Minim Literasi, Buku Kok Dipersekusi?

Oleh : Ulfiatul Khomariah
(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Penamabda.com - Beberapa hari ini media sosial begitu viral membahas tentang persekusi buku karya Felix Siauw yang berjudul “Muhammad Al-Fatih 1453.” Kejadian ini bermula saat Dinas Pendidikan Babel menginstruksikan seluruh peserta didik SMA/SMK di Bangka Belitung untuk membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw. Kemudian, para peserta didik diminta merangkum isi buku tersebut lalu dikumpulkan ke sekolah masing-masing. 

Alasan diberlakukannya tugas ini adalah untuk meningkatkan literasi dan survey karakter para siswa di tengah pandemic Covid-19 mengingat tahun ini akan diadakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). “Kita ingin memberikan semangat literasi, memberi mereka pengetahuan sejarah sambil mengingatkan. Dan kita kemarin meminta siswa membaca Buku Muhammad AL Fatih karena perjuangan menaklukkan Konstantinopel adalah sejarah perjuangan yang luar biasa,” kata M Soleh selaku Kepala Dinas Babel.

Namun sayang, belum sempat dilaksanakan keputusan itu, Dinas Pendidikan Babel kembali menerbitkan surat pembatalan untuk membaca buku Muhammad Al Fatih. Pembatalan ini ditandatangani oleh Kepala Dinas Babel M Soleh. Hal ini dilakukan lantaran ada oknum-oknum tertentu yang merasa tidak suka kepada sosok Felix Siauw yang dikenal sebagai anggota dari ormas HTI. “Prinsipnya ini ketidaktahuan kita bahwa beliau adalah orang di ormas yang terlarang. Setelah tahu dan diberi tahu, maka kita batalkan,” Ujar M Soleh.

Ada sebuah ketidakwajaran dari kejadian ini. Coba kita pikirkan, sebelum Disdik Babel memberikan instruksi kepada para siswa untuk membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw, sudah barang tentu Disdik Babel memahami terlebih dahulu isi buku itu bukan? Sehingga buku itu dirasa layak dibaca dan dijadikan inspirasi oleh para siswa. Maka terbitlah instruksi untuk membaca buku Muhammad Al-Fatih karya Felix Siauw. Artinya, dari segi isi buku itu memang sangat mendidik untuk para siswa terutama Muhammad Al-Fatih adalah salah satu sosok pemimpin terbaik dalam dunia Islam.

Buku ini ditolak dengan alasan karena penulisnya berafiliasi dengan ormas HTI tentu bukanlah alasan yang masuk akal. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah kalah narasi dan minim literasi. Ada sebuah ketakutan atau bisa disebut virus islamophobia sedang menjangkiti sebagian masyarakat di negeri ini. Sebab Muhammad Al-Fatih adalah sosok visioner dan teguh dalam memperjuangkan Islam. Ada sebuah kekhawatiran dari para pelaku kemaksiatan jika generasi terinspirasi dengan sosok Muhammad Al-Fatih. Sebab akan lahir generasi Al-Fatih yang akan menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan. 

Andaikata generasi terinspirasi dengan sosok Muhammad Al-Fatih, menjadi hafidz Qur’an, ahli bahasa, visioner, teguh memperjuangkan Islam dan menjadi pemimpin terbaik dengan menegakkan keadilan. Maka para pelaku kejahatan itu akan kesulitan menjalankan aksinya. Sebab generasi al-Fatih akan kokoh memperjuangan Islam dan menegakkan keadilan. Sehingga para tikus berdasi tidak akan bisa korup lagi, tidak bisa bermaksiat, dan tidak bisa mengibuli rakyat dengan janji-janji palsu. Maka dipersekusilah buku Muhammad Al-Fatih 1453. 

Masih kah kita ingat dengan kekejaman Tatar dulu? Tatar adalah komunitas masyarakat nomaden yang berasal dari gurun sebelah utara Cina. Mereka tumbuh dengan hukum rimba. Mereka saling berperang layaknya hewan saling memangsa. Mereka tidak mengenal peradaban dan tak berkeinginan memberi kontribusi memakmurkan bumi. Karena itu, mereka selalu membuat keonaran dan penghancuran. Salah satunya adalah menghancurkan perpustakaan terbesar di dunia kala itu. Perpustakaan Baghdad di masa Daulah Abbasiyah.

Perpustakaan yang mewariskan peradaban dunia dihancurkan oleh Tatar. Mereka sama sekali tidak peduli dengan ilmu pengetahuan yang dihimpun di dalam perpustakaan itu. Padahal, perpustakaan Baghdad pada saat itu adalah tempat hazanah keilmuan kaum muslimin. Bagaimana tidak, perpustakaan itu telah dibangun selama 600 tahun dan menghimpun semua cabang ilmu pengetahuan, ilmu syariat, ilmu alam, ilmu tentang kemanusiaan, dll. Namun seketika dihancurkan, dipersekusi oleh Tatar dengan dibakar dan dibuang ke sungai Tigris.

Coba kita bayangkan? Warisan besar itu mereka lempar ke Sungai Tigris hingga air sungainya berubah menjadi hitam. Bahkan ada yang mengatakan kuda-kuda Tatar bisa melintasi sungai dengan jembatan timbunan berjilid-jilid buku yang mereka lemparkan ke sungai. Tentu kejahatan ini tidak hanya merugikan umat Islam saja. Tetapi merugikan peradaban manusia juga. Mengapa mereka melakukan hal itu? Karena musuh-musuh Islam itu tidak ingin apabila ada generasi muslim yang membaca buku-buku itu lalu terinspirasi untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam. 

Satu hal lagi yang harus kita ketahui, bangsa Tatar pada saat itu sangat minim literasi, yang mereka tahu hanya bagaimana memuaskan nafsu mereka untuk menghancurkan umat muslim. Yang mereka tahu hanyalah kebencian yang tertanam kepada umat muslim. Sehingga perpustakaan yang berisi gudang ilmu sekalipun ikut dipersekusi dan dihancurkan. Lah kok sepertinya kejadian seperti ini terulang kembali yaa? Jangan sampai kita seperti bangsa Tatar yang minim literasi dan main persekusi. Mari budayakan literasi! 

Wallahu a’lam bish-shawwab.
banner zoom