Sistem Terbaik Kembali Pada Syariat Islam Bukan Demokrasi Apalagi Oligarki

Oleh : Asma Ridha (Pegiat Literasi Aceh Barat)

Penamabda.com - Baru-baru ini narasi yang berkembang seakan memojokkan sistem demokrasi yang telah gagal mengatasi pandemi. Dan justru para elit pemerintahan melirik sistem otokrasi atau oligarki dianggap lebih berhasil menyelesaikan kasus pandemi saat ini. 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi virus corona (Covid-19). Tito menyebut negara dengan pemerintahan seperti itu mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi karena kedaulatan negara dipegang oleh satu atau segelintir orang. (CNN.Indonesia, 3/09/2020) 

Seakan citra  demokrasi kian buruk saat Indonesia juga mengalami krisis kepercayaan di skala internasional. Bagaimana tidak, dikutip dari Lensa Purbalingga (9/9/20) Sebanyak 59 negara melarang WNI melakukan kunjungan ke negara mereka akibat kasus Covid-19 di Indonesia yang kian tak terkendali. 

Terlihat nyata covid-19 ini kian melonjak tinggi di Indonesia. dari situs Covid.go.id, jumlah kasus per Rabu sore, 9 September 2020 mencapai 203.342 orang.Angka ini didapat karena penambahan pasien positif harian dalam 24 jam tercatat sebanyak 3.307 orang. Namun amat disayangkan narasi yang berkembang dikalangan pemerintah seakan ingin berkiblat dan melirik China serta Vietnam yang dianggap mampu mengatasi pandemi ini karena menerapkan sistem Otokrasi dan oligarki. Padahal sistem ini tak ada bedanya dengan demokrasi yang juga hasil cara pandang manusia yang sangat terbatas. 

Salah Kebijakan, Rakyat Menanggung Beban

Demokrasi terbukti gagal menyelesaikan pandemi ini, bukan karena masyarakat yang sulit diatur dan tidak mau patuh terhadap protokol kesehatan. Namun ketidak seriusan pemerintah dalan menangani kasus ini sangat terlihat dan berdampak pada masyarakat secara keseluruhan. Bagaimana tidak, kebijakan yang mudah berganti-ganti tanpa peduli pendapat para ahli, dan tidak mementingkan nyawa masyarakatnya menambah cemarutnya masalah di negeri ini. 
Padahal, ketika masyarakat sakit, bagaimana kondisi ekonomi akan pulih. Wajar, 59 negara tak mau menerima WNI karena takut semakin terpapar virus yang mematikan ini. Artinya ekonomi akan membaik seiring dengan penanganan pandemi Covid-19 bisa dikendalikan dengan tepat dan benar oleh Pemerintah. 

Sistem Terbaik Kembali Pada Syariat Islam Bukan Demokrasi Apalagi Oligarki

Islam sebagai sebuah ideologi telah memberi pengajaran dan peraturan hidup yang sangat sempurna. Mulai dari watak pemimpin yang wajib amanah dalam mengurusi urusan rakyatnya sampai dengan manajemen SDA yang wajib diperuntukkan hanya untuk kesejahteraan rakyat. Apalagi saat kasus pandemi, maka dituntut penguasa untuk bijak menyelesaikannya dengan benar dan tepat. 

Ketika kekayaan negara melimpah ruah, maka disaat pandemi tak menjadi persoalan untuk mengambil kebijakan lock down suatu wilayah yang terpapar virus, kenapa? Karena negara akan dengan mudah mewujudkan layanan kebutuhan dasar baik yang bersifat individual dan publik bagi rakyatnya, secara swadaya tanpa bergantung sedikitpun pada negara lain. Bahkan negara lainlah yang bergantung kepada negara Islam atau yang dikenal dengan sistem Khilafah. 

Masyarakat akan mudah memahami kondisi lock down,  karena semua kebutuhannya ada dalam jaminan negara. Dan tenaga medis akan bekerja dengan tenang karena didukung segala fasilitas yang dibutuhkan, serta insentif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan tidak membuat para medis kian stres dan kesulitan. Bahkan risetpun memungkinkan dengan cepat dilakukan agar obat yang tepat dan wabah pun dalam waktu cepat bisa ditemukan.

Dalam Islam kesehatan adalah pelayanan negara pada rakyatnya, bukan komoditi yang dikomersialisasi seperti saat ini. Sehingga biaya untuk rapid-test dan swab seakan menjadi komoditi masyarakat menengah ke atas. Ketika Vaksin telah ditemukan, negara juga tidak boleh menjadi ajang bisnis. Alat pelindung diri (APD), obat, dan alat kesehatan (akes) harus tersedia dalam jumlah mencukupi, sehingga efektif menekan angka kematian akibat Covid-19.

Inilah yang pernah terjadi di masa saat sistem Khilafah ditegakkan. Beberapa wabah yang terjadi bisa diatasi karena adanya peran aktif dan serius dari negara, sekaligus didukung oleh rakyat yang mentaati semua arahan-arahannya. Sehingga Khilafah yang kekuasaannya menganut prinsip sentralisasi menjadi sebuah otoritas yang terbukti kredibel sekaligus kapabel untuk menyelesaikan semua persoalan. Hingga umat Islam pun mampu keluar dari berbagai ujian yang menimpanya dengan penanganan yang cepat dan tepat.

Wallahu A'lambishhawab
banner zoom