MENYAMBUT AJAKAN TAUBAT DARI PRESIDEN

Oleh : Ummu Wildan

Penamabda.com - "Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala," kata Jokowi saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9). Demikian bunyi ajakan dari Presiden yang dikutip dari Merdeka.com

Ajakan untuk bertaubat ketika pandemi tentu sesuatu yang mulia. Namun agar suatu perbuatan bisa mencapai tujuan tentu perlu diketahui rinciannya. Layaknya untuk membuat suatu panganan perlu bahan-bahan disertai takaran dan langkah-langkah kerjanya, maka begitupun taubat.
Ketika pandemi, salah satu yang dituju tentunya diangkatnya pandemi yang berbulan-bulan melanda namun tak kunjung nampak kapan berakhirnya. Ketika negara-negara lain, seperti di Korea Selatan dan Cina sempat mengalami pelandaian kurva, Indonesia masih belum terlihat titik puncaknya.

Imam al Ghazali menyebutkan bahwa taubat tersusun dari tiga hal, yaitu ilmu, kesadaran dan perbuatan. Untuk melakukan taubat, perlu pengetahuan akan hukum perbuatan. Setelah memiliki pengetahuan akan muncul kesadaran akan kesalahan/pelanggaran terhadap hukum yang Allah tentukan. Kesadaran ini kemudian menuntun untuk memohon ampun kepada Allah dan tidak mengulangi pelanggaran yang sama.

Untuk memenuhi ajakan presiden untuk taubat berarti baik rakyat maupun pemerintah memerlukan usaha Bersama. Rakyat perlu mengkaji hukum perbuatan tentang aktivitas keseharian mereka. Pemerintah pun perlu memahami hukum-hukum Allah tentang pengaturan negara. Sebagaimana firman Allah :
“Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff ayat 3)

Sahabat Nabi, Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah diberi Allah keistimewaan sehingga musibah-musibah yang menimpa rakyatnya tak berlangsung lama. Ketika gempa melanda Madinah, Umar menghentak tanah dan berucap, “Wahai bumi tidakkah aku telah berbuat adil padamu.” Gempa pun berakhir
Ketika Sungai Nil dilanda kekeringan selama berbulan-bulan, gubernur ‘Amr bin Ash mengirim surat kepada khalifah Umar. Surat balasan dari beliau tertuju kepada Sungai Nil pun dilemparkan dan pagi harinya didapati air mengalir 16 hasta.
Keistimewaan tersebut diberikan Allah karena baik rakyat maupun pemimpin mau menjalani kehidupan keseharian dan bernegara sesuai dengan aturan Allah. Khalifah Umar berusaha menjalankan pemerintahan sesuai dengan aturan Allah.

Ketika diangkat menjadi khalifah Beliau pun berpidato, “bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf nahi munkardan bekalilah saya dengan nasehat-nasehat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalian.
Demikianlah keutamaan seorang pemimpin yang mau taat kepada Allah SWT dalam semua aspek kehidupan. 

Berakhirnya musibah; diterimanya taubat tentu memerlukan keterikatan kepada aturan Allah. Kesalahan-kesalahan di masa lalu harus ditinggalkan, baik level rakyat, maupun pemerintah. Tak cukup hanya dengan mengucap istighfar. Dengan kembalinya rakyat dan pemerintah kepada hukum Allah, musibah pandemi ini akan segera berakhir, insya Allah. 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al A’raf : 96)
banner zoom