Takwa yang Mampu Membawa Keberkahan

Oleh: Mariyani Dwi (Komunitas Setajam Pena)
 
Penamabda.com - Sungguh tak terasa sudah, tamu istimewa yang hanya datang setahun sekali ini telah baranjak pergi meninggalkan kita. Ya Ramadhan namanya, bulan yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan, rahmat, berkah, serta hidayah. Sungguh sangat merugi orang-orang yang menyia-nyiakan bulan yang agung ini. Bahkah Allah SWT akan memberikan gelar taqwa bagi siapa yang menjalaninya dengan keikhlasan serta pengharapan hanya pada Allah AWT.

Berbicara tentang takwa, maka sungguh masih banyak dari kita yang keliru dalam memaknai dan mengartikannya. Seperti yang dikatakan kepala negara kita, saat beliau mengomentari tentang penanggulangan wabah yang tengah terjadi. Dilansir dari tempo.co, ketika memberi sambutan dalam acara "Takbir Virtual Nasioanal dan Pesan Idul Fitri" dari Masjid Istiqlal beliau menyatakan bahwa Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan sabar dan tawakal, maka sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, rezeki, dan juga hidayah. Artinya dalam menghadapi suatu wabah atau bencana kita harus ikhlas, tawakal dan takwa. Pun seperti yang diungkapkan Wakil Presiden, Bapak Ma'ruf Amin. Ia meminta masyarakat untuk lebih bersabar di tengah pandemi wabah, ia menyakini Indonesia dapat menang melawan virus tersebut.

Sekilas memang tidak ada yang keliru dari ungkapan-ungkapan kedua Bapak kita yang terhormat. Namun perlu kita garis bawahi disini, cukupkah kita hanya bersabar, ikhlas, dan tawakal serta takwa dalam menyelesaikan suatu masalah? Bukankah kita diperintakan untuk berusaha dan berikhtiar didalamnya? Maka jika kita sudah berikhtiar, sudahkah ikhtiar kita serta berbagai tindakan yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT adalah berpijak pada hukum syariat yang tetapkan? Bukankah keduanya harus ada kesinambungan, omong kosong jika kita bersabar, ikhlas, tawakal, dan takwa sedangkan segala tindak tanduk kita justru bertentangan dengan hukum-hukum yang telah Allah tunjukkan, dan justru memilih hukum-hukum selainya. Seperti melakukan lockdown atau karantina wilayah saat terjadi suatu wabah misalnya,  yang manahal ini telah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi kita, juga telah diperkuat dengan dalil yang pasti. Namun alih-alih demikian, pemerintah menolak hal ini dengan dalih perekonomian dan lainnya. Sehingga wabah menjalar tidak karuan seperti saat ini, pun perekonomian justru diambang krisis, karenanya kembali rakyatlah yang dikorbankan.

Setelah hal ini semua terjadi pemerintahpun tidak sadar-sadar juga, bahwa kebijakan- kebijakan yang diambil dari selain barsandar pada hukum-hukum Islam hanyalah membawa pada kahancuran dan murka Allah SWT semata. Kini saatnya pemerintah kembali pada hukum-hukum Allah dan melakukan taubatan nasional serta membuang hukum-hukum buatan manusia yang selama ini menjadi rujukan mengelola bangsa.

Kata takwa barasal dari kata waqo yang artinya melindungi. Maka takwa sesungguhnya haruslah mampu melindungi seorang muslim dari marah, murka, dan hukuman Allah SWT. Takwa adalah sikap kehati-hatian seorang muslim dari menjalankan dan meninggalakan segala perintah dan larangan yang dapat mengakibatkan datangnya murka Allah SWT. Maka seorang muslim akan selau ingat bahwa segala apa yang dikerjakan pasti dimintai pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, seorang pemimpin Islam akan selalu menerapkan hukum-hukum Allah SWT dan memperjuangkan agar tetap tegak di muka bumi ini. Salah satunya yang tercermin dari periayahan seorang penguasa kepada rakyatnya, pemimpin Islam akan memenuhi segala kebutuhan rakyatnya. Seperti sandang, pangan, papan, juga hak- hak lainya yaitu kesehatan, pendidikan, dan keamanan.

Pemimpin Islam akan menyelesaikan persoalan negara dengan merujuk dari cara-cara yang telah diteladankan oleh Nabi atau melakukan ijtihad untuk persoalan-persoalan baru yang digali bardasarkan Al-Qur'an, sunnah, ijmak sahabat, dan qiyas.

Maka penerapan hukum-hukum Islam secara keseluruhan yang dibarengi dengan kesabaran, keikhlasan, ketawakalan itulah yang dapat disebut sebagai takwa. Bukan hanya teselesainya suatu masalah yang dihasilkan dari buah ketakwaan, melainkan juga rahmat, hidayah, dan berkah, serta ampunan Allah SWT akan meliputi negeri ini.

Wallahu a'lam bisshowab.
banner zoom