Di Balik Program Baru Kemendikbud

Oleh : Dara Millati Hanifah, S.Pd (Pemerhati Pendidikan)
.
Penamabda.com - Kemendikbud membuat program baru yaitu POP (Program Organisasi Penggerak). Program ini diadakan guna untuk meningkatkan kualitas guru, kepala sekolah dan mutu pendidikan. Program ini juga merupakan turunan dari merdeka belajar yang diinisiasi oleh Nadiem Makariem. Namun, belum disahkan beberapa ormas islam seperti NU, muhammadiyah serta PGRI sekalipun mengundurkan diri dari porgram tersebut.
.
Adapun alasan NU, Muhammadiyah dan PGRI mundur dari program ini karena proses seleksi yang tidak transparan. FGII (Forum Guru Ikatan Indonesia) salah satu yang ikut program ini mengklaim bahwa seleksi yang dilakukan kemendikbud objektif. Karsiyarno, ketua majelis pendidikan dasar dan menengah PP Muhammadiyah menuding bahwa sebagian penerima dana hibah adalah organisasi yang rekam jejaknya tidak jelas dibidang pendidikan. 
Menurut data resmi kemendikbud dari 324 proposal hanya 183 yang losos diakhir verifikasi. Diantara mereka adalah dua yayasan yang dikelola oleh perusahaan swasta yaitu PT Sampoerna dan Bhakti Tonoto. Kedua yayasan tersebut menjadi penerima hibah program POP (www.bbc.com 24/07/2020)
.
Rektor universitas Al-Azhar Indonesia, Asep Saefuddin seorang pengamat pendidikan menganggap POP harus memiliki konsep yang kuat. Ia mengatakan kemendikbud harus tahu kenapa, apa dan bagaimana program tersebut harus berjalan. Program ini juga harus jelas ditujukan ke titik yang kurang dari pendidikan.
Beliau juga menyinggung soal mundurnya tiga organisasi terbesar di Indonesia. Berarti ada yang salah dalam program tersebut. Ia menegaskan pendidikan bukan hanya mengejar ketinggalan dalam hal ini adalah teknologi. Tetapi harus ada perubahan secara holistik baik dari guru, kepala sekolah, mutu pendidikan dan lain sebagainya. (Republika.co.id 26/07/2020).
.
Pengamat pendidikan asal Surabaya Moch Isa Anshori menilai program ini tak bisa dijalankan sendiri oleh pemerintah melainkan harus secara bersama dengan organisasi yang relevan dengan pendidikan. Namun, mundurnya tiga organisasi terbesar berarti ada yang tidak sejalan soal kesepakatan. Salah satunya tentang proses seleksi yang tak transparan.
Mengenai hal itu, Nadiem Makariem selaku menteri kemendikbud akan melakukan evaluasi terkait program ini. Ia menegaskan program ini ada untuk inovasi sistem belajar yang lebih baik. (M.Tribunnews.com 26/07/2020)
.
Dari penjelasan fakta diatas ini membuktikan bahwa ada yang salah dalam pendidikan kita saat ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah lalai dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya yaitu pendidikan. Padahal pendidikan adalah bagian yang paling penting dalam mengubah peradaban dunia. 
.
Dalam Islam pendidikan sangat diperhatikan terutama dari sisi kualitasnya baik guru, kepala sekolah maupun mutu pendidikannya. Negara akan melakukan berbagai cara agar pendidikan berjalan dengan baik serta melahirkan generasi yang berkualitas.
Namun, diera kapitalis saat ini, untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas harus membayar dengan harga yang mahal. Makanya, tak heran jika ada beberapa anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena biaya pendidikan yang semakin tahun semakin meningkat.
.
Berbeda dengan sistem Islam, di mana pendidikan sangat diperhatikan oleh Negara. Dari sisi biaya, proses pembelajaran bahkan kurikulum sekalipun. Karena Negara menjamin kualitas pendidikan yang baik untuk rakyatnya. Semua orang bisa menuntut ilmu baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Ditambah birokrasi pendidikan yang mudah tak seperti saat ini.
Namun, pendidikan seperti itu tidak akan terjadi jika sistem yang digunakan masih kapitalis. Hal tersebut akan ada jika sistem yang digunakan adalah Islam.
.
Wallahu 'alam bi sawab
banner zoom