Perjuangan Hakiki, Penerapan Islam Kaffah

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Dalam Quran Surat Al Ankabut :2-3 firman Allah SWT sebagai berikut: 
" Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkansaja mengatakan kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang berdusta"

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya, dalam surat Al-ankabut di atas terdapat 2 poin penting yang pertama adalah beriman itu pasti diuji.  Yang kedua adalah Allah Maha tahu mana hambaNya yang benar dan mana yang dusta.  Ini sangat penting kita ketahui sebab kita hidup di dunia ini tidak sekedar hidup melainkan menanggung amanah dari Allah untuk menjalankan perintah dan larangannya sebaik mungkin.

Sebab di hari akhir kita akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah sebagaimana firman, " Allah Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Mudatstsir: 38). 

Maka menjadi penting untuk kita ketahui terkait 2 poin di atas.  Beriman artinya membenarkan apa yang dibawa Rasulullah yaitu Alquran dan as-sunnah. Maka kita secara wajar akan diuji dalam keadaan apapun  apakah kita masih selalu membenarkan. Ataukah justru kita memperturutkan hawa nafsu semata? Apakah dalam membenarkan apa yang kita yakini, kita imani mendorong kita  dengan masuk Islam Kaffah atau malah mengingkarinya ? Apakah kita tetap berada pada keteguhan yang sama ketika ujian-ujian itu menghampiri kita? Dan seterusnya

Sedangkan point yang kedua,  Allah Maha Tahu mana hambaNya yang benar dan mana yang dusta artinya kemahatahuan Allah memang tak berefek di dunia.  Kita kufur , mendua, malas ataupun bahkan kita tidak mengakui adanya Tuhan tetap diberi rezeki ,kemudahan dan lain-lain.  Tapi di akhirat, dimana hanya ada kita dan Allah, maka kepada siapa hendak kita berpaling? kepada siapa kita hendak meminta pertolongan dan naungan?  Sebab ketika itulah pengadilan  diadakan untuk pertanggungjawaban atas seluruh amal yang dikerjakan manusia.

Bagi kaum mukmin ini sangat penting sebab ketika ia mengucapkan kalimat syahadat maka saat itu pula ia terikat dengan seluruh apa yang ia katakan.  Itu artinya,  ia beriman atau membenarkan apa yang ia yakini , maka  ketika lulus ujian  akan memperoleh surga. Demikian pula ketika menjadi katagori orang benar maka Allah akan memberikan imbalan  surga pula.  Artinya kedua poin ini sama-sama memberikan kita kesempatan untuk meraih surga Nya Allah dan untuk mencapai pada keberhasilan ini kita butuh perjuangan yang Hakiki.

Apa yang dimaksud dengan perjuangan Hakiki? yaitu perjuangan atau upaya yang menjadikan hidup ini sesuai dengan misi visi kita di dunia,  yaitu sesuai dengan Quran  Surat az-dzariyat :56 yang artinya: 
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku semata, tidaklah Aku menciptakan mereka agar mereka menjadikan sekutu bagi-Ku. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia dan mengutus para rasul kecuali untuk tujuan luhur, yaitu beribadah hanya kepadaKu semata bukan kepada selainKu".

maka visi misi kita  menjadi seorang hamba Allah yang baik dan kemudian bisa melakukan ibadah secara sempurna hingga boleh menikmati surganya Allah itu tidak lain harus ditempuh dengan menerapkan Islam Kaffah dan Islam Kaffah tidak bisa diterapkan secara individu karena itu artinya menerapkan sebagian dan membuang yang lainnya.  Maka intinya kita butuh sebuah institusi negara yang itu searah pandang dengan pemikiran kaum muslim yaitu sebagai penerapan syariat Allah secara Kaffah.

Maka inti dari perjuangan penerapan Islam secara Kaffah merupakan perjuangan jakiki bagi kita kaum muslimin.  Sebab hanya dengan itu kita bisa memperoleh derajat orang yang benar dan dan beriman sesuai dengan Al Ankabut. 

Wallahu a' lam bish showwab.
banner zoom