TELITI DALAM MENERIMA DAN MENYAMPAIKAN INFORMASI BIAR TIDAK KONTROVERSI

Oleh : Khoirotiz Zahro V, S.E. (Muslimah Surabaya)

Penamabda.com - Saat ini, media sosial telah menjadi alat nyata untuk menyampaikan berita. Media sosial telah menyediakan ruang tanpa batas bagi semua kalangan untuk menyebarkan informasi atau menerimanya. Namun dalam menerima atau menyampaikan informasi baiknya diteliti dan konfirmasi apakah valid atau tidak.

Seperti yang dialami seorang publik figur sekaligus youtuber menuai kontroversi di media sosial terkait covid-19. Dalam perbincangan tersebut ia mengundang salah seseorang yang disebut sebagai profesor atau ahli mikrobiologi, sang profesor mengklaim sudah berhasil menemukan antibodi Covid-19, yang bisa mencegah dan menyembuhkan pasien yang telah terinfeksi.

Diberitakan pada laman Kompas.com (6/8), Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit itu, Hadi Pranoto juga memperkenalkan dirinya sebagai profesor sekaligus kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Sontak, namanya kemudian menjadi yang paling dicari di dunia maya lantaran gelarnya diragukan dan pernyataannya mengenai obat herbal itu dipertanyakan uji klinisnya.

Akibat dengan video tersebut, banyak pihak yang membantah. Seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan, Hadi Pranoto bukanlah anggota IDI. Ada juga Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta membantah menggunakan obat corona dari Hadi Pranoto. Padahal, dalam tayangan tersebut Hadi menyebut obat antibodi Covid-19 buatannya itu telah disuplai ke berbagai tempat, termasuk RSD Wisma Atlet.

Merasa resah dengan konten YouTube nya, Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid melaporkan Anji dan Hadi Pranoto ke Polda Metro Jaya pada 3 Agustus 2020. 

CnnIndonesia, Kamis (6/8) Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan Laporan Polisi (LP) yang atas musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto kini sudah naik ke penyidikan. Tingkatan proses hukum itu naik setelah melalui serangkaian penyelidikan hingga gelar perkara.

Memang hal ini mengundang kontroversi banyak orang karena saat ini pandemi Covid-19 masih eksis di negeri ini dan sangat membutuhkan obat atau vaksin untuk menyembuhkannya. Ketika ada seorang yang mengklaim berhasil menemukan antibodi Covid-19, yang bisa mencegah dan menyembuhkan pasien yang telah terinfeksi, masyarakat mulai berharap, tapi nyatanya dibalik semua itu mengandung kontroversi dikarenakan narasumber yang tidak valid dan soal status kredibilitas yang ditanyakan. 

Melihat kasus diatas diambil dari sudut pandang cara menyampaikan informasi atau berita haruslah teliti dan jeli, terutama mengenai Covid-19. Masalah ini menyangkut hajat orang banyak yang jika apabila salah mengambil informasi akan berakibat fatal, karena menyangkut tentang antibodi Covid-19. Tujuan ingin menyembuhkan malah bikin carut marut. 

Saat ini upaya penemuan vaksin untuk di berbagai negara terus dilakukan. Di beberapa negara, penelitian vaksin virus corona mulai menunjukkan perkembangan positif dan mulai diujikan kepada manusia. 

Sepotong informasi yang dibingkai dengan sangat memikat dan sensasional bisa tiba-tiba dianggap lebih berharga dan valid dibandingkan hasil riset para ahli yang sudah dikerjakan bertahun-tahun lamanya.

Lantas bagaimana Islam memandang penyebaran informasi tersebut, perlukah untuk melihat dan meneliti dulu dalam menyebarkannya. 

Sebagai Muslim, kita seyogianya bijak dalam menggunakan media daring serta berhati-hati dalam menyebarkan informasi di dalamnya. Kita harus meneliti dan mengecek tentang kebenaran setiap berita yang datang.

Karena bisa jadi sebuah informasi yang didapatkan adalah tentang kebohongan atau hoaks yang sengaja disebarkan untuk membuat kehebohan. Seseorang bisa disebut pendusta jika tergesa-tergesa dalam menyampaikan kabar berita kepada orang lain tanpa adanya bukti. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Cukup seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan segala apa yang didengar." (HR. Muslim).

Kewajiban kita ketika memperoleh informasi terlebih dahulu tabayun atau melakukan penelitian secara cermat dan teliti terhadap sebuah berita yang datang. Menurut Imam al-Syaukani, yang dimaksud dengan tabayun adalah memeriksa dengan teliti, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa atau kabar berita yang datang. Sehingga hal tersebut menjadi jelas baginya. 

Sikap teliti terhadap sebuah informasi menjadi sebuah keharusan untuk umat Islam agar tidak mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Tergesa-gesa dalam menyampaikan berita akan merusak tatanan sosial.

Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencela kakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS al-Hujurat: 6).

Apabila kita sudah berusaha meneliti, namun kita belum bisa memastikan kebenarannya, maka diam tentu lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang diam, dia selamat." (HR. Tirmidzi no. 2501) [3]

Wallahu’alam Bishawab
banner zoom