Putus Cinta Berakhir Duka

 

Oleh: Bunda Sayyidah (Pengajar SMA dan pemerhati Remaja)

Sedih sekaligus miris mendengar berita, seorang remaja mengakhiri hidupnya karena putus cinta. Adalah FS (17), remaja dari Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, nekat gantung diri. Ternyata korban baru dua hari putus dari mantan kekasihnya. 

Bahkan ditemukan sepucuk surat untuk mantan kekasihnya. Diketahui, FS melakukan aksinya menggunakan dasi SMA yang dililitkan pada pohon Jambu di depan Kantor pusat UKI Tiraja, Makale, Tana Toraja. 

Potret remaja putus cinta yang berujung duka tak terjadi sekali duakali, namun sudah sering terjadi dan bisa jadi akan terus berulang pada masa mendatang. Nauzubillah

Perlu kita cermati mengapa hal menyakitkan ini berpotensi untuk terus terjadi? 

Masa remaja sering diidentikkan dengan masa pencarian cinta, mencoba-coba berpacaran, bahkan ada yang berakhir kebablasan. Sebuah fenomena yang dianggap lumrah padahal sarat kemaksiatan. Alih-alih 'diselamatkan' justru remaja sering dijerumuskan.

Melalui berbagai tayangan televisi, iklan, cerita picisan, dan lainnya adalah referensi bagi para remaja dalam mengekspresikan perasaan cintanya terhadap pasangan.

Tidak bisa dipungkiri, perasaan cinta, sayang, ingin diperhatikan dan diperlakukan istimewa adalah sutu perasaan yang akan dirasakan oleh setiap manusia karena ini adalah anugrah yang Allah berikan kepada makhluknya, memaksakan diri untuk menghilangkan rasa ini adalah kemustahilan. Dalam firman Allah QS Yusuf ayat 24 disebutkan,

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan yusuf, dan yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS Yusuf : 24)

Namun Allah pun tidak serta merta memberikan anugerah tanpa sebuat aturan, sehingga kita tidak akan bingung bagaimana memenuhi dan menyalurkan rasa ini.

Adalah gharizahtun nau' sebuah naluri alami yang ada pada setiap makhluk berupa keinginan untuk melestarikan keturunan, memanifestasikan kasih sayang, ekspresi cinta seseorang yang memang melekat dan tak bisa dihilangkan.

Naluri ini menuntut adanya pemenuhan sehingga jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan kegelisahan. Hanya kegelisahan bukan kematian. Oleh karenanya, banyak orang yang mencoba mencari pemenuhan agar tidak gelisah dan merasa tenang. Ada yang melakukannya dengan berpacaran, TTM-an alias teman rasa pacar, HTS-an alias tidak mau berkomitmen, namun ada juga yang menyalurkannya melalui pernikahan.

Banyak yang berdalih, jika naluri atau perasaan ini tidak dipenuhi maka dapat mengakibatkan kegilaan bahkan kematian. Ini sama sekali tidak benar. Allah tidak mungkin memberikan sesuatu yang akan mencelakai makhluknya. Tapi mengapa ada yang terbukti demikian, seperti kasus FS diatas? Hal ini karena banyak yang tidak mencari tahu bagaimana menyalurkan naluri ini dengan benar.

Allah SWT mengutus para rasulNya untuk menyampaikan mana yang baik dan mana yang buruk terhadap seluruh aktivitasnya, seperti yang terdapat pada firman Allah sebagai berikut

"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul itu.” (QS An Nisa’ 165)

Allah tidak membebaskan pemenuhan naluri tersebut hanya pada nafsu dan akal manusia, dimana nafsu sering mengantarkan kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah dan akal manusia yang sangatlah lemah. Kita kadang menyangka sesuatu itu baik padahal buruk untuk kita pun sebaliknya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 216. 

Dan setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap aktivitas yang dia lakukan termasuk dalam meenuhi naluri ini. Islam telah memberi solusi yang syar'i yaitu dengan pernikahan, jika belum sanggup maka bisa menahannya dengan berpuasa. Kita pun bisa mengalihkan sementara kepada hal-hal positif seperti berolahraga, berkarya, dll yang bisa dilakukan oleh kita sendiri. Masyarakat pun sebagai kontol sosial harus ikut mengingatkan jika sudah ada warga disekitarnya yang menjurus pada kemaksiatan. Terlebih negara sebagai pemegang kebijakan tentunya berperan besar dalam menyelesaikan permasalah ini dengan cara membuat aturan yang akan menjaga hati dan pikiran agar senantiasa berada dijalur yang benar. 

Wallahua'lam


banner zoom