Anomali Demokrasi

Oleh: Nurul Afifah

Drama kerusuhan di gedung Kongres, Capitall Hill, Washington, As menjadi trending topik dunia.

Dikutip dari laman berita inet.detik.com, (7/01/2021) Aksi unjuk rasa para pendukung Presiden AS Donald Trump yang berujung kerusuhan di Gedung Kongres, Capitol Hill, Washington, AS, mengundang berbagai reaksi netizen di media sosial. Peristiwa ini menjadi bahasan netizen seluruh dunia, ditandai dengan 'Trump' bertengger di deretan trending topic Twitter dunia, Kamis (7/1/2021).

Selain menjadi bahasan netizen, kerusuhan tersebut juga memakan korban dan mengundang kecaman berbagai pemimpin dunia.

Para pemimpin dunia dan diplomat mengecam kerusuhan yang dilakukan oleh pendukung Donald Trump di Gedung Capitol di Washington, AS. Tersulut emosi akibat klaim kecurangan pemilu yang berulang kali disampaikan Trump, para pendukung Trump menyerbu masuk ke gedung parlemen atau Capitol di Washington DC, Rabu (6/1/2021) siang waktu setempat atau Kamis dini hari WIB. Sedikitnya empat perusuh tewas dalam insiden itu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kerusuhan di Gedung Capitol tidak dapat diterima atas alasan apapun. "Ketidakpatuhan hukum dan kerusuhan -di sini dan di seluruh dunia- akan selalu tidak diterima," kata Pompeo dalam akun Twitternya, Kamis (7/1/2021).

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kerusuhan di Washington sebagai insiden yang "memalukan". "AS adalah simbol demokrasi di seluruh dunia dan sangat penting bagi AS untuk melakukan transisi kekuasaan dengan damai dan tertib," cuit Johnson dalam akun Twitternya.

Menlu Irlandia Simon Coveney mengatakan, "seluruh dunia melihat! Kami berharap restorasi keadaan kembali tenang". Dia juga mengatakan gambar-gambar kerusuhan di Washington "mengejutkan" dan menyebut insiden tersebut "serangan terhadap demokrasi".

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, "apa yang terjadi di Washington hari ini tidak mencerminkan Amerika". (Beritasatu.com, 7/01/2021).

Kerusuhan tersebut telah mencoreng wajah AS. Selama ini AS dikenal sebagai pelopor sekaligus kiblat demokrasi dunia. Tindakan kerusuhan yang dilakukan pendukung Trump adalah tindakan yang menghianati demokrasi. 

Demokrasi melegalkan kebebasan berpendapat, yang artinya membolehkan masyarakat bersuara dan menyampaikan pendapat melalui aksi. Namun kebebasan dalam demokrasi tidak memiliki batasan yang jelas, hingga bisa melahirkan sikap anarkisme seperti peristiwa yang terjadi di AS. Ini akibat kebebasan dijalankan tanpa kendali.

Sebuah ironi dan anomali di negara kampiun demokrasi. Demokrasi telah dirusak oleh penganutnya sendiri. Dan ini juga menunjukkan Amerika sebagai the new sick man yang tak lama lagi akan menemui ajalnya alias tumbang.

Pergiliran kekuasaan adalah sunatullah. Lemahnya demokrasi menjadi kesempatan peradaban islam untuk memimpin peradaban selanjutnya.

Demokrasi yang melahirkan kebijakan melalui tangan manusia terbukti lemah dan menimbulkan banyak kekacauan. Inilah saatnya islam menggantikan demokrasi. Dalam islam pemimpin akan diposisikan sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) . Islam juga sesuai fitra manusia sehingga dapat menyelesaikan setiap problematika sebagaimana yang telah ditorehkan oleh sejarah.

Wallahu'alam


banner zoom