Pemimpin Adalah Dengan Apa Ia Memimpin

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Pemerintah keukeuh tetap melanjutkan agenda pilkada. Tak pedulikan himbauan berbagai pihak yang lebih mengkhawatirkan keselamatan rakyat dengan kemungkinan munculnya kluster baru akibat berkerumunnya massa di masa kampanye dan pemilihan.

Hingga bermunculan meme atau quote dengan isi sindiran. Ternyata kreatifitas anak negeri tak jua menggugah nurani penguasa. Padahal penguasa ingin mendulang suara mereka untuk mendongkrak kemenangan. 

Pilkadapun belum terlaksana, pasien positif sudah berjatuhan, rumah sakit penuh hingga banyak dari masyarakat harus rela isolasi mandiri di rumah dengan peralatan seadanya. 

Berbagai kampanye digelar dengan berbagai cara, mulai dari konser musik, acara joged dangdutan, hingga party kolam renang. Dan tak kalah mengguncang adalah kampanye calon wali kota petahana Pasuruan, Jawa Timur, yang juga kader PDI Perjuangan atau PDIP, Raharto Teno Prasetyo, ia berjanji akan menerapkan ekasila atau gotong royong jika berhasil memenangi Pilkada 2020 (kompastv.com,1/10/2020).

Raharto Teno Prasetyo yang maju pilkada dengan didampingi oleh calon wakil wali kota Mochammad Hasjim Asjari menjelaskan alasannya mengusung Eka sila atau gotong royong yaitu  keanekaragaman di kota Pasuruan yang bisa menjadi kekuatan sebuah daerah. “Jika kita peras Pancasila munculah ekasila yang didapatkan dari Trisila, yaitu dari sosio nasionalis, sosio demokratis, ketuhanan yang berkebudayaan,” ucap Teno.

“Dan jika kita peras lagi, kita kristalisasi lagi, hanya ada satu kata untuk mewujudkan kota Pasuruan yang lebih maju dan sejahtera adalah dengan cara bergotong-royong,” lanjutnya. Sepertinya ada pengertian yang hilang, bahwa sebuah pengurusan urusan rakyat tak mungkin didasarkan hanya pada gotong royong. Jika demikian lantas apa guna institusi pemerintahan?

Apakah pemerintah hanya sekumpulan orang dengan konsep dan komitmen untuk menjalankan pemerintahan? sementara rakyat yang berupaya bahkan yang membiayai jalannya roda pemerintahan? Sebagai hari ini , kita kenal BPJS adalah jaminan kesehatan yang diselenggarakan negara, namun konsepnya adalah gotong royong. Semua masyarakat dari berbagai status sosial diharuskan membayar dan dipungut pinalti jika ada keterlambatan. 

Infrastruktur, fasilitas umum, akomodasi , BBM, listrik, air, dan biaya hidup lainnya rakyat diminta membayar sejumlah harga, kemudian masih dikenai pajak. Padahal tanpa dikenai pajak rakyat sudah tercekik saking mahalnya. Beban rakyat semakin berat. Dimana letak sejahtera jika benar konsep gotong royong itu jadi diterapkan? Liberal berpikir menutup identitas Muslimnya. Mereka mengambil sebuah pemikiran di luar Islam.

Dalam Islam ,posisi pemimpin adalah rain ( pengurus urusan rakyat). Diriwayatkan dari Ahmad dan Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar, bahwa ia mendengar Nabi Saw bersabda:

" Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya" ( HR Muslim dan Ahmad). 

Artinya, semua hal yang berhubungan dengan pemeliharaan berbagai urusan rakyat dalam semua hal, wewenangnya hanya milik Khalifah/pemimpin. Cara pandang inilah yang seharusnya dimiliki setiap individu Muslim, terlebih jika ia pemimpin umat. 

Hal yang perlu dikritisi lagi, Pancasila disebut sebagai ideologi bangsa dan sudah final, namun mengapa masih menimbulkan celah untuk "Diperas" sedemikian rupa? Dan selama ini rasanya belum ada aturan yang berasal dari Pancasila yang kemudian mampu menyelesaikan persoalan selain ia sendiri menimbulkan persoalan, dengan terus menerus dijadikan alat untuk memukul mundur mereka yang berseberangan dengan penguasa. 

Harapannya, pilkada tahun ini bisa memunculkan pemimpin yang fokus, dengan apa ia  akan memimpin nanti? Dan sudahkah ia membawa konsep yang kokoh? Sebagai seorang Muslim tentulah konsep itu  dari syariat Islam. 

Wallahu a' lam Bish Showwab.

banner zoom