MENEMUKAN CAHAYA DIANTARA KEGELAPAN

Oleh : Khoirotiz Zahro Verdana (Muslimah Surabaya)

Penamabda.com - Apa yang akan dilakukan saat lampu padam, pasti pertama yang dicari adalah cahaya untuk menerangi. Lilin sebagai salah satu alat untuk menerangi kegelapan saat lampu padam. Dengan lilin tersebut kita mampu melihat keadaan sekitar yang ada didepan tanpa perlu takut akan tersesat.

Berbicara tentang cahaya sebagai penerang dalam kegelapan, umpama seorang yang tidak tahu arah gelap dalam pengetahuan kemudian bertemu dengan sebuah ilmu menjadi tahu dan berjalan sesuai dengan arah. Tanpa penerangn cahaya akan tersesat begitu juga tanpa ilmu seorang akan buta akan pengetahuan. 

Rasulullah saw pernah bersabda, "Ketahuilah, bahwa ilmu adalah cahaya (nur)." Sifat cahaya yang paling utama adalah memberi penerang. Mengusir kegelapan juga salah satu munculnya cahaya. Petunjuk arah juga peran yang tak kalah penting dari cahaya. 
Maka ilmu yang benar akan menjadi cahaya yang mengusir kegelapan, sekaligus menunjukkan arah kebaikan. Bisa dibayangkan apabila kita menempuh jalan yang tidak kita ketahui arahnya, kita akan tersesat tentunya. Sehingga posisi ilmu sebagai cahaya adalah posisi mulia dalam kehidupan manusia. 

Ilmu mempermudah pekerjaan manusia. Perumpamaan orang yang memiliki ilmu adalah orang yang berjalan menuju suatu tempat baru dengan bekal sebuah peta. Orang dengan peta akan mengetahui lebih pasti jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Orang dengan tidak ada peta bisa jadi dia sampai dan bisa jadi dia tersesat, tidak jelas. Peta adalah ilmu tersebut, yang dibuat berdasarkan pengalaman seseorang yang mengetahui setiap ruas jalan di daerah itu sebelumnya.

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat -Imam Syafi’i-

Bercermin dara para ulama dahulu, mereka harus berkelana ke berbagai negara untuk memperdalam ilmu. Bagaimana gigihnya perjalanan imam Bukhari, sejak umur enam belas tahun, beliau merantau ke berbagai negara, yaitu di antaranya Khurasan, Bashrah, dan Kuffah, padahal beliau tinggal di Bukhara (Asia Tengah, di belahan timur Turkistan).

Langkah demi langkah yang ditempuh penuntut ilmu merupakan sebuah usaha untuk menjadi insan yang lebih mulia. Bukan hanya mulia di dunia, tetapi terlebih kemuliaan di akhirat kelak.

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Sesungguhnya ilmu adalah kehidupan dan cahaya. Sedangkan, kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Semua keburukan penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan (hati) dan cahaya. Semua kebaikan sebabnya adalah cahaya dan kehidupan (hati). Sebaliknya, kebodohan dan keburukan yang disebabkan oleh kematian hati dan tidak takutnya kepada yang buruk. 

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (H.R Muslim)

Keutamaan ilmu disifatkan sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan, berupa jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka dari kegelapan, kemaksiatan dan kejahilan, menuju kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.

Jika seseorang lebih condong mengikuti hawa nafsunya, gemar melakukan kemaksiatan yang menyebabkan hatinya menjadi gelap, maka ilmu akan sulit menempati hati yang gelap tersebut, sebab tidak akan mungkin berkumpul dalam satu hati antara kegelapan maksiat dengan cahaya ilmu. 

Rasulullah saw menegaskan keutamaan ilmu yang bermanfaat, baik semasa di dunia bahkan setelah manusia itu wafat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)

Jangan pernah berhenti menuntut ilmu, bahkan hingga akhir hayat. Di mana pun, kapan pun, bukan hanya di lembaga pendidikan formal ataupun di pengajian saja. Namuan juga dalam setiap hal dan kesempatan yang diberikan oleh Allah dalam kehidupan kita.

Karena tanpa ilmu kita buta tidak mampu membedakan buruk dan baik, halal dan haram. 
Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu karena dengan ilmu, kita akan menjadi cerdas dan mempunyai tuntunan dalam menjalani kehidupan. 
Imam Ahmad berkata, “Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar.”

Seseorang lantas bertanya, “Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah?”

Beliau menjawab, “Yaitu berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.”

Dengan begitu, muslim yang benar berpikirnya, jauh visinya, dan peduli terhadap agamanya akan menjadikan aktivitas menuntut ilmu sebagai tuntutan dalam dirinya. Sesibuk apapun akan tetap menambah, memperbaiki dan mempertajam ilmu, terutama yang mengantarkannya untuk semakin paham dengan agama (tafaqquh fiddin). Wallahu’alam Bishawab.


Oleh : Khoirotiz Zahro Verdana (Muslimah Surabaya)
banner zoom