Saat Hijrah Terganjal Islamphobia

Oleh : Najah Ummu Salamah (Praktisi pendidikan dan pengasuh MT. Al-Munawaroh, Gresik - Jatim)

Penamabda.com - Siang itu tiba-tiba ada WhatsApp chat masuk dari seorang teman. Dia menceritakan jika ada sahabatnya ingin berhijrah, ingin bertaubat. Tapi ketika diajak ikut kajian online malah tidak mau. Takut mengkaji Islam katanya, khawatir nanti dituduh radikal. Pengalaman demikian mungkin banyak di luar sana. Dan justru di alami oleh sebagian umat Islam sendiri. Ingin berhijrah tetapi takut mengkaji Islam kaffah.

Adanya wabah covid-19 selain dampak negatif, juga berdampak positif. Banyak dikalangan umat Islam yang mulai menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah, terbatas dan butuh Al-Khaliq. Manusia tidak bisa lagi merasa jumawa di hadapan wabah. Kekayaan, jabatan dan teknologi tidak bisa melindungi. Sehingga umat manusia benar-benar kembali kepada fitrah penciptaannya, menjadi hamba dari sang pencipta. Maka, fenomena hijrah dan taubatan nasuhah ada di mana-mana. Mulai dari yang tua hingga yang muda. Komunitas hijrah pun bisa kita temui di berbagai kota dan media sosial. Hijrah bukan hanya pada kalangan rakyat biasa, bahkan banyak di antara mereka dari kalangan pejabat dan artis. 

Namun ada juga yang ingin hijrah tapi masih ragu untuk memulainya. Mereka masih takut mengkaji Islam kaffah ataupun mengikuti acara-acara komunitas hijrah. Alasan mereka rata-rata takut dituduh radikal. Padahal persepsi mereka tidak berdasar sama sekali. Mengapa fenomena hijrah berujung Islamphobia?

Sungguh Islam adalah agama yang tinggi dan mulia. Rosulullah SAW bersabda: 
"Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” [HR Ar-Rawiyani, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi)
Allah SWT juga berfirman yang artinya:
 "Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.” [Ali ‘Imran: 19] 

Maka tuduhan negatif terhadap Islam dan ajarannya adalah tuduhan yang tidak berdasar. Menilai Islam tidak bisa disamakan dengan menilai pemeluknya. Islam dan Muslim itu dua hal yang berbeda. 

Perilaku negatif seorang muslim belum tentu mencerminkan Islam dan ajarannya. Jika kita ingin menilai Islam, maka nilailah kebenaran kitab Suci Al-Qur'an. Bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang asli dari sang Pencipta. Al-Qur'an mu'jizat yang diturunkan Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Meskipun Al-Qur'an berbahasa arab, namun hingga saat ini tidak ada satupun orang Arab yang mampu membuat kitab yang serupa. Bahasa Al-Qur'an di ajarkan Allah SWT langsung kepada Baginda Nabi, baik redaksi maupun isinya. Beliau tidak bisa membaca dan menulis, bagaimana mungkin membuat karya yang begitu luar biasa. Jelas dari sini, bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Illahi. Semua isinya benar dari sang pencipta. Menerapkan Al-Qur'an membawa keberkahan.

Adanya tuduhan negatif kepada Islam adalah upaya media-media yang menjadi corong peradaban Barat. Media-media tersebut menjadi alat untuk mencegah kebangkitan Islam. Sejak Institusi Khilafah Islamiyah dihancurkan oleh orang-orang kafir pada tahun 1942 M, Islam dan umat Islam selalu mengalami perundungan. Mulai dari masalah Palestina, Rohingnya, Suriah hingga Umat Islam di XinJiang mengalami kezaliman. Perang peradaban sudah terjadi hingga saat ini dalam seluruh aspek kehidupan. Antara peradaban Barat dan peradaban Islam. Antara Ideologi kapitalis, komunis dan Ideologi Islam.

Dampak yang paling nyata dari propaganda media Barat atas Islam adalah Islamphobia. Hal ini semakin nampak nyata pasca peristiwa 9/11. Umat Islam pada waktu itu dituduh teroris. Padahal hingga detik ini tuduhan tersebut tidak terbukti. Selanjutnya  muncul istilah radikalisme, sebuah tuduhan yang dialamatkan kepada umat Islam yang ingin menerapkan Islam Kaffah.

Islam adalah agama yang fitrah. Mengambil Islam sebagai aqidah berarti menyembah Allah SWT. Konsekuensinya adalah melaksanakan ketaatan pada semua perintahNya dan menjauhi laranganNya. Islam adalah agama keselamatan dunia akhirat. Jangan sampai opini negatif yang tidak berdasar membuat kita takut untuk belajar. (Wallahu a'lam Bu ash-showab).

Profil: praktisi pendidikan dan pengasuh MT. Al-Munawaroh
banner zoom