-->

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terancam Resesi

Oleh: Milawati (Aktivis Back To Muslim Community)

Penamabda.com - Resesi ekonomi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis yang terjadi dalam ekonomi suatu negara. 

Resesi ekonomi memberikan pengaruh kepada penurunan pada seluruh kegiatan ekonomi, seperti investasi, lapangan pekerjaan, dan penurunan keuntungan perusahaan.

Pandemi covid-19 seakan-akaan melumpuhkan ekonomi global, tidak terkecuali dengan Indonesia. Seiring dengan adanya kebijakan PSBB dan kewaspadaan masyarakat untuk menjaga jarak guna mencegah penularan virus. Alhasil, kondisi ini menekan daya beli masyarakat untuk menjaga jarak guna mencegah penularan virus. Akhirnya, kondisi ini menekan daya beli masyarakat, karena imbas pemotongan gaji dan PHK.
Dalam hal ini, anggaran belanja pemerintah memiliki peran sangat penting untuk menopang perekonomian. 

Sayangnya, di kuartal II-2020 pertumbuhan belanja pemerintah malah minus 6,90%, lebih rendah dari penurunan konsumsi rumah tangga yang sebesar 5,51%.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali minus pada kuartal III tahun ini. Artinya, perekonomian Indonesia terancam bakal masuk ke dalam jurang resesi lantaran selama dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Airlangga dalam paparannya di acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Rakernas Apindo) memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 akan -1 persen. Sementara, realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 lalu -5,32 persen.

Ke depan, untuk mendorong kinerja perekonomian pemerintah akan menggenjot belanja negara yang masih tersisa sekitar Rp 1.700 triliun pada kuartal III dan IV 2020. Adapun di dalam paparannya dijelaskan, pada kuartal IV mendatang pertumbuhan ekonomi RI akan sebesar 1,38 persen. Sehingga keseluruhan tahun, perekonomian minus 0,49 persen pada 2020. Sampai dengan Juni kemarin (belanja pemerintah) sudah dibelanjakan Rp 1.000 triliun, sehingga kuartal III dan kuartal IV diharapkan bisa belanjakan Rp 1.700 triliun, di mana Rp 700 triliun di kuartal III dan IV, ini akan dipacu, sehingga diharapkan kita bisa masuk zona positif. Kompas.com(12/08/2020)

Berbagai kebijakan pun terus dikeluarkan oleh pemerintah, untuk memperbaiki perekonomian Indonesia. Resesi akan senantiasa berulang selama sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. 

Pertama, ekonomi kapitalis merupakan monetary based economy. Artinya, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan yang merupakan sektor non riil. Keuntungan ekonomi tidak diperoleh dari kegiatan investasi produksi barang dan jasa. Keuntungan itu diperoleh melalui investasi spekulatif dalam sektor non riil. Misalnya, melalui kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Dengan ekonomi berbasis moneter seperti ini, kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari riba.

Karena berbasis riba, sistem moneter ini justru membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Akan ada obligasi yang tidak dibayar (default)  dan kredit macet. Jumlahnya pun akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini akan mempengaruhi sektor riil dan perekonomian secara umum. 

Kedua, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis fiat money atau uang kertas. Fiat money adalah mata uang keluaran-pemerintah yang tidak didukung oleh komoditas fisik, seperti emas atau perak, namun tetap pemerintah yang menerbitkannya. Nilai fiat money berasal dari hubungan antara penawaran dan permintaan dan stabilitas pemerintah yang menerbitkannya, bukan nilai komoditas yang mendukungnya seperti halnya uang komoditas. Karena tidak ditopang dengan logam mulia, nilai intrinsik  uang kertas tidak sama dengan nilai nominalnya. Karenanya, uang kertas mempunyai kelemahan mendasar, yaitu terkena inflasi permanen.

Ketiga, ekonomi kapitalis merupakan ekonomi berbasis utang. Utang yang dilakukan oleh negara-negara pengemban kapitalis maupun negara-negara berkembang dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat utang semakin membebani negara, negara bisa saja mencetak uang baru. Hal ini akan menyebabkan inflasi. Inflasi yang terjadi di negara besar, akan berdampak pula pada negara berkembang seperti Indonesia.

Untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi di atas secara tuntas, maka solusinya hanya satu yaitu menerapkan khilafah sebagai satu-satunya aturan. Hanya sistem ekonomi Islam lah yang akan mampu menghentikan krisis ekonomi global yang sistemik serta memberikan jaminan kesejahteraan bagi umat manusia.