Penyesatan Informasi Dikala Pandemi

Oleh : Tri Purwasih. P (C.L.F) (Mentor KISRA (Kajian Islam Remaja Akhwat) Batam) 

Penamabda.com - Beredar informasi di media sosial bahwa sebenarnya Corona bukanlah virus yang menyebabkan kematian tapi bakteri yang menyebabkan pembuluh darah melebar dan membeku. Jadi Covid-19 tidak lain adalah Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC) atau trombosis. Maka penyembuhannya adalah dengan antibiotik, anti inflamasi dan antikoagulan seperti Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol. 

Informasi ini jelas hoaks dan tidak memiliki dasar secara ilmiah. Covid-19 adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus Corona baru, yang baru ditemukan di Wuhan, China, pada akhir Desember 2019 sehingga penyakitnya disebut Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Kumannya sendiri disebut dengan 2019 Novel Coronavirus atau nama lainnya adalah SARS Coronavirus 2. Jadi SARS COV2 merupakan salah satu dari kelompok virus Corona. Ada banyak virus Corona (ada sekitar 7) yang dapat menginfeksi manusia, tiga diantaranya adalah MERS COV, SARS COV dan yang sekarang ini anggota terbarunya SARS COV2 yang menyebakan penyakit Covid-19 . Disebut virus Corona karena struktur selnya yang seolah-olah ada mahkota (crown) pada bagian pucuknya sehingga dinamakan Coronavirus.

Virus ini menyerang saluran pernafasan. Saluran pernafasan kita secara sederhana bisa dibagi menjadi 2 bagian. Bagian atas mulai dari saluran hidung hingga percabangan ke kedua paru-paru dan bagian bawah adalah paru-paru itu sendiri. Saat kita bernafas udara masuk lewat saluran nafas, jadi saluran ini hanya tempat mengalirnya udara sedangkan proses pertukaran oksigen & karbondioksida (proses difusi) terjadi di dalam paru-paru.

Covid-19 bisa menyerang saluran pernafasan atau di paru-paru. Jika menyerang pada saluran pernafasan, gejalanya cenderung ringan seperti batuk pilek biasa, yang menjadi masalah jika virus ini selain menyerang saluran pernafasan juga mengenai paru-paru. Menyebabkan terjadinya peradangan di paru-paru yang disebut dengan Pneumonia. Pneumonia ini juga ada derajatnya yakni ringan, sedang hingga berat, tergantung luas atau tidaknya bagian paru-paru yang terkena. Jika paru-paru yang terkena radang cukup luas dapat menyebabkan sesak nafas hingga gagal nafas yang dapat menyebabkan kematian.

Sedangkan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) atau koagulasi intravaskular diseminata adalah penyakit langka yang mengancam jiwa. Pada tahap awal kondisi, DIC menyebabkan darah membeku secara berlebihan. Akibatnya, gumpalan darah dapat mengurangi aliran darah dan menghalangi darah untuk mencapai organ tubuh.

Seiring perkembangan kondisi, trombosit dan zat dalam darah yang bertanggungjawab untuk membentuk gumpalan darah akan habis. Ketika hal ini terjadi, maka akan menyebabkan pendarahan yang berlebihan.

Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan trombosis atau penggumpalan darah pada pembuluh darah adalah penyebab utama kematian pasien Covid-19 atau obat antikoagulan adalah satu-satunya obat untuk merawat pasien Coronavirus.

Berkaitan dengan klaim penyembuhannya adalah dengan antibiotik. Faktanya, antibiotik tidak direkomendasikan pada pasien Covid-19 karena penyakit ini disebabkan oleh virus dan antibiotik digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri. Banyak yang masih belum diketahui tentang virus Corona dan sejauh ini tidak ada pengobatan atau antivirus yang telah dikenal luas efektif terhadap Covid-19. 

Penting bagi kita untuk mengkroscek ulang informasi atau berita yang didapat. Jangan langsung ditelan bulat-bulat, bisa fatal akibatnya. Apalagi informasi mengenai Covid-19 yang menjadi pandemi saat ini. Jika salah informasi maka bisa salah dalam mengatasinya.

Berita atau informasi yang tidak benar alias hoaks mengenai virus Corona memberikan efek yang signifikan terhadap penyebaran virus ini. Penambahan jumlah ODP dan PDP salah satunya. Di Indonesia sendiri penambahannya cukup tinggi karena selain kurangnya edukasi dan informasi juga diperparah dengan beredarnya berita atau informasi yang salah.

Masyarakat menjadi abai dan kurang menerapkan protokol kesehatan bahkan saat berinteraksi di tempat umum. Himbauan untuk memakai masker dan menjaga jarak pun banyak yang tidak mengindahkan. 

Peran negara sebagai pembuat kebijakan sangat diperlukan untuk mengontrol dan mencegah penyebaran berita atau informasi yang salah mengenai virus ini. Disamping negara juga harus lebih menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Dan tentu juga harus diberikan sanksi yang tegas bagi pelaku penyebar hoaks. 

Jauh panggang dari api. Mungkin itu istilah yang sesuai untuk kondisi saat ini. Peran negara kurang maksimal. Terlihat dari kebijakan-kebijakan menangani penyebaran virus yang gonta-ganti dan setengah hati. Juga pernyataan-pernyataan beberapa pejabat yang terkesan menyepelekan bahkan membuat kelakar disaat banyak korban berjatuhan baik dari rakyat maupun para tenaga medis.

Terakhir pemerintah sedang melakukan uji coba New Normal Life di beberapa daerah. Menjadi pertanyaan, apakah negara 'terkesan' mengabaikan penyebaran hoaks tentang virus Corona sebagai langkah persiapan New Normal Life? Sehingga masyarakat lebih 'siap' untuk kembali ke kehidupan normal dan melawan virus ini dengan HERD Immunity.
______________
Sumber 
https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-italia-mengalahkan-covid-19-koagulasi-intravaskular-diseminata-trombosis
https://www.klikdokter.com/penyakit/koagulasi-intravaskuler-diseminata
https://www.alodokter.com/virus-corona


banner zoom