ISLAMOPHOBIA, DAMPAK HILANGNYA SANG JUNNAH

Oleh : Ashima Adzifa (Mahasiswi Malang Raya)

Penamabda.com - Pelecehan terhadap Islam kembali terjadi di daratan Eropa. Kejadian ini bermula dari insiden pembakaran Al Qur’an di Swedia oleh Rasmus Paludan, pemimpin kelompok anti-Islam Tight Direction (Stram Kurs) bersama para pendukungnya pada Jumat (28/8) malam. Insiden ini sontak memancing reaksi kecaman dari kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Sayangnya, aksi pelecehan yang sama kembali terjadi di Norwegia esok harinya. 
Demonstrasi anti-Islam di ibu kota Norwegia, Oslo berujung pada bentrokan. 

Demonstrasi ini diwarnai aksi meludahi Al Qur’an. Insiden ini mendorong pihak berwenang untuk mengakhiri acara lebih awal. Unjuk rasa yang diorganisir oleh kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN) tersebut, berlangsung di dekat gedung parlemen. Ratusan pengunjuk rasa tampak berkumpul, menabuh genderang dan meneriakkan "Tidak ada rasis di jalanan kami," seperti dilaporkan kantor berita DPA. Kantor berita NTB melaporkan situasi ini memuncak ketika seorang wanita anggota SIAN merobek halaman dari Al Qur’an dan meludahinya. (Detiknews, 31/08/2020)

Peristiwa yang terjadi di Swedia dan Norwegia tersebut bukanlah hal yang baru, kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali dan dilakukan oleh pembenci islam. Pada tahun 2010 kejadian serupa pun terjadi, dengan cara yang berbeda namun tujuannya sama yaitu ekspresi kebecian terhadap Islam dan pernak-perniknya termasuk Al Qur’an, ketika para pengikut Pendeta Terry Jones membakar Al Qur’an  sebagai ekspresi peringatan atas peristiwa 911.

Bahkan hal demikian pun pernah terjadi di Indonesia,yang mempunyai julukan the biggest moslem population, meskipun dalam bentuk yang lain yaitu penistaan terhadap Al Qur’an khususnya surat Al Maidah yang memicu lahirnya peristwa 212.

DI BALIK PERISTIWA PELECEHAN ISLAM YANG TERUS BERULANG

Peristiwa pelecehan terhadap Islam yang berulang-ulang ini menimbulkan tanya, apakah yang membuat pembenci Islam begitu berani dan nekad melecehkan agama Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam?

Pertama, aksi penistaan terhadap Al Qur’an yang terjadi berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada tindak tegas apalagi berefek jera terhadap pelaku penistaan. Beberapa negara Eropa malah telah berpikir untuk menghapus pasal terkait penistaan agama ini dalam perundang-undangannya. Tak heran jika para pembenci Islam dapat seenak hati melakukan aksinya tanpa mengkhawatirkan dampak yang mereka peroleh setelah melakukan aksi tersebut.

Kedua, merebaknya Islamofobia di berbagai penjuru dunia termasuk Eropa rupanya telah menjadi 'grand design' musuh-musuh Islam dalam memerangi ideologi Islam yang mulai menggeliat dan dikhawatirkan kebangkitannya. Terlebih angka populasi muslim semakin naik dari hari ke hari. 

Ketiga, janji kebebasan terutama kebebasan beragama ternyata tak lebih hanya sekedar isapan jempol. Negara Eropa yang notabene merupakan rahim ide demokrasi sekuler pun secara nyata sungguh tak dapat menerapkan idenya sendiri. Itulah ilusi demokrasi. Penguasa global bermodal adalah satu-satunya pihak penentu ideologi yang akan ditegakkan di dunia. Maka jangan berharap Ideologi lain (baca: Islam) akan mendapatkan tempat yang layak saat ini. Ditambah pasca tragedi 11 September 2011 mereka telah berhasil memukul telak ideologi Islam dengan penyematan label teroris bagi para pengembannya. Terang saja hal ini semakin menjauhkan kaum Muslimin dari ideologi Islam yang sebenarnya adalah rahmat bagi sekalian alam.

Kondisi ini pun tak terlepas dari hilangnya junnah  kaum muslim yang selama hampir satu abad lamanya semenjak Kekhilafahan terakhir Turki Utsmani berhasil dihancurkan pada tahun 1924 M. 

Khilafahlah satu-satunya institusi yang dapat melindungi kaum Muslimin, baik akidah, darah maupun kehormatannya. Penistaan demi penistaan akan terus berlanjut selama institusi ini belum tegak kembali. Kaum Muslimin bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, meraung-raung kesakitan efek kezaliman peradaban sampah kapitalisme sekuler yang berkuasa saat ini. Tak cukup Islam yang dinista, kaum Muslimin pun dilecehkan di berbagai belahan dunia. Sebutlah Muslim Palestina, Suriah, Uyghur, India, Kirgistan bahkan Muslim negeri ini pun menjadi saksi atas kezaliman sistem yang diterapkan hari ini.

Jika Khilafah tegak, tentu penistaan terhadap Islam tidak akan dibiarkan terjadi, bahkan bisa jadi tidak ada. Hal ini karena pelaku penistaan dalam Islam akan memperoleh hukuman yang tegas dan membuat jera. Seperti halnya yang dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid yang siap mengobarkan jihad terhadap  Prancis dan Inggris ketika akan diadakannya pertujukan teater di negeri tersebut yang berisi penghinan terhadap Rasulullah SAW. Mereka gentar akan ancaman tersebut dan berakhir pada pembatalan pertunjukan teater.

LANTAS, BAGAIMANA DENGAN KITA?

Apakah kita akan terus berdiam diri dengan kondisi ini? Tentu tidak demikian yang diajarkan oleh agama kita. Berjuang demi tegaknya kembali Khilafah Islamiyah yang akan melanjutkan kembali kehidupan Islam, itu adalah pilihan terbaik. Daripada hanya tinggal sebagai penonton atau malah menjadi musuh dalam selimut dengan menjadi antek musuh-musuh Islam. Na'udzubillaah.

banner zoom