CINTA NABI CINTA SYARIAH: WUJUDKAN KEADILAN LENYAPKAN KEDZOLIMAN (Reportase Peringatan Maulid Nabi Online Terbesar)

Oleh : Ummu Adib

Penamabda.com - Kamis, 29 Oktober 2020, tepatnya 12 Robi’ul Awal 1442 H, jagat sosial media terguncang dengan digelarnya perayaan maulid nabi online terbesar di Indonesia. Acara spektakuler ini mengambil tema “Cinta nabi Cinta Syari’ah: Wujudkan Keadilan Lenyapkan Kedzoliman”. Dipandu MC energik Ustadz Akhmat Adiasta dan moderator kondang Ustadz Karebet Wijayakusuma, acara ini sukses menarik perhatian 70.000 peserta dari Sabang hingga Merauke melalui aplikasi zoom,  youtube, dan max buzz (dikutip dari kanal telegram resmi @cintanabiofficial). Hadir sebagai pembicara dalam acara itu Ustadz Rokhmat S. Labib dan Ustadz Ismail Yusanto.

Pada awal acara, Ustadz Rokhmat S. Labib menyampaikan bahwa, pertama, lahirnya Rosulullah merupakan satu peristiwa besar yang menjadi momentum lahirnya peradaban besar. Kita wajib mengimani Nabi Muhammad sebagai nabi dan rosul. Siapa saja yang beriman kepada Allah , tetapi tidak mengimani rosulullah, maka keimanannya batal. Dia kafir, terhapus amalnya, bahkan kekal di neraka. Kedua, kita diperintahkan untuk mencintai rosulullah dengan kecintaan yang tidak boleh melebihi siapa pun. Rosulullah bersabda:

“Tidak sempurna keimanan setiap kalian sampai aku lebih kalian cintai daripada orang tua kalian, daripada anak kalian, dan daripada seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Labib juga menegaskan bahwa kecintaan kita pada nabi haruslah dibuktikan, harus terwujud dalam tindakan, misalnya dengan berusaha menerapkan syariat yang dibawa oleh Rosulullah. Penerapan syariat Islam sudah pasti membawa kemaslahatan, di antaranya dapat mewujudkan keadilan. Sebaliknya, ketika syariat Islam dicampakkan, maka akan muncul kedzoliman. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak berhukum kepada syariat Islam disebut orang yang dzalim. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 45 .. “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim”. 

Seperti saat ini, kita bisa melihat bahwa syariat Islam sudah dicampakkan, maka yang terjadi adalah kedzoliman di mana-mana. Negara abai dengan tugasnya yang seharusnya meri’ayah rakyatnya. Sumber daya alam yang seharusnya dikelola Negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat, ternyata dikuasai asing dan aseng. Rakyat tidak dapat apa-apa kecuali beban hidup mereka yang semakin tinggi dan mencekik. Jauh dari kata sejahtera. 

Di sesi tanya jawab, suasana semakin hangat tetapi tetap seru karena Ustadz Karebet berhasil menghidupkan acara dengan pantun khasnya. “Bunga Mawar Bunga Melati Cinta nabi tanpa tapi, tanpa nanti”

Ustadz Karebet meminta pendapat Ustadz Labib tentang kondisi Indonesia yang sedang tidak berada dalam keberkahan karena mengabaikan syariat Islam sehingga kedzoliman terjadi di mana-mana. Dalam penjelasannya, Ustadz Labib menyampaikan bahwa rasa cinta pada nabi itu maknanya dalam. Terkait erat dengan keimanan. Kalau kita cinta pada nabi itu artinya kita beriman pada nabi. Kalau kita beriman berarti harus ada buktinya yaitu ketundukan dan ketaatan kepada syariatnya. Dengan ketundukan dan ketaatan pada syariat itulah akan mendatangkan keberkahan.

Ustad Karebet juga bertanya kepada Ustadz Ismail Yusanto tentang kesadaran umat pada permasalahannya yang semakin kompleks. Ustadz Ismail menyampaikan bahwa sebenarnya umat sudah bisa melihat ketidakadilan dan kedzoliman yang terjadi, seperti dalam bidang hukum. Hukum lebih berpihak kepada yang berduit dan berkuasa dibanding rakyat biasa, wakil rakyat mendzolimi rakyat dengan disahkannya UU Omnibus Law, dll. Hanya saja umat belum sepenuhnya sadar bahwa pangkal dari masalah-masalah itu adalah dicampakkannya hukum-hukum Allah, dan diganti dengan hukum-hukum buatan manusia. Padahal seharusnya umat sadar bahwa kedaulatan yang sesunggunya itu adalah di tangan syara’.

Acara Maulid Nabi Online terbesar ini juga menghadirkan beberapa testimoni dari beberapa tokoh nasional. Mereka adalah Dr. Ichsanuddin Noorsy pakar politik dan ekonomi, Prof. Suteki Guru Besar Ilmu Hukum, KH. Thoha Cholili pimpinan Ponpes Muntaha Alkholiliah Madura, dan KH.Najmuddin Romli Wakil Sekjen MUI pusat. 

Secara garis besar isi testimoni Dr. Ichsanuddin Noorsy adalah tentang ketokohan nabi Muhammad di mata dunia. Secara objektif dunia mengakui Rosullullah adalah tokoh yang memiliki akhlak yang luar biasa dan pemberani dan konsisten dalam kebenaran. Sedangkan Prof. Suteki lebih menekankan pada potensi umat Islam yang sebenarnya mampu mewujudkan peradaban Islam. 

Hanya saja sangat disayangkan kondisi umat Islam saat ini seperti buih di lautan. Umat Islam cenderung menjadi korban ketidakadilan dan kedzoliman. Untuk itu, menurut Prof.Suteki, umat harus bersatu menolak kedzoliman itu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. 
Testimoni KH. Thoha Cholili senada dengan Prof. Suteki. Beliau menambahkan bahwa sebenarnya Allah mampu menjaga Islam dan memberi pertolongan pada kaum muslimin, tetapi Allah ingin melihat ghiroh kita untuk membela agama Allah. 
Testimoni terakhir dari KH. Najmuddin Romli juga tak kalah berbobotnya. Beliau menyampaikan bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah, karena itu kita tidak boleh ragu memperjuangkan kebenaran. Maulid nabi menjadi spirit bagi kita untuk mencintai dan mentaati rosulullah sekaligus untuk menerapkan syariatnya. Di akhir testimoninya beliau menyampaikan dengan penuh optimis bahwa penerapan syariat Islam secara sempurna suatu saat akan terwujud.

Testimoni KH.Najmuddin ditanggapi oleh Ustadz Ismail dengan menjelaskan bahwa kondisi kapitalis yang sudah di ambang kehancuran. Hanya saja kita jangan menunggu kehancuran kapitalisme, tapi kita harus tetap berjuang untuk mewujudkan al haq yaitu Islam sebagai sebuah sistem. Dengan adanya sistem Islam sebagai tandingan, kapitalis pasti akan hancur.

Acara Maulid yang berlangsung hampir tiga jam itu pun berakhir. Sebelum mengembalikan acara kepada Ustadz Adiasta selaku MC, Ustadz Karebet pun kembali berpantun “Bunga Mawar Bunga Melati, Cinta nabi tanpa tapi, tanpa nanti. Wujudkan Keadilan, lenyapkan kedzoliman, Indonesia Berkah”. 

Acara Maulid pun akhirnya ditutup dengan doa yang mengharu biru, yang disampaikan oleh KH. Yasin Muthohar. Alhamdulillah peringatan Maulid Nabi online ini berjalan sukses dan lancar atas izin Allah.
banner zoom