Corona Makin Menjadi, OTG Makin Tak Terkendali

Oleh : Nurilam binti Abubakar
(Pegiat Literasi Aceh)

Penamabda.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan lonjakan kasus Corona hari ini patut diwaspadai. Tambahan angka positif 404 kasus menembus rekor tambahan harian covid-19 (cnnindonesia.com, 12/7/20).

Dalam kesempatan yang lain, Anies Baswedan juga menyatakan bahwa 66 persen dari kasus covid-19 baru di ibukota merupakan orang tanpa gejala (OTG).  Para OTG itu ditemukan secara pelacakan kasus secara aktif atau active case finding yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan baik rumah sakit, klinik maupun puskesmas (Tempo.co, 12/7/20). 

Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto, melaporkan penambahan kasus baru pasien positif covid-19 sebesar 1.639 orang pada ahad 19 Juli 2020. Sehingga total kasus menjadi 86.521 kasus, kata Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui akun yutube BNPB, ahad 19 Juli 2020. Kemudian terdapat 2.133 orang pasien sudah sembuh, sehingga total menjadi 45.401 kasus. Terdapat 127 kasus pasien yang meninggal dari konfirmasi  covid-19 positif sehingga menjadi 4. 143 orang (Tempo.co, 17/7/20).

OTG Makin Tak Terkendali! 

Langkah langsung yang telah dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu adalah dengan menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diseluruh wilayah Indonesia disertai sosial distancing dan physical distancing, artinya masyarakat diajak untuk aktif mengikuti aturan pemerintah melakukan batasan aktivitas umum dan jaga jarak lebih tepatnya stay at home. Tentu langkah ini sangat berpengaruh positif terhadap pengendalian dampak penyebaran virus corona ditengah-tengah masyarakat. 

Tetapi penerapan PSBB tidak berlangsung lama, tepat pada Mei 2020 pemerintah menetapkan aturan baru yaitu new normal yang berarti kehidupan dengan gaya baru ditengah pandemi virus corona. Dengan demikian pemerintah juga telah membuka tempat-tempat umum seperti, pelabuhan, terminal, bandara, mall dan tempat umum lainnya secara bertahap. 

Nyatanya di era new normal ini penyebaran virus corona makin meningkat tak terkendali, langkah-langkah pengendalian yang dilakukan oleh tim gugus covid-19 belum menunjukkan hasil yang signifikan. Salah satu alasan pemerintah menerapkan new normal adalah untuk mengembalikan perekonomian masyarakat yang terdampak wabah virus corona.

Dalam menghadapi situasi sulit seperti ini, masyarakat memang membutuhkan kebijakan yang tepat. Kebijakan yang bukan hanya didasarkan kepentingan ekonomi atau uji coba. Artinya, kapabilitas kepemimpinan dan sistem yang mengatur rakyat akan teruji. Apakah akan mampu menyelesaikan dan menangani wabah?. 

Faktanya, sejak awal penanganan wabah pemerintah sangat lamban bahkan terkesan meremehkan pandemi ini. Saat kondisi makin runyam, hubungan antar pemangku kebijakan tidak harmonis. Kebijakan yang ada terkesan inkonsisten, bahkan  kebijakan yang dikeluarkan mengancam nyawa rakyat. 

Kebimbangan yang menimpa pemerintah, antara memilih perekonomian atau keselamatan nyawa rakyat dari ancaman pandemi virus corona. Memilih untuk memulihkan ekonomi terlebih dahulu  tentu beresiko terhadap nyawa manusia. Namun jika memilih menyelamatkan rakyat, tentu negara tidak memiliki anggaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat, karena APBN bersumber dan pajak dan hutang. Tentu keadaan ini sangat dilema baik untuk pemimpin pusat maupun daerah. 

Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah,  justru diserahkan gratis ke asing. Dilema ini tidak lepas dari paradigma sistem kapitalis yang diterapkan saat ini. Sebab sistem ini melawan aturan sang Pencipta semesta yaitu Allah SWT. 

Berbicara tentang sistem kapitalis yaitu sistem yang menagasi aturan Pencipta ini memandang jika negara yang harus menanggung kebutuhan rakyat nya adalah sebuah beban. Karena mereka harus mengeluarkan modal yang besar tanpa memperoleh keuntungan. 

Oleh karena itu, wajar new normal tetap diterapkan, meski harus mengorbankan nyawa rakyat. Padahal keadaan runyam ini bisa saja tidak terjadi, jika sistem kehidupan negeri ini tidak mengadopsi sistem kapitalis. 

Sistem Kehidupan Seperti Apa Yang Harus Diterapkan Di Negeri ini? 

Sistem kehidupan yang mestinya dijalankan adalah sebuah sistem yang lahir dari Sang Maha Pencipta alam semesta yaitu Allah SWT sebagai Al Khalik yang telah membuat aturan hidup bagi kehidupan umat manusia yaitu melalui syariat yang terbingkai dalam sistem Islam. 

Dalam sistem Islam kepemimpinan diistilahkan sistem khilafah Islam dan pemimpin tertinggi nya disebut khalifah. Sebab khilafah Islam telah memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani wabah. 

Pertama, pemimpin atau khalifah dipandang sebagai pelayana umat yang melayani rakyat dalam kondisi apapun yang akan dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat. 

Kedua, jika terjadi wabah, khalifah akan memisahkan antara yang sehat dan yang sakit dari awal, sehingga wilayah yang tidak terdampak dapat melakukan aktivitas secara normal. 

Ketiga, khalifah akan berintegrasi dengan wali (gubernur) untuk memastikan pendistribusian baik kebutuhan logistik maupun medis dengan kualitas terbaik. Jaminan ini ditanggung oleh pemerintah secara mutlak. 

Keempat, departemen kemaslahatan khilafah yang bertugas untuk penanganan wabah, akan membantu pemerintah untuk mempercepat penyaluran dana dan pelayanan terdampak wabah. Dana ini bersumber dari kas kepemilikan umum dan kepemilikan negara yaitu baitul mal. 

Kelima, khalifah akan memberikan dana yang cukup untuk para ilmuwan terkhusus dibidang virologi dan biomolekuler, mereka akan fokus untuk segera menemukan vaksin atau obat baik herbal maupun kimia yang berpotensi menyembuhkan penyakit. 

Inilah mekanisme yang jelas untuk menangani wabah dalam sistem kepemimpinan Islam, baik dari segi kepemimpinan, kebijakan, dana dan inovasi pengobatan. Sungguh mekanisme yang tidak akan pernah sama dengan sistem kapitalis.

Wallahu A'lam Bissahawab.
banner zoom