Bencana Melanda, Segeralah Kembali PadaNya

Oleh: Fera Ummu Tufail (aktivis muslimah Malang Raya)

Di awal tahun 2021 telah banyak musibah dan bencana alam yang melanda negeri Indonesia ini. Silih bergantinya bencana dan musibah menelan banyak korban yang tidak sedikit. Diawali dengan bencana alam tanah longsor di desa cihanjuang, kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang Jawa barat pada Sabtu (9/1/21). Dalam bencana ini 3 orang mengalami luka berat dan 22 orang luka ringan. 

Pada hari yang sama terjadi kecelakaan pesawat yang memilukan. Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh di perairan kepulauan seribu. Pesawat rute Jakarta pontianak yang membawa 62 penumpang tersebut lepas landas dari bandara soekarno hatta pada pk.14.36 WIB. Selang beberapa menit kemudian hilang kontak dan akhirnya jatuh di perairan kepulauan seribu.

Belum usai bangsa ini dirundung kesedihan, menyusul kemudian bencana banjir hampir di seluruh wilayah Kalimantan Selatan setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Banjir yang terjadi pada 12-13 Januari lalu itu merendam beberapa kabupaten di sana. Tingginya curah hujan juga turut menyebabkan meluapnya air sungai di kecamatan lainnya.

Bencana banjir yang melanda kalimantan tersebut menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi para korban, rumah terendam, harta benda tidak bisa diselamatkan hingga harus tinggal di pengungsian dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak yang kekurangan makanan, pakaian dan obat-obatan dan juga fasilitas yang sangat minim.

Tak lama kemudian terjadi gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat pada Kamis (14/1/21) dan Jum’at (15/1/21). Gempa pertama berkekuatan 5.8 pada Kamis pukul.14.35 WITA dan disusul dengan gempa berkekuatan 6,2 pada Jum’at pukul 02.28 WITA. Gempa ini memicu kerusakan korban jiwa dan menimbulkan rasa cemas pada masyarakat di sana. Gempa di Mamuju menyebabkan 8 orang meninggal, 637 luka dan 188 luka berat. 

Bencana alam belum juga usai. Gunung semeru di kabupaten Lumajang, Jawa Timur meletus pada Sabtu sore (16/2/21). Jelas saja ini menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat sekitar. Masyarakat yang terkena bencana sangat membutuhkan banyak bantuan berupa makanan, pakaian, obat obatan, peralatan kebersihan diri, dll

Dalam menanggapi bencana banjir di Kalimantan, Presiden Jokowi akhirnya datang berkunjung tke lokasi guna meninjau lokasi yang terkena banjir. Dalam kunjungannya, beliau mengatakan jika selama 10 hari, Borneo diterjang hujan yang cukup deras yang mengakibatkan daya tampung sungai Barito tidak mencukupi. Selama 50 tahun Kalimantan Selatan tidak pernah  dilanda banjir besar seperti sekarang yang melanda hampir 10 kabupaten dan kota.

Tentu saja pernyataan Presiden tersebut menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Salah satunya dari Direktur WALHI, Kisworo Dwi Cahyono, yang mengatakan bila kedatangan presiden sekadar untuk menyalahkan hujan. lebih baik tidak usah datang saja. Dia tak setuju dengan pernyataan presiden tersebut, sebab menurutnya yang menjadi penyebab banjir adalah rusaknya ekologi di tanah Borneo yang harusnya mencapai 3,7juta ha. Namun, sebanyak 50%nya sudah dipakai untuk tambang batubara dan kelapa sawit. Dimana 33% dari lahan tersebuit telah dialihfungsikan menjadi tambang batubara dan 17% menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini juga diperkuat dengan hasil analisa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang mengungkapkan bahwa penyebab banjir kalimanan selatan adalah karena 139 ha hutan berkurang dalam kurun waktu 10 tahun. (nasional.kompas.com, 19/01/2021).

Sedangkan data tutupan lahan menunjukkan bahwa dari tahun 2010 hingga 2020 terjadi penyusutan luas hutan primer, hutan sekunder, sawah dan semak belukar masing masing 13 ribu ha,116 ribu ha,146 ribu ha dan 47ribu ha di Kalsel. Oleh karena itu bisa dipastikan bahwa karut marut tata kelola lingkungan dan sumber daya alam di Kalimantan Selatan telah berkontribusi besar pada rusaknya daya tampung dan daya dukung lingkungan termasuk tutupan lahan dan daerah aliran sungai.

Pembangunan kapitalistik yang menonjol dalam pengelolaan lingkungan sejumlah di Kalsel ini telah berdampak pada deforestasi dan alih fungsi lahan. Padahal begitu banyak penelitian dan diskusi ilmiah tentang aspek hidrologi kehutanan dan pentingnya konservasi dan tata kelola ruang wilayah. Yang secara jelas menunjukkan bahwa pembangunan mutlak harus memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian hutan dan lahan serta keseimbangan alam dan lingkungan. Jika tidak dilakukan, maka meniscayakan terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Untuk itu WALHI mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengundang seluruh perusahaan pemilik tambang dan sawit melakukan dialog terbuka di hadapan rakyat dan masyarakat sipil. Ini adalah agar mereka bertanggung jawab atas banjir yang terjadi di Kalsel. Selain itu juga agar masyarakat tahu permasalahan dan solusinya seperti apa.

Benar bahwa curah hujan tinggi dapat menjadi penyebab air sungai meluap sehingga terjadi banjir. Namun hutan yang gundul semua menyebabkan air tidak bisa diresap oleh pepohonan, hingga langsung mengalir ke bawah menjadi banjir di dataran yang lebih rendah. Menyalahkan hujan, padahal manusia-lah yang tak mau menjaga hutan dan justru merusak alam adalah tindakan yang tidak tahu berterima-kasih atas nikmat Tuhan. 

Sama sekali tidak menyadari bahwa perilaku merusak lingkungan membawa dampak besar pada  ekosistem dan kehidupan manusia itu sendiri. Dengan mengatakan bahwa jika tidak turun hujan, maka tidak akan datang banjir, merupakan wujud pengelakan atas kesalahan yang diperbuat. Penggundulan hutan yang begitu parahnya, nyata telah merugikan banyak masyarakat. Demi kepentingan pengusaha, hutan yang menjadi pelindung berbagai kehidupan telah dibabat habis. Dan mereka bisa melakukan yang demikian karena merasa punya izin dan kuasa. Dan izin tersebut jelasnya bukan-lah dari rakyat, melainkan dari yang berwenang.

Rakyat menuntut agar permasalahan banjir di Kalsel ini diselesaikan dengan mencari siapa yang bertanggung jawab atasnya. Namun, sepertinya akan sulit karena sebagaimana yang diketahui, permasalahan seperti ini melibatkan mereka yang punya duit dan kekuasaan. Korporasi telah mengorbankan prinsip tata kelola lingkungan dan mengabaikan hasil kajian ilmiah dan diskusi para intekektual untuk mewujudkan kelestarian lingkungan. 

Saat tata kelola ini lahir dari kerakusan dan sifat konsumenisme manusia, maka bisa dipastikan akan mengabaikan berbagai prinsip selain materi. Sehingga tak heran bila hak pemanfaatan hutan dan lingkungan diberikan dengan mudahnya kepada individu atau perusahaan untuk keperluan mengeruk keuntungan. Lahan luas yang semula hijau dengan pepohonan sebagai pelindung segala makhluk di dalamnya dan memberikan suplai udara bersih bagi seluruh kehidupan, dibabat habis dan diganti dengan pembukaan tambang, perkebunan sawit, dsb. Kerusakan alam pun terjadi hingga berbagai bencana melanda manusia itu sendiri. 

Inilah watak kapitalisme dengan neo imperialisme yang mencengkeram negara yang kaya SDA ini.  Dengan dalih investasi, mereka bisa mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Menggunakan modal sekecil-kecilnya (prinsip ekonomi kapitalis) yang terwujud dalam berbagai pengabaian aturan dan prinsip, bagi mereka uang adalah segalanya. Tak memikirkan dampaknya bagi diri maupun yang lainnya. Yang paling merasakan dampaknya adalah, lagi-lagi rakyat kecil. Mereka  harus menanggung akibat dari kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh para kapitalis. 

Dan penguasa yang telah dikendalikan oleh para pemilik modal, seolah tidak kuasa mencegahnya.Padahal kekayaan alam ini diamanahkan Allah agar negara yang mengelola demi kepentingan rakyatya. Negara-lah pihak yang berwenang dan bertanggung jawab langsung sepenuhnya dalam mengelola hutan. Menjauhkannya dari aspek eksploitasi dalam pemanfaatan sumber daya alam. 

Pengelolaan lingkungan yang kapitalistik dan liberal inilah yang menjadi penyebab banjir di Kalsel dan juga di wilayah lainnya. Secara menyeluruh, pengaturan yang bersandar pada prinsip kehidupan yang sekuler liberal telah menjauhkan manusia dari kehidupan yang tertata dan baik.

Semestinya musibah ini cukup menjadi teguran agar semua komponen bangsa ini bermuhasabah Jangan hanya dipandang bahwa ini hanyalah fenomena alam. Tapi harus diingat bahwa alam semesta dan seisinya ada yang menciptakan, dialah Allah SWT. Dan Allah menciptakan makhlukNya lengkap dengan seperangkat aturan untuk dipatuhi supaya kehidupan bisa berjalan dengan baik. Maka, satu satunya solusi mengatasi hal ini adalah dengan kembali pada aturan sang pencipta alam, yaitu beralih pada sistem Islam. Maka, niscaya keberkahan akan dapat dirasakan tidak hanya manusia, tetapi juga bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam bish-shawab. 

banner zoom