New Normal ; Nyawa Rakyat Dikorbankan

Oleh : Khoirotun Nisa'

Penamabda.com - Di tengah pandemi covid-19 yang belum diketahui masa berakhirnya, pemerintah mulai mewacanakan kehidupan normal baru (new normal). Masyarakat diharapkan dapat segera melaksanakan aktivitas seperti biasa, tetapi dengan cara yang baru. Menurut Presiden Jokowi, pemerintah akan mengatur agar kehidupan masyarakat secara perlahan dapat berjalan normal.

Kehidupan yang berubah akibat pandemi merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, Jokowi menyatakan agar masyarakat harus dapat hidup berdampingan dengan Covid-19. (https://m.detik.com)

Kebijakan itu dilakukan dengan membuka beberapa fasilitas sosial dengan protokol kesehatan yang ketat. Langkah tersebut diambil untuk mengembalikan stabilitas ekonomi Indonesia yang sedang mengalami inflasi. Yang sebenarnya new normal adalah tuntutan para kapitalis (pemilik modal) yang tidak mau rugi.

Tentu kebijakan pemerintah tersebut mendapat dukungan dari para pengusaha. Salah satu nya adalah Anggota Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Johan Singandaru, yang menyebut kondisi new normal ditunggu betul oleh pedagang kecil, UMKM, dan para pengusaha di DKI Jakarta serta wilayah penyangga. "Bulan Juni bulan bekerja kembali dengan memenuhi protokol kesehatan. Saya setuju dengan hal itu. Sebab, kondisi usaha saat ini tengah mengalami penurunan tajam sampai dengan 50 persen lebih. Akibat daya beli masyarakat yang drop sehingga industri menurunkan produksinya," terang Johan, belum lama ini. (https://m.wartaekonomi.co.id)

Bentuk dukungan para pengusaha kepada kebijakan penguasa tidak lain karena dorongan kapitalis, yang hanya ingin mengikuti tren global agar dapat bersaing dikancah Internasional. Semua nya dilakukan demi keuntungan para pengusaha meski mengorbankan keselamatan nyawa rakyat. 

Namun disisi lain, jika kebijakan ini diterapkan akan menimbulkan terjadinya masalah baru, alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang kedua mengintai di depan mata. Karena belum ada kejelasan konsep dan perangkat yang memadai. Akibat nya ada beberapa ahli, baik ahli kesehatan atau ahli media menyatakan penolakan kebijakan ini, karena dirasa terlalu dini jika diterapkan di Indonesia. Mengingat temuan kasus baru terus meningkat.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurutnya pemerintah terlalu gegabah jika memutuskan new normal dan di Indonesia pun belum memenuhi syarat-syaratnya. "Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Dua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB, sebutnya. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal". (https://m.merdeka.com). Beliau pun menilai bahwa syarat-syarat tersebut belum terpenuhi.

Disini jelas, tuntutan segera dilakukan nya kebijakan new normal menegaskan bahwa pemerintah lepas tangan untuk mengurusi rakyatnya. Rakyat dibiarkan beraktifitas diluar, menanggung urusan nya sendiri, dengan bertaruh nyawa hidup berdampingan bersama virus yang mematikan. Seleksi alam dengan sendiri nya menyertai kehidupan rakyat. Yang kuat imunitas tubuhnya tetap hidup, yang lemah kekebalan tubuh nya bisa jadi akan mati ditelan masa. Mati urip sak karepmu!

Sangat bertolak belakang dengan tanggung jawab yang diberikan negara islam (khilafah) kepada rakyatnya. Islam adalah agama paripurna. Semua aspek kehidupan pasti ada dalam islam, islam tidak berlepas tangan dalam masalah apapun, termasuk pentingnya memelihara satu nyawa. Karena islam bukan sekedar agama ritual tapi juga agama politik, yang mampu mengurusi urusan manusia.

Dalam islam nilai satu nyawa itu sangat berharga dan begitu tinggi. Ushul Fiqh pun memasukkan nyawa dalam kategori "Al-Dharuriyat Al-Khamsah", 5 perkara primer yang wajib dipelihara. Artinya, nyawa seseorang tak boleh dihilangkan tanpa ada alasan yang jelas dan dibolehkan syara'. Dan itu berlaku bagi muslim dan non-muslim. 

Allah berfirman dalam QS Al Maidah: 32,

مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

WallahuA'alam bi Ash-showab
banner zoom