PENGHINAAN TERHADAP ISLAM BUAH DARI SISTEM DEMOKRASI – SEKULER

Oleh : Masita Yulia

Penamabda.com - Swedia dilanda kerusuhan, demonstrasi anti – islam yang berlangsung di jalan raya Tama Malmo pada Jum’at (28/8) malam berujung rusuh. Seperti yang diberitakan CNN Indonesia, sekitar 300 pengunjuk rasa menyemut disepanjang jalan Malmo, mereka  melempari batu kearah polisi. Insiden ini berawal karena seorang politkus sekaligus penista agama Islam yang berasal dari Denmark, Rasmus Paludan, dilarang ikut menghadiri aksi unjuk rasa tersebut. Akibatnya para pendukungnya marah dan mulai beraksi membakar ban. 

Paludan, seperti ditulis AFP, berencana memberikan orasi pada saat acara unjuk rasa anti-islam digelar. Namun pihak berwewenang setempat memblokir kedatangannnya ke kota Malmo, Swedia Selatan. Hal ini memicu ketegangan di kelompok sayap kanan sehingga mereka membakar Al Qur’an. Sejumlah orangpun ditangkap polisi atas aksi tersebut.
Kerusuhan serupa menjalar di Negara tetangganya, Norwegia, keesokan harinya, Sabtu (29/8). Unjuk rasa anti-islam ini dimotori oleh kelompok yang menamakan dirinya SIAN ( Stop Islamisasi Norwegia). Unjuk rasa berlangsung di gedung parlemen Norwegia. Ketegangan memuncak di ibukota Norwegia, Oslo ketika salah satu wanita peserta aksi merobek-robek dan meludahi halaman Al-Qur’an. Massa yang kontra dengan SIAN pun marah atas aksi wanita tersebut sehingga melemparkan telur kepada anggota SIAN. Polisi berusaha mengamankan situasi tersebut dan setidaknya puluhan orang ditangkap polisi atas insiden tersebut.

Menanggapi insiden tersebut, MUI melalui Waketumnya, Muhyiddin Junaidi mengatakan, “MUI mengutuk keras perilaku vandalism berupa pembakaran kitab suci Al Qur’an oleh kelompok radikal dengan dalih apapun namanya. MUI meminta kepada dua Negara di Skandinavia tersebut agar mengambil tindakan yang tegas terhadap para pelakunya secara cepat sesuai dengan hukum yang berlaku, guna menghindari ekses negative dikemudian hari”. (Detiknews.com, senin 31/8/2020).

Kembali terulangnya kasus penistaan islam di Barat merupakan bukti bahwa sedang terjadi propaganda islamophobia ditengah-tengah masyarakat barat (red.Eropa). Narasi-narasi negatif tentang islam sengaja digulirkan ditengah-tengah masyarakat barat agar masyarakat membenci Islam dan pemeluknya, tujuannya adalah untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri.

Para pegiat liberal mengatakan bahwa salah satu sebab munculnya islamophobia di Barat disebabkan adanya serangan bom yang dilakukan oleh para jihadis yang kemudian oleh mereka dikampanyekan dengan label teroris. Padahal fakta mengatakan bahwa yang melakukan aksi pengeboman di Negara-negara barat tidak hanya dilakukan oleh seorang muslim. Orang non muslimpun juga banyak yang melakukan pengeboman dengan korban yang jauh lebih tragis, namun anehnya, mereka yang non-muslim yang melakukan aksi pengeboman tersebut tidak diberi label teroris.

Namun tak hanya itu mereka juga mengatakan bahwa islamophobia di Eropa muncul dikarenakan banyaknya imigran yang berasal dari Timur Tengah yang hampir semuanya beragama Islam. 

Mereka mengatakan bahwa para imigran tersebut tidak mau berasimilasi dan beradaptasi dengan nilai-nilai dan budaya barat karena para imigran tersebut masih berpegang teguh dengan niala-nilai agama mereka. Karena para imigran tersebut bersikeras dengan identitasnya sebagai seorang muslim, maka wajar apabila barat menganggap bahwa para imigran bukan bagian dari mereka. Inilah sikap dualisme yang yang ditunjukkan ole para pegiat liberalisme. Mereka tidak bersikap konsisten dengan apa yang mereka perjuangkan, mereka sangat menjunjung tinggi kebebasan dan perbedaan, namun disisi lain justru mereka menentang keberagman, ketika para imigran bersikap berbeda dengan mereka justru mereka menganggap sebagai pelanggaran nilai-nilai dan budaya barat yang katanya menjunjung tinggi keberagaman.

Sejatinya Barat sedang membuat propaganda islamophobia di Negara-negara Eropa dengan narasi-narasi negatif  tentang ajaran islam. Umat islam yang konsisten berpegang teguh dengan syariat islam mereka tuduh tidak adaptif dan eksklusif dan  mereka mengangggap bukan bagian dari mereka. Mereka sengaja menarasikan bahwa syariat islam tidak sesuai dengan zaman dan tidak layak dijadikan aturan hidup. Sehingga para pemeluknya menjadi ketakutan dan tidak percaya diri dengan agamanya dan akhirnya menjauhi agamanya sendiri, itulah target mereka.

Seringnya kasus penistaan agama islam di Barat terulang, merupakan bukti bahwa peristiwa ini bersifat sistemik karena didukung oleh politisi dan lolosnya para pelaku dari jeratan hukum. Meskipun barat mengatakan bahwa tindakan tersebut melawan hukum, namun munculnya banyak aksi sejenis menunjukkan bahwa barat tidak benar-benar serius menangani kasus tersebut.

Bentuk-bentuk islamophobia di barat dan Negara Eropa beragam bentuknya, mulai dari pelarangan pemakaian cadar, diskriminasi terhadap pelaksanaan ibadah, pembakaran Al Qur’an hingga pembunuhan. Islamophobia sengaja di design barat bertujuan menghancurkan Islam dan kaum muslimin serta mencegah kebangkitan Islam dengan tegaknya Institusi Khilafah. Karena khilafah inilah yang menjadi perisai kaum muslimin dari serangan dan terror musuh-musuh islam. 
 
Kondisi Islam dan umat islam saat ini terjadi dikarenakan tiadanya kekhilafahan  ditengah-tengah kaum muslimin, Ajarannya dinistakan dan umatnya dipandang rendah. Para musuh islam bebas melecehkan islam dan menindas umat islam, tidak ada yang bisa membela Islam dan umat islam. Beda cerita ketika Umat islam berada dibawah naungan khilafah, dan Islam menjadi sebuah system, umat islam termuliakan dan khalifah akan segera menindak jika ada seseorang ato Negara melakukan penistaan terhadap ajaran islam. 

Rasulullah SAW pernah menerapkan sanksi bunuh terhadap pelaku penistaan agama. Dan di masa kekhilafahan Utsmani, daulah bersikap tegas dengan menyiapkan pasukan perang utk menyerang Perancis, ketika diketahui perancis akan menggelar opera yang isinya menghina nabi Muhamammad SAW. Akhirnya pertunjukan opera pun dibatalkan.

Karena itu hanya khilafahlah yang bisa menghentikan islamophobia yang sedang terjadi di Negara-negara di Eropa dan akan menindas segala bentuk penistaan agama disemua negri. Dan hanya Khilafahlah yang akan memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan dakwah dan jihadnya.

Wallahu’alam bi asshowab
banner zoom