Negara Besar namun Rapuh, Pasti Sekuler

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, Indonesia mempunyai modal untuk menjadi negara besar di Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki pasar yang besar. Kedua, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Namun, untuk menjadi negara besar, Indonesia perlu memperbaiki beberapa aspek, misalnya dari aspek logistik dan teknologinya.“Nah, hal-hal ini (logistik dan teknologi) yang kita harus perbaiki,” ujar Erick (KOMPAS.com, 17/7/2020).
Erick menjelaskan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan Kemenlu agar produk-produk Indonesia bisa bersaing dengan negara lainnya. Untuk merealisasikan hal tersebut, Kementerian BUMN dan Kemenlu membuat program BUMN Go Global. “Insya Allah manfaatnya untuk kita semua, dan sudah saatnya Indonesia setara, bahkan lebih besar dari negara lain,” kata mantan bos Inter Milan itu.

Saat ini, kata Erick, produk kesehatan ( vaksin produksi Biofarma ) ataupun dari industri pertahanan sendiri kita sudah dapat pengakuan dari negara-negara di Asia Tenggara dengan produk-produk kita, dan tentunya banyak hal lagi yang kita bisa tingkatkan. 

Entah naif atau yang lain, pernyataan menteri BUMN ini meluncur begitu saja tanpa melihat fakta bagaiman faktanya negara ini. Status negara besar tak sekedar didapat dari jumlah penduduknya yang banyak, atau teknologi dan perdagangannya yang maju. Itu hanya kemajuan material yang akan rapuh seiring waktu tanpa manusia yang memiliki arah pandang yang tepat dalam kehidupannya. 

Allah SWT berfirman  dalam QS Adz Dzariyat :56 yang artinya: 
" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” 
Ayat di atas dengan jelas memberitahukan kepada kita tentang tujuan hidup manusia di dunia. Yaitu menjadi hamba Allah yang taat kepadaNya saja. Tidak mempersekutukan dengan apapun.

Maka, dengan inilah para pendahulu kaum Muslimin membangun sebuah negara, sebuah peradaban. Yang tak sekedar luas wilayahnya, beragam ras dan agama manusianya, berikut budaya dan bahasanya. Disebut sebagai negara Khilafah yang mempimpin negara-negara di dunia selama 1300 tahun. 

Di sanalah tampak manifestasi sebuah negara besar, hingga menjadi mercusuar dunia dengan berbagai kemajuan dan ketinggian taraf hidup rakyatnya. Semua ketika berdasar arah pandang akidah Islam. Jika kini mengharap menjadi negara yang besar dengan masih menjadikan sekulerisme( pemisahan agama: Islam dari kehidupan dunia) sebagai arah pandang jelas bak punguk merindukan bulan. Hingga kiamat tak akan terwujud.

Sekulerisme memandang masyarakat hanyalah sekumpulan individu, sedang Islam memandang masyarakat sebagai kumpulan indivu yang saling berinteraksi yang memiliki perasan, peratuan dan pemikiran yang sama. Sehingga dengan kesamaan itulah disusun konsep bernegara, yang itu ada dipundak seorang Khalifah. Satu-satunya pemimpin yang akan menerapkan syariat Islam secara Kaffah. 

Mengapa harus Islam yang dipilih sebagai arah pandang sebuah negara? Sebab hanya Islam yang memiliki seperangkat aturan yang memang diciptakan Allah untuk menjadi solusi seluruh problematika manusia di dunia. Agama lain ataupun ideologi yang lain tidak mampu. 

Negara berdasar Islam tentu akan melarang seluruh muamalah yang diharamkan oleh syariat. Berikut juga tidak akan melalukan kerjasama dengan negara yang memerangi Islam. Negara akan memilah mana kepemilikan pribadi, umum dan negara agar rakyat bisa mendapatkan haknya tanpa harus berebut dengan Aseng dan asing. Intinya, negara besar butuh totalitas kepada Sang Pembuat Syariat, sebab hanya dengan syariat kemuliaan sebagai bangsa dan negara di dapat. 

Wallahu a' lam bish showab. 
banner zoom