam. Hanya saja, sistem pendidikan ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa ditopang dengan sistem lain seperti sistem pemerintahan dan sistem ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam. Sebab, pada dasarnya Islam akan mampu menjadi solusi tuntas atas permasalahan hidup manusia jika diterapkan secara menyeluruh.

banner zoom